
Pertanyaan macam apa itu, Agam merasa tidak suka karena seolah pertanyaan itu mengandung kata perpisahan.
"Dengarkan aku, semua akan baik-baik saja. Dan banyak yang sudah menunggu kita di surga," ucap Agam. Sepertinya dari awal dia sudah salah memberikan pernyataan tentang dirinya.
"Bukan surga tapi rumah," lanjutnya kemudian.
"Rumah?" tanya Theor.
"Di sana keluarga kita menunggu," tambah Agam.
Theor melengkungkan bibirnya, membentuk senyum simpul yang manis sekali. Dari perkataan Agam itu, sudah menjawab pertanyaan sebelumnya.
Bahwa laki-laki itu adalah ayahnya.
Hujan semakin deras yang membuat yang ada di medan perang basah kecuali raja iblis itu sendiri.
Walaupun begitu, pasukan Bavaria tetap melawan.
"Kalian semua harus mati!" Raja iblis menggunakan kekuatannya untuk membunuh para kesatria suci.
Bukan hanya itu, para penyihir yang mencoba membantu juga berakhir mengenaskan.
Semakin banyak yang mati, kekuatan raja iblis semakin meningkat. Dan hal itu tidak boleh terjadi.
"Bukankah kita harus bergerak?" Arnette sudah tidak sabar lagi. Dia mulai duluan menyerang sang raja iblis.
__ADS_1
Di belakangnya ada para penyihir suci yang membentuk perisai pertahanan.
Itu adalah pengalihan saja sesuai rencana Agam.
Arnette harus bisa menahan raja iblis itu selagi para penyihir putih menyebar di bagian mereka. Ketika semua sudah siap, rencana pun dimulai.
Saat ada monster terbang, satu portal terbuka lalu monster itu menghilang karena masuk ke dimensi lain. Dan para penyihir sudah menentukan tempat yang cocok untuk mereka.
Tempat yang bisa membuat para monster tidak bisa kembali dan mati di tempat itu.
"Ini akan berbahaya dan beresiko terjadi inkursi antar dimensi tapi semua sudah aku perhitungkan," ucap Ditrian.
Satu persatu monster sudah menghilang.
"Jadi, kalian menggunakan portal waktu? Itu sangat bagus, karena aku akan bisa menjelajah waktu untuk menghancurkan semuanya," Raja iblis akan menggunakan kesempatan itu untuk berpindah tempat dan mengincar lebih banyak mangsa lagi.
"Apa yang iblis itu lakukan?" gumam Agam.
Apapun yang terjadi, Theor harus siap.
Agam mencari Arnette untuk memintanya memberikan pedang sucinya pada anak itu.
"Percayalah padaku!" pinta Agam.
"Kau harus memastikan dia selamat!" Arnette mengajukan syaratnya.
__ADS_1
"Dan..."
Perempuan itu maju lalu mengecup bibir Agam dengan lembut.
"Senang melihatmu tidak mati," lanjutnya.
"Lain kali, lakukan pernyataan cinta dengan benar," komentar Agam dengan kekehan.
Bukan saatnya mereka bermesraan sekarang.
Agam harus membawa pedang suci itu pada Theor.
"Sial!" Agam mengumpat karena melihat raja iblis sudah berhasil merubah bentuknya menjadi sosok monster iblis yang sangat besar.
Bahkan satu kali injak saja puluhan kesatria sudah mati di bawah kakinya.
"Ukurannya terlalu besar," ucap Arnette yang semakin mencemaskan keadaan putranya.
Kalau pun Theor berhasil mendarat di kepala raja iblis, anak itu pasti kesulitan untuk menusuk jantung raja iblis itu.
"Jangan khawatir, Theor pasti tahu apa yang harus dia kerjakan," ucap Simon yang tahu isi kepala Arnette.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Arnette. Dia tidak tahu rencana selanjutnya.
"Selalu ada rencana cadangan, Kapten!" Simon membalas pertanyaan Arnette itu dan langsung menghilang karena ingin bergabung dengan para penyihir putih.
__ADS_1
Mereka tengah mempersiapkan diri untuk mengikat raja iblis yang bentuknya sudah menjadi monster itu.