
Setelah kepulangan dari rumah Simon, Agam mengalami mual dan muntah yang luar biasa. Entah karena dia sakit atau memang karena Arnette yang tengah hamil muda.
"Apa mas Agam patah hati sampai sakit begitu?" tanya Zester keheranan. Rasanya baru kemarin dia melihat Agam berusaha merayu Arnette tapi sekarang sudah ditinggalkan.
"Jangan mengganggu adik iparmu," ucap Megan memberi peringatan.
"Lebih baik kau menghiburnya!"
Megan memberikan teh hangat supaya Zester mengantar minuman itu pada Agam. "Aku akan membantu Ara mengurus bayi, ayah sedang keluar membeli obat untuk Agam, jadi kita harus bagi tugas!"
Dengan senang hati Zester akan memenuhi tugas dari ibu mertuanya.
Zester masuk ke kamar Agam dan melihat keadaan pemuda yang tengah terkapar di atas ranjang itu.
"Mas Agam..." panggilnya.
Sayup-sayup Agam mendengar suara Zester dan pura-pura tidur.
"Aku bawa teh hangat untuk menghibur laki-laki patah hati," lanjut Zester.
"Ayo sini abang ganteng suapi!"
__ADS_1
Memang ya, Zester selalu saja menggoda Agam bahkan dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
"Apa perlu digendong seperti Kai dan Jennie, eh tapi mas Agam sudah dewasa, tidak perjaka lagi..."
Agam akhirnya mendudukkan diri seraya memicingkan matanya. "Kakak ipar membuatku tambah mual!"
"Dan..." Agam buru-buru menutup hidungnya karena mencium bau bawang dari Zester. "Bau apa ini?"
"Kakak ipar bau bawang, iuhhhh...."
Zester merasa de javu karena mengingatkan dirinya saat Ara dulu hamil Kaizen, Ara juga mencium bau bawang.
Dari perkataan Zester itu membuat Agam semakin yakin kalau Arnette memang tengah mengandung anaknya.
"Aku harus menyusul istriku tapi aku kan mau try out," gumam Agam frustasi.
Dan memang Agam tidak bisa pergi begitu saja karena kekuatan teleportasi Simon belum bisa menembus dimensi Arnette.
"Pasti ada cara!" Agam terus memaksa. Dia pergi ke rumah Simon lagi dan meminta bantuan dari pemburu hantu itu.
Simon menghela nafasnya panjang, dia mengajak pemuda itu ke tempat ritualnya di mana dia menyimpan segala makhluk yang Simon sudah segel selama ini.
__ADS_1
"Aku memang beberapa kali berhubungan dengan iblis tapi kali ini berbeda," ungkap Simon.
Lelaki yang umurnya sudah ratusan tahun itu memberikan sebuah buku kuno pada Agam.
"Kau mau tahu apa alasanku menjagamu selama ini? Karena kau mempunyai stigma iblis," lanjutnya.
Agam pernah mendengar itu dari Arnette, dia ingin tahu lebih jauh dan Agam kembali terkejut saat tahu kalau dia adalah budak dari iblis.
"Kalau kau nekat mendatangi Arnette dalam kondisi sekarang, justru akan membahayakan nyawa Arnette dan anakmu karena secara otomatis kau adalah musuh mereka apalagi kalau segelmu terbuka," jelas Simon.
"Ti... tidak mungkin, kenapa hal ini harus terjadi padaku?" Agam tidak bisa menerima kenyataan ini.
Dia kembali mual dan muntah sampai lemas.
Kalau umumnya gejala itu dialami selama tiga atau empat bulan tapi Agam hanya mengalaminya tiga hari saja.
"Apa aku sudah tidak bau bawang lagi?" tanya Zester yang bingung karena Agam terlihat baik-baik saja.
"Iya tapi jangan terus menggangguku," ketus Agam. Pemuda itu sedang banyak pikiran dari ujian yang harus dia hadapi, ditinggalkan istri yang hamil dan caranya bisa membawa Arnette kembali.
"Bagaimanapun caranya, aku harus pergi!"
__ADS_1