The Red Moon

The Red Moon
Slide Story - Tini


__ADS_3

Tini sudah berada di kediaman Simon, awalnya memang hantu itu takut tapi sekarang Tini sudah terbiasa.


"Setidaknya kalau ada tamu hantu, aku tidak perlu menyiapkan makan," ucap Simon.


"Apa kau makan darah?"


Tini menggelengkan kepalanya. "Aku tidak boleh makan darah oleh Agam!"


"Kalau aku melakukan itu, energiku akan menjadi hitam dan mungkin akan terus mencari tumbal!"


"Jadi, kau tidak memakan bayi, 'kan?" tanya Simon memastikan.


Lagi-lagi Tini menjawab tidak, hantu itu memang hanya memilih untuk menjadi teman Agam saja.


"Kalau begitu, ceritakan masa lalumu supaya aku bisa membantumu tidak gentayangan lagi," pinta Simon.


Tini merasa ragu untuk menceritakan masa lalunya karena itu akan membuka luka dan energi sebelum dia meninggal seperti masih terjadi kemarin padahal kejadian itu sudah puluhan tahun lamanya.


"Kalau kau tidak mau bercerita biar aku saja yang mencari tahu sendiri," ucap Simon.


Sepertinya itu jauh lebih baik, jadi Tini diminta untuk duduk dan Simon mencoba membuka masa lalu Tini dengan energi dari hantu itu.


_

__ADS_1


20 tahun lalu...


"Tini.... Tini..." panggil seorang lelaki paruh baya seraya berlari mendatangi Tini yang tengah sibuk memetik sayur.


Tini waktu itu masih gadis ting-ting, gadis itu hanya tamatan SD dan harus bekerja karena ibunya yang sedang sakit keras.


Namun, penghasilannya selalu habis untuk membeli obat dan biaya sehari-hari, Tini tidak bisa keluar dari desa karena harus merawat ibunya.


Jadi, dia melakukan pekerjaan apa saja di desa yang bisa menghasilkan uang.


"Ada apa pakdhe?" tanya Tini.


"Kesini sebentar," Pakdhe Rudi ingin berbicara sesuatu yang serius pada gadis itu.


"Kau mau ibumu dirawat di rumah sakit?" tanya Pakdhe Rudi.


"Tentu saja mau," jawab Tini dengan cepat.


"Ini ada tawaran untukmu, bos pakdhe yang ada di kota meminta untuk mencari gadis," ucap Pakdhe Rudi.


Lelaki paruh baya itu memang seorang supir pribadi dari keluarga kaya yang ada di kota, pakdhe Rudi jarang pulang dan hari ini sengaja pulang untuk mencari Tini.


"Gadis untuk bekerja? Tapi, pakdhe tahu sendiri kalau aku tidak bisa pergi meninggalkan ibu," Tini ingin menolak tawaran itu.

__ADS_1


"Kalau kau mau ibumu akan dirawat sampai sembuh loh, Tin," ucap Pakdhe Rudi.


"Memangnya harus bekerja apa sih pakdhe," balas Tini penasaran.


Pakdhe Rudi berbisik di telinga Tini. "Hanya perlu jadi istri siri, hidupmu juga akan terjamin!"


"A.... apa? Istri Siri?" Tini langsung kaget mendengarnya. Dia selama ini sudah menolak lamaran beberapa bujang desa.


Bagaimana mungkin dia harus menjadi istri siri?


"Pikirkan keadaan ibumu, Tini. Kalau kau menikah dengan orang kaya, hidupmu akan enak," ucap pakdhe Rudi berusaha membujuk.


Dan Tini mulai terpengaruh karena kondisi ibunya memang memburuk.


"Tapi, aku mau kalau ibu langsung dirawat pakdhe," pinta Tini.


"Itu masalah gampang, yang penting kau mau dulu," balas pakdhe Rudi.


Akhirnya Tini menganggukkan kepalanya dan setuju dengan tawaran menjadi istri siri yang penting ibunya sehat.


Selang beberapa hari setelah pembicaraan dengan pakdhe Rudi itu, ada petugas kesehatan yang langsung mengevakuasi ibu Tini untuk dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan.


Ternyata calon suami Tini benar-benar menepati janjinya dan sekarang gantian Tini yang harus bersedia untuk dinikahi siri.

__ADS_1


__ADS_2