
Pasukan Bavaria melihat perubahan langit yang sebelumnya terang menjadi gelap, mereka langsung tahu kalau raja iblis sudah bangkit.
Kegelapan akan terus menyelimuti seluruh benua kalau raja iblis belum mati.
"Apa istana sudah tertutup secara total?" tanya Arnette pada salah anak buahnya.
Ternyata kaisar Erik menepati janjinya untuk memasukkan penduduk dalam istana dan memberi mereka perlindungan.
Beberapa anak buah Arnette yang memegang senjata modern juga sebagian melindungi mereka dari serangan monster dan pasukan Aragon.
"Apa aku bisa ikut bersama paman malaikat?" tanya Theor seraya memegang baju Agam.
"Tidak, kau harus bersama ibumu," jawab Agam. Dia merasa tubuhnya panas sedari tadi, pasti segel stigma iblisnya akan segera terbuka.
"Di mana sebenarnya Simon?" batinnya.
Dia membutuhkan pemburu hantu itu untuk mencabut kutukan iblis yang dia dapatkan dari bayi itu.
Namun, tanda-tanda kemunculan Simon belum ada.
Agam harus menjauh dari Theor atau dia akan menjadi ancaman anak itu. Dia berjongkok seraya mengusap kepala Theor untuk memberi pengertian.
"Datangi ibumu, mungkin aku akan menjadi tidak penurut lagi dan akan berbuat jahat," ucap Agam.
"Kenapa berbuat jahat? Apa paman malaikat tidak ingin kembali ke surga?" tanya Theor yang tidak mengerti.
__ADS_1
Agam meraih tengkuk Theor dan menyatukan kening mereka. "Kita pasti bisa pergi ke surga bersama!"
"Theor!" panggil Arnette dari tempatnya.
Anak itu perlahan menjauhi Agam dan berlari mendatangi ibunya. Seperti biasa, dia akan berada di gendongan punggung Arnette.
Kali ini ada pengikat di antara mereka supaya Theor tidak jatuh.
"Ibu, apa aku berat?" tanya Theor yang merasa menjadi beban Arnette.
"Seberapa pun beratmu, kau harus dekat denganku dan ini..." Arnette memberikan batu kristal sihir waktu pada Theor. "Kalau semua tidak berjalan sesuai rencana, kau harus pergi!"
"Pergi ke mana?" tanya Theor meragu. "Aku tidak mau pergi tanpa ibu!"
"Memangnya ayahku ada di mana?" tanya Theor.
Arnette tidak menjawab tapi dia melirik ke arah Agam yang tampak gelisah, bukan waktu yang tepat untuk memberitahu Theor bahwa pemuda itu adalah ayahnya.
"Bendera Aragon sudah terlihat!" teriak salah satu anak buah Arnette yang mendekat memakai kuda.
Waktunya untuk menggunakan senjata yang telah dibawa oleh Agam.
Pertama pasukan pengebom untuk membuat pasukan Aragon mundur.
Arnette dan Theor mengamati dari menara di atas.
__ADS_1
Sementara Agam mengarahkan pasukan bersenjata.
"Tembak tanpa ragu!" perintah Agam.
Walaupun tubuhnya memanas dan kesadarannya mulai berkurang, pemuda itu harus memastikan semua berjalan sesuai rencana.
Ketika bom-bom sudah diluncurkan, pasukan Aragon terlihat panik karena mereka mengira pasukan Bavaria mendapat bantuan dari langit dengan perantara Theor.
"Jangan lengah, ini baru permulaan," gumam Arnette yang sudah siap dengan pedang di kedua tangannya.
Saat amunisi habis, dia akan turun ke bawah sana.
Untuk kali ini, pasukan Bavaria yang unggul karena banyaknya pasukan Aragon yang mati.
"Bagus!" Agam tersenyum puas tapi dia rasanya sudah tidak bisa mengendalikan diri lagi.
Tubuhnya semakin panas dan dia merasa mendapat bisikan dari raja iblis.
Kau harus membunuh anak itu!
Seketika stigma iblis Agam langsung bercahaya dan segelnya terbuka.
Kini pikiran Agam sudah sepenuhnya dikuasai raja iblis.
__ADS_1