The Red Moon

The Red Moon
TRM BAB 81 - Para Bocil


__ADS_3

Karena takut istrinya sakit, Agam langsung memeriksakan Arnette ke rumah sakit.


Namun, ketika pemeriksaan Agam mendapat kabar bahagia. Ternyata istrinya tengah mengandung.


"Apa?" Arnertte merasa tidak percaya. "Memangnya bisa hamil kalau setiap hari minum pil kontrasepsi?"


"Dasar pil penipu!"


Arnette jadi kesal sendiri tapi dia juga mengingat beberapa kali lupa minum pil kontrasepsi, konon katanya hal itu membuat rahim justru subur.


"Apa kau tidak suka dengan kehamilan ini, istriku?" tanya Agam. Dia bisa melihat ekspresi kesal Arnette setelah mendengar kabar kehamilannya.


"Bukan seperti itu, kehamilan ini sangat di luar rencana," balas Arnette.


Agam sebenarnya juga belum siap apalagi dia masih kuliah dan mungkin tiga tahun lagi baru lulus.


"Tidak apa-apa, kita akan menjalani semua bersama, aku sudah bersyukur karena istriku juga bekerja," ucap Agam.


Walaupun Arnette mendapatkan uang, perempuan itu memberikan semua uangnya untuk Agam karena tidak tahu harus membeli apa.


Namun, Agam menyimpan uang Arnette dengan baik. Biarpun Arnette terlihat keras tapi sebenarnya perempuan itu polos, Arnette tidak tertarik dengan apapun kecuali Agam dan Theor.


Arnette menerima tawaran film karena dia kadang merindukan pasukan perangnya.


"Bagaimana kalau uangmu kita gunakan untuk membangun kelas akting action, istriku?" tanya Agam.

__ADS_1


"Sekolah khusus untuk kelas akting dan action," tambah Agam supaya istrinya mengerti.


"Jadi, kau tidak perlu berakting lagi tapi justru menjadi guru. Seperti kau yang mengajari Theor!"


Arnette langsung setuju, sebenarnya dia tidak suka di depan kamera dan disuruh-suruh oleh sutradara seenaknya.


Jadi, kehamilan kedua ini, Arnette lebih sibuk untuk membangun kelas aktingnya.


"Ibu, teman-temanku ingin masuk ke kelas akting ibu kalau sudah resmi jadi nanti," ungkap Theor.


"Benarkah? Ini awal yang sangat bagus, aku pasti bisa mencetak para kesatria," balas Arnette.


Theor tertawa, dia jadi mengingat masa lalu. "Tapi, kita bukan hidup di dunia perang lagi, bukan?"


"Tentu saja tidak, anggap saja semua ini adalah hobi," balas Arnette. Dia lebih suka di dunia Agam karena bisa lebih banyak bersantai.


"Memangnya orang tuanya mengizinkan?" tanya Arnette meragu.


...***...


"Apa?" tanya Ara pada putranya ketika meminta izin untuk mengikuti kelas akting Arnette. "Coba bicara pada daddy!"


"Lagipula, gedungnya masih dibangun pasti Kai sudah masuk sekolah dasar saat gedungnya sudah benar-benar bisa digunakan!"


Kaizen merasa kalau Zester tidak akan mengizinkan anak itu ikut kelas akting.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Ara.


"Tidak apa-apa," jawab Kaizen cepat.


Anak itu berlari ke belakang rumah untuk mencari anak tetangganya.


"Shiren..." panggil Kai di jembatan penghubung di antara dua rumah itu.


Tak lama seorang gadis kecil keluar dengan membawa hasil gambarnya.


"Kai, aku baru selesai menggambar pemandangan," ucap gadis kecil bernama Shiren itu.


"Pasti gambarnya jelek, lebih baik kita ikut kelas akting dan kau harus meminta izin pada daddyku," Kaizen ingin menggunakan Shiren supaya diizinkan.


"Kenapa harus aku yang meminta izin?" tanya Shiren.


"Supaya kita bisa ikut kelas bersama," jawab Kaizen.


Karena masih polos, Shiren menuruti permintaan Kaizen itu. Ketika Zester pulang, gadis kecil itu berbicara dengan pria bule yang menjadi teman papanya.


"Uncle, Kai ingin ikut kelas akting dan memintaku untuk meminta izin," ucap Shiren jujur.


Tentu saja Kaizen langsung berlari ke kamarnya karena takut, dia kurang briefing jadi Shiren mengatakan apa adanya.


"Kenapa kau menuruti perintah Kai? dia itu cuma modus supaya bisa lebih banyak menghabiskan waktu denganmu," balas Zester yang mengerti kalau Kaizen menyukai Shiren dari orok.

__ADS_1


_


Kangen bocil2ku ini🤭


__ADS_2