
Pokoknya Zester masih tidak terima, dulu dari pacaran sampai mau menikah rasanya dia begitu dipersulit oleh restu tapi Agam sangat berbeda.
Agam boleh menikah bahkan saat belum lulus sekolah sekarang justru mempunyai anak yang jauh lebih tua dari anaknya.
"Ini sangat tidak adil, ayah mertua," protes Zester pada Theo.
Saat ini mereka tengah berbicara enam mata bersama Agam di belakang rumah.
Di belakang rumah pak kades ada gazebo yang biasanya dibuat tempat bersantai.
"Kondisi Agam berbeda dengan Ara dulu," balas Theo membela diri.
"Tapi tetap saja ini tidak adil, untuk bisa melamar Ara saja aku harus menculik istriku dulu," Zester harus menerima keadilan.
"Jadi, kau mau mengulang waktu begitu? Kau tidak tahu yang dihadapi Agam untuk membawa anak dan istrinya kembali, kau mau melawan raja iblis?" tanya Theo.
"Raja iblis? Bagaimana bentuknya?" Zester jadi ingin tahu.
"Bentuknya seperti monster dan ukurannya sebesar sawah ayah," jawab Agam.
__ADS_1
Zester langsung merinding mendengarnya. "Jangan jadikan itu alasan, ayah mertua memang tidak suka padaku, 'kan?"
"Padahal aku selalu berusaha menjadi menantu idaman," tambahnya.
Theo mendengus kasar, menantu bulenya itu memang haus akan pengakuan.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menggunakan jasa menantu idamanku," ucap Theo kemudian.
"Benarkah?" Zester mengguyar rambutnya. "Aku memang menantu yang bisa diandalkan!"
"Kau bertugas untuk membuat akta kelahiran Arnette dan Theor," ucap pak kades pada menantunya itu.
"A... apa?" Zester merasa salah dengar. "Kenapa aku selalu kebagian tidak enaknya?"
"Untuk pesta pernikahan bisa dilakukan saat Agam lulus sekolah dan terpaksa kita menggunakan budhe Juminten untuk menyebarkan gosip kalau Agam menikah dengan janda anak satu," lanjutnya.
Pupil mata Zester membesar, dia menatap Agam dengan kening mengerut dalam.
"Are you okay?" tanya Zester.
__ADS_1
Agam menganggukkan kepalanya. "Sepertinya itu cara yang tepat untuk menutup masa lalu anak dan istriku, aku ingin memberi kehidupan baru pada mereka, biarlah hanya kita yang tahu dari mana mereka berasal!"
Awalnya Zester merasa kalau keadaan sungguh tidak adil tapi melihat situasinya sekarang, lelaki itu merasa bersyukur dengan apa yang dia miliki sekarang.
Memang mendapatkan Ara penuh dengan penantian dan kesabaran tapi semua sekarang sudah terbayar.
"Aku pasti akan membantu," ucap Zester. Dia tidak akan iri lagi pada Agam justru dia merasa kasihan karena adik iparnya akan dicap menikahi janda beranak satu setelah lulus sekolah.
Zester segera mencari istrinya yang baru saja menidurkan Jennie dan Kaizen di kamar.
"Yank..." bisik Zester seraya memeluk Ara dari belakang.
"Ada apa ini?" Ara jadi curiga kalau suaminya selalu bertindak impulsif seperti itu.
"I love you," ucap Zester. Bibirnya mengecup pundak Ara yang terekspos setelah menyusui.
"Aku merasa menjadi pria paling beruntung hari ini," tambahnya.
Ara tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya tapi satu yang dia yakini kalau Zester mendapat pelajaran hidup setelah berbicara pada ayah dan adiknya.
__ADS_1
"Setiap orang pasti mempunyai jalan ceritanya sendiri, jadi jangan pernah iri terhadap pencapaian seseorang karena kita tidak tahu apa yang telah dilalui orang itu sampai di titiknya sekarang," ucap Ara.
"Ya, aku mengerti. Aku pasti akan membantu adik ipar yang malang," balas Zester.