
Sebelumnya, setelah pergi tanpa kabar, Tini bekerja di sebuah toko kue. Gadis itu bekerja di dapur jadi tidak pernah keluar dari toko sama sekali.
Pemilik toko juga memberinya kamar yang berada di toko itu.
Awalnya Tini tidak pernah berbicara kalau tengah hamil tapi setelah beberapa bulan bekerja barulah terlihat perut Tini yang lama-kelamaan membuncit.
"Apa kau hamil, Nak?" tanya pemilik toko.
Akhirnya Tini menceritakan apa yang terjadi pada dirinya pada pemilik toko itu, walaupun tidak setuju dengan Tini yang memilih pergi dengan keadaan hamil tapi pemilik itu menghargai keputusan Tini.
"Kita harus tetap memeriksakan keadaan bayimu," ucap pemilik toko yang cemas karena merasa perkembangan kehamilan Tini sangat lambat.
"Mungkin karena badan saya kecil jadi perutnya tidak terlihat besar apalagi ini kehamilan pertama," balas Tini yang merasa baik-baik saja.
Namun, pemikiran itu salah karena nyatanya Tini mengalami gangguan kehamilan ketika diperiksa.
Pilihannya hanya menggugurkan bayi atau mempertahankan dengan resiko tinggi.
Tini memilih tetap mempertahankan bayinya dan menahan kesakitan yang dideritanya. Kalau dia kembali pada Pram, gadis itu yakin tetap menjadi pilihan kedua.
Sejak saat itu Tini tidak pernah percaya dengan yang namanya cinta sejati.
__ADS_1
Semua akan pergi meninggalkan dirinya satu persatu.
"Saat bayiku lahir nanti, tolong berikan pada ayahnya," ucap Tini seraya memberikan alamat yang sudah dia tulis.
Sebenarnya pemilik toko sangat ingin memberitahu keadaan Tini lebih awal pada Pram tapi mereka berada di kota yang berbeda dan Tini tidak bisa ditinggal sendirian.
Tini melahirkan lebih cepat dari perkiraan, gadis itu mengalami pendarahan hebat dan menutup mata untuk selamanya tanpa melihat keadaan bayinya.
Bayi laki-laki itu lahir dalam keadaan sehat dan pemilik toko merawatnya sampai seminggu.
Setelah itu sesuai dengan permintaan terakhir Tini, bayi itu diserahkan pada ayahnya.
Semua rekaman cctv dikumpulkan ketika bayi Tini diletakkan di rumah utama Pram.
Dan terlihat seorang wanita yang sudah tidak muda lagi meletakkan bayi di depan pintu, kebetulan pintu gerbang sedang terbuka karena satpam yang pergi membeli rokok.
Sepertinya wanita tua itu sudah mengawasi sebelumnya.
"Cepat cari wanita tua itu sampai ketemu!" perintah Pram kemudian.
Karena pemilik toko berada di kota lain membutuhkan waktu untuk menemukannya.
__ADS_1
Pram tidak karuan selama proses pencarian Tini sementara Maia jadi sibuk mengurus bayi, dia tidak punya waktu untuk cemburu lagi.
"Tuan, kami sudah berhasil menemukan wanita tua itu!" lapor sang asisten.
Tanpa babibu lagi, Pram langsung mendatangi pemilik toko untuk menanyakan keberadaan istrinya.
Bagaimana mungkin Tini lari ketika hamil dan melahirkan sendirian seperti itu.
Pram sudah siap memarahi istrinya tapi kenyataan pahit harus dia dapatkan, hal yang sama sekali tidak dia bayangkan.
"Kemana kita?" tanya Pram ketika pemilik toko membawanya ke area pemakaman.
"Bukankah anda ingin melihat istri anda?" pemilik toko berhenti di sebuah makam yang masih basah.
"Tini mengalami gangguan kehamilan tapi tetap memilih melahirkan dengan mempertahankan bayinya!"
Tubuh Pram langsung terjatuh dan air matanya keluar tanpa bisa dibendung lagi.
Dan hal itu bisa dilihat Tini karena gadis itu mengikuti Pram dari suaminya datang ke toko kue sebelumnya.
Tini ingin menyentuh Pram tapi tidak bisa dan hal itu membuatnya sedih luar biasa. Dia tidak bisa mati dengan tenang karena banyak hal yang belum tersampaikan.
__ADS_1