The Red Moon

The Red Moon
TRM BAB 30 - Menerima Kenyataan


__ADS_3

"Minggu depan kita akan menghadapi try out jadi persiapkan diri dengan baik," ucap wali kelas memberikan pengumuman sebelum pulang sekolah.


"Baik, Bu," para murid kelas 3 di kelas itu menjawab dengan kompak.


Namun, hanya Agam saja yang tidak menjawab dan tampak lesu. Dia tidak berkonsentrasi karena terus memikirkan Arnette yang pergi.


Seharusnya Agam senang karena bisa terlepas dari Arnette tapi dia justru tidak tenang apalagi jika perempuan itu sampai hamil.


"Aku kan juga ayahnya tapi kenapa dia pergi begitu saja?" kesal Agam seraya menggebrak meja.


Tiba-tiba Tini muncul dari belakang dan berbisik pada pemuda itu.


"Belum tentu dia hamil jadi jangan membuang waktumu," Tini mulai menghasut.


Tidak mau berdebat dengan Tini, Agam bergegas ke parkiran sekolah untuk mengambil motornya.


Namun, Tini sudah duduk di jok belakang motor Agam begitu saja.


Sekarang Agam yang jadi cuek pada Tini.


"Sebenarnya kau mau ke mana?" tanya Tini yang duduk di belakang. Sepertinya Agam tidak pulang ke rumah pak kades.


"Kalau kau terus bicara lebih baik pergi sana!" Agam justru mengusir Tini karena kesal.


"Aku mau menabrakkan diri dan kecelakaan!"

__ADS_1


"Apa?" Tini tentu saja jadi kaget. "Kenapa melakukan hal seperti itu?"


"Bunuh diri itu tidak enak apalagi gentayangan seperti aku!"


"Siapa juga yang mau bunuh diri, aku ingin memancing pemburu hantu supaya keluar," ungkap Agam.


Dan Agam benar-benar akan menabrakkan dirinya sendiri untuk memancing Simon keluar tapi yang ada justru dia berpindah tempat.


Dalam sekejap mata Agam sudah sampai ke rumah Simon dengan kekuatan teleportasinya.


"Apa yang sebenarnya kau inginkan?" tegur Simon.


Agam dan Tini terkejut karena sudah berada di rumah pemburu hantu itu dengan masih duduk di atas motor.


"Percuma, kau tidak akan bisa pergi karena sudah aku segel," ucap Simon.


Tini otomatis bersembunyi di belakang Agam karena takut dimasukkan ke dalam botol.


"Seharusnya kau yang melindungiku seperti biasanya," gerutu Agam. Sungguh Tini sangat merepotkan hari ini.


Agam memberanikan diri untuk mendekati Simon di sana. "Jangan pergi seperti sebelumnya!"


"Ini rumahku, bagaimana aku bisa pergi," balas Simon.


"Intinya aku ingin bicara jadi jangan menghindar lagi," tegas Agam.

__ADS_1


Simon tidak punya pilihan atau Agam akan terus membahayakan dirinya sendiri. "Baiklah!"


"Apa hubunganmu dengan istriku?" tanya Agam to the point.


"Hubungan kami tidak sedekat itu, yang jelas Arnette sudah merampok hartaku," jawab Simon.


Sekarang Agam jadi tahu dari mana Arnette bisa mendapatkan semua persyaratan yang dia minta.


"Kau pasti tahu apa tujuan istriku menikahiku," cecar Agam.


"Sepertinya kau sendiri juga sudah tahu, Arnette ingin anak darimu," balas Simon.


"Baiklah, aku akan menerima alasan itu tapi kenapa harus aku?" tanya Agam. Dia ingin tahu lebih jelas.


"Karena anakmu yang akan bisa menyelamatkan dunia Arnette," jelas Simon.


"Hanya anak yang lahir di bulan merah yang bisa menusuk jantung raja iblis dan portal waktu memilihmu!"


"A... apa?" Agam tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


Simon melihat jam di pergelangan tangannya. "Arnette adalah pelintas waktu dan diantara dimensi satu dengan yang lainnya terjadi paradoks waktu. Mungkin kau hanya merasakan satu hari kehilangan Arnette tapi dia sudah merasakan satu bulan atau bahkan lebih!"


Mendengar itu, Agam semakin syok, dia merasa mual seketika.


"Sepertinya Arnette sudah hamil," komentar Simon.

__ADS_1


__ADS_2