
Maia semakin cemas pada Pram apalagi Tini tak kunjung keluar dari ruang kerja suaminya itu.
"Apa jahe hangatnya tidak manjur?" gumam Maia.
"Sudah aku bilang kan seharusnya ke dokter!"
Akhirnya perempuan itu memutuskan untuk menyusul Tini.
Ketika Maia akan membuka handle pintu, dia mendengar suara-suara erotis dari dalam sana.
Dan Maia sangat tahu suara apa itu, bodohnya dia ingin memastikan dengan mata kepalanya sendiri.
Perlahan dia membuka pintu dan matanya langsung tertuju pada dua anak manusia yang tengah bercinta di atas sofa.
Maia hanya bisa mengepalkan kedua tangannya dengan menahan tangis, selama sebulan ini dia sudah berusaha keras untuk berubah menjadi istri yang baik. Dia bahkan tidak pergi ke kantor dan menghandle pekerjaannya di rumah saja.
Namun, semua itu tidak cukup karena Pram tetap memilih Tini.
Tini sendiri tidak sadar kalau Maia sudah melihatnya yang sekarang bergerak di atas tubuh Pram.
Inilah permintaan yang sebelumnya ingin diminta Tini pada Maia. Dia ingin menghabiskan waktu bersama Pram karena Tini sangat merindukan suaminya.
Sebulan ini, Tini ingin menjaga perasaan Maia dan tidak ingin egois. Tapi, pertahanannya runtuh karena Tini tidak bisa membohongi dirinya sendiri yang ingin sentuhan dari Pram.
__ADS_1
"Belajar dari mana ini?" komentar Pram ketika Tini bergerak aktif di atas pangkuannya.
"Kan mas Pram yang mengajari semuanya," jawab Tini dengan nafas terengah-engah.
"Muridku sudah pintar," Pram memujinya.
Dan anehnya rasa mualnya langsung menghilang begitu saja berganti menjadi euforia kebahagiaan.
Tini ambruk di atas tubuh Pram ketika permainan mereka sudah selesai. Dia rasanya lelah dan akan terjatuh ke dalam kantuknya.
"Jangan tidur," ucap Pram mencegah.
Pram memperbaiki penampilannya dan Tini lalu membawa gadis itu ke kamarnya.
Namun, hal yang tidak terduga terjadi karena ada Maia yang mengemas barang-barang Tini di dalam sana.
"Ini sudah sebulan jadi Tini harus pergi!" Maia menjawab tanpa melihat Pram yang masih menggendong Tini.
Suara Maia itu mampu mengusir kantuk Tini, gadis itu langsung melepaskan diri dari gendongan suaminya.
"Aku pikir selama sebulan ini kau banyak belajar sesuatu, Maia," balas Pram.
Lelaki itu tidak mau melepaskan Tini dan membawa gadis itu keluar dari rumah utama.
__ADS_1
Ketika mereka keluar dari pintu, di dalam terdengar suara benda pecah dan rupanya Maia sengaja memecahkan gelas untuk melukai dirinya sendiri.
Para asisten rumah tangga yang sebelumnya bersembunyi jadi berteriak histeris karena nyonya mereka akan melakukan percobaan bunuh diri.
"Apa itu?" tanya Tini.
Pram langsung membalik badan dan masuk ke dalam lagi.
Melihat Maia yang bersimbah darah, Pram langsung menggendong istrinya itu untuk dibawa ke rumah sakit.
Keadaan begitu hektik sampai Pram tidak sadar kalau Tini juga ikut masuk ke dalam mobil.
Di rumah sakit, Maia langsung mendapat penanganan dan perawatan, keluarga besar Pram dan Maia juga datang.
Mereka semua berkumpul dan mencemaskan keadaan perempuan itu.
Tini hanya bisa bersembunyi dan melihat mereka dari kejauhan. Dari sini gadis itu mulai sadar akan posisinya yang sulit.
"Pakdhe, jemput aku ya, aku ingin bertemu ibu," ucap Tini yang menghubungi pakdhe Rudi.
Ibu Tini memang dirawat di rumah sakit lain jadi Tini harus pergi sekarang.
Di dalam perjalanan menemui ibunya, Tini hanya diam saja.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya pakdhe Rudi.
"Tidak apa-apa, apa ibu akan sembuh ya, Pakdhe?" Tini bertanya balik karena kondisi ibunya memang tidak mengalami perkembangan.