The Red Moon

The Red Moon
Slide Story - Tini


__ADS_3

Inilah yang tidak Pram suka, dia selalu dituntut oleh Maia dan diragukan masalah kesuburan. Padahal sebelumnya mereka sudah mengecek kesuburan dan keduanya dinyatakan sehat.


Kalau pun belum diberikan keturunan artinya belum rejeki.


Namun, Pram juga tidak seratus persen menyalahkan Maia karena perempuan itu juga mendapat tekanan dari keluarganya.


"Tapi, kalau sampai Tini hamil bagaimana?" tanya Pram balik.


"Kita sudah punya kesepakatan sebelumnya, Maia!"


Istri mana yang tidak sakit hati jika suaminya menikah lagi dengan perempuan lain, Maia merasa sudah banyak berkorban untuk Pram.


"Kau yang menginginkan hal ini terjadi, bukan?" tanya Pram lagi.


"Sebelumnya aku sudah berusaha memperbaiki hubungan kita, aku mengajakmu bulan madu dan menyuruhmu berhenti bekerja tapi kau menolak, justru kau menyuruhku menikah lagi untuk pembuktian," lanjutnya.


Memang benar dan Maia rasanya sangat menyesal apalagi Pram terlihat mulai menyukai Tini.


"Aku akan berhenti bekerja mulai sekarang dan mari kita habiskan waktu bersama, aku tidak akan mengeluh kelelahan lagi," ucap Maia kemudian.


"Apa menurutmu semudah itu sekarang? Lalu bagaimana dengan Tini?" balas Pram jadi gusar karena Maia bertindak sesuka hatinya.

__ADS_1


Pram lebih baik menemui Tini daripada harus adu argumen terus dengan perempuan karir seperti Maia yang selalu meninggikan egonya.


Padahal dari segi materi Maia tidak kekurangan sama sekali tapi karena mempunyai bisnis sendiri jadi perempuan itu bekerja siang dan malam tanpa memperhatikan suami dan biduk rumah tangganya.


Ketika dipermasalahkan tentang keturunan, Maia justru condong menyalahkan Pram.


"Pram..." teriak Maia memanggil suaminya.


Namun, Pram tetap memilih pergi untuk menemui Tini.


Pada saat itu, Tini tengah belajar membuat kue dari video yang gadis itu tonton.


Untuk mengusir kesepian, Tini banyak menonton video tutorial membuat kue. Dia merasa tidak punyak bakat selain di dapur jadi timbul niatan Tini untuk belajar membuat aneka kue yang bisa dia jual.


Ketika sibuk menghias kue, Pram datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.


"Kenapa tidak memberitahu? Saya belum mandi dan kotor," ucap Tini saat membuka pintu rumah.


Pram tidak peduli, dia justru suka aroma alami dari Tini. Dia memeluk istrinya itu dan rasanya kemarahan yang sebelumnya menggebu-gebu langsung hilang seketika.


"Kalau begitu, ayo mandi bersama!" ajak Pram.

__ADS_1


Akhirnya pasangan itu bercinta lagi di dalam kamar mandi dan Pram menghabiskan waktu dengan Tini sampai keesokan paginya.


"Apa kau belajar membuat kue? Jika mau aku akan memasukkanmu ke kelas masak khusus untuk membuat kue," ucap Pram memberi tawaran. Dia tengah mengeringkan rambut Tini dengan hair dryer.


Wajah Tini sedari tadi merona karena merasa berbunga-bunga.


Setiap ada Pram, dia seperti diperlakukan seperti seorang putri di cerita dongeng dan Tini merasa menjadi wanita paling beruntung.


"Bagaimana?" tanya Pram seraya mensejajarkan wajahnya dengan Tini karena gadis itu tidak menjawab tapi justru senyum-senyum sendiri.


"Bo... boleh," Tini akhirnya menjawab dengan canggung.


"Kalau begitu nanti akan diatur oleh sekretarisku," ucap Pram. Dia sudah selesai mengeringkan rambut Tini.


Sebelum pergi, seperti biasa Pram akan berpamitan dan Tini akan memeluknya.


Tini melihat kepergian Pram dari jendela sampai mobil lelaki itu menghilang dari pandangannya.


Namun, beberapa menit kemudian Tini mendengar suara mobil lagi, dia pikir kalau itu adalah mobil Pram yang kembali.


"Apa itu mas Pram?" Tini buru-buru membuka pintu.

__ADS_1


Bukan Pram yang Tini lihat tapi seorang perempuan cantik yang sudah berdiri di depan pintu.


__ADS_2