The Red Moon

The Red Moon
Slide Story - Tini


__ADS_3

Rey berlari ke kamar ayahnya berada, di sana ada Maia yang menangis sesegukan.


"Ma, aku akan menyiapkan mobil!" seru Rey yang jadi panik.


Namun, Maia justru menahan niatnya itu.


"Kemarilah!" pinta Maia supaya pemuda itu duduk bersamanya dengan Pram.


Rey perlahan mendekati kedua orang tuanya, sepertinya ada sesuatu yang serius.


"Ada apa, Ma?" tanyanya.


Sebelum bercerita, Maia menguatkan hatinya karena tidak mudah bagi dirinya untuk membuka rahasia yang selama ini terus ditutupi.


"Rey, sebenarnya ada satu hal besar yang selama ini kami sembunyikan darimu, mungkin sudah waktunya kau tahu tentang kebenaran ini dan semoga setelah kau tahu, tidak ada yang berubah di antara kita..." Maia mulai membuka suaranya.


Perempuan yang sudah tidak muda lagi itu menceritakan dari awal bagaimana biduk rumah tangganya bersama Pram dahulu sampai ada Tini di antara mereka.


Dengan besar hati Maia mengakui kesalahannya dan mencoba memperbaiki dengan membesarkan Rey seperti anak kandungnya sendiri.


Setelah mengetahui kenyataan itu, Rey tidak bisa berkomentar apa-apa, dia tidak menyangka kalau ternyata bukan Maia ibu kandungnya selama ini.


"Rey..." panggil Pram yang juga merasa bersalah.


"Maafkan papa yang tidak bisa menjaga ibumu, setiap melihat matamu aku selalu teringat dengan Tini," lanjutnya.


Rey harus bisa bersikap dewasa menghadapi masalah kedua orang tuanya. Walau ada rasa kecewa tapi selama ini dia sudah cukup bahagia.

__ADS_1


"Apa aku boleh melihat wajah ibuku?" tanya Rey.


Maia membuka laci nakas yang terdapat foto Tini, foto lama yang dibingkai dengan baik.


"Lihatlah," ucap Maia.


Rey menatap foto Tini itu dan mengusapnya. "Terima kasih ibu, sudah melahirkan aku di dunia ini, walaupun kita tidak sempat bertemu tapi kau adalah wanita yang kuat dan aku bersyukur dilahirkan olehmu!"


Tini bisa melihat itu semua, akhirnya anaknya tahu kalau dia adalah ibu kandungnya.


"Rey, jaga mamamu dengan baik setelah ini karena papa akan menyusul ibumu," ucap Pram yang merasa waktunya sudah tiba.


Jangan ditanya bagaimana perasaan Rey dan Maia saat mendengar Pram berbicara seperti itu, perasaan mereka campur aduk tapi harus berusaha tetap tegar.


"Maia..." panggil Pram lagi pada istrinya itu. "Maafkan aku selama ini sudah banyak membuatmu kecewa!"


Maia menganggukkan kepalanya dengan air mata, hatinya sudah ikhlas sepenuhnya jika Pram pergi daripada melihat lelaki itu tersiksa fisik dan batinnya.


"Pergilah Pram! Aku dan Rey baik-baik saja di sini," ucap Maia tulus.


Akhirnya Pram bisa pergi dengan tenang seolah beban yang selama ini dipikulnya selama ini menghilang.


"Tini..." panggil Pram ketika melihat Tini yang menunggunya.


Gadis itu masih sama seperti dulu dan Pram langsung memeluknya.


"Aku sudah menunggu, ayo pergi bersama!" ajak Tini.

__ADS_1


Mereka memang tidak bisa bersama di dunia tapi mereka pergi bersama dengan bahagia dengan bergandengan tangan dan saling menggenggam satu sama lain.


Simon melihat keduanya dengan menengadah ke atas. Sekarang tugasnya sudah selesai.


...***...


Rey berkunjung ke makam Pram yang di sampingnya juga ada makam Tini.


Dulu Pram membongkar makam Tini untuk dipindahkan ke makam keluarga dan lelaki itu sudah mempersiapkan makamnya kelak di samping istrinya itu.


Kini keinginan Pram sudah terwujud dengan bersebelahan bersama Tini.


"Apa kau ingin menikmati waktu sendiri?" tanya Maia.


Rey menggelengkan kepalanya. Dia menggandeng tangan Maia untuk pergi bersama.


Berbulan-bulan kemudian, Rey datang menemui Agam yang ternyata satu kampus dengan dirinya.


Rey mengetahui Agam karena lelaki itu acapkali berkunjung ke makam Tini setelah tahu hantu itu sudah tenang bersama suaminya.


"Jadi, kau anaknya Tini?" tanya Agam. Dia langsung memeluk pemuda itu. "Ibumu sangat berjasa padaku!"


"Ceritakan padaku mengenai ibu!" pinta Rey.


"Ibumu adalah tukang contek terbaik," ucap Agam membanggakan sosok Tini.


..._...

__ADS_1


...TAMAT...


__ADS_2