The Red Moon

The Red Moon
TRM BAB 67 - Kekuatan Budhe Juminten


__ADS_3

Arnette terbangun karena mendengar suara berisik, suara yang tidak pernah didengarnya sebelumnya.


Dia tidur dipelukan Agam semalaman dan pemuda itu masih tenggelam dalam lautan mimpi.


Arnette memandangi wajah Agam sejenak, dia masih tidak percaya akan menyerahkan diri pada pemuda yang bahkan belum lulus sekolah itu.


Tangannya mengelus wajah Agam, anak pak kades itu memang sangat tampan.


"Apa anak yang lahir di bulan merah memang setampan ini?" gumam Arnette dalam hatinya.


Rupanya elusan Arnette mampu membangunkan pemuda itu.


Agam langsung menangkap tangan Arnette yang mengelus wajahnya. "Apa kau menyukai wajahku?"


"Tidak juga," Arnette dengan cepat menarik tangannya. Dia malu karena ketahuan mengamati wajah Agam.


Bagi Arnette mereka sudah tidak bertemu selama lima tahun lebih, entah bagaimana status mereka sekarang, sebelumnya sesuai perjanjian pernikahan mereka hanyalah pernikahan seminggu.


"Sebentar lagi aku akan ujian setelah lulus baru kita adakan pesta pernikahan, aku ingin membawamu dan Theor ke kota, di sana aku akan kuliah dan Theor bisa sekolah," ucap Agam yang sudah memikirkan rencana selanjutnya.


"Aku akan menunjukkan hal baru pada kalian, kalau aku sudah punya uang banyak kita bisa jalan-jalan ke luar negeri," lanjutnya menggebu-gebu.

__ADS_1


"Apa kau tidak akan menyesal menghabiskan hidupmu bersamaku dan Theor?" tanya Arnette. Dia sadar diri jika sebelumnya sudah memaksa pemuda itu untuk memiliki anak.


"Kenapa menyesal? Kau adalah istriku dan ada anak diantara kita, jadi aku tidak akan menyesal. Seperti yang aku bilang sebelumnya, Theor bukanlah anak untuk alat membunuh raja iblis," balas Agam yakin.


Arnette mengubah posisi di atas Agam, pemuda itu benar-benar membuatnya gila dan hilang kendali.


"Kau membuatku jadi ingin menidurimu," ucap Arnette seraya menunduk.


Perempuan itu ingin mencium Agam tapi lagi-lagi Arnette mendengar suara aneh dari luar.


"Apa itu?" tanya Arnette.


"Seperti suara mainan," jawab Agam.


Theo mengajari cucunya untuk bermain dengan remote kontrol dan Theor sangat excited karena baru melihat mainan seperti itu.


"Apa ini mainan surga, Opa?" tanya Theor.


Sedari tadi, Theor selalu menyebut hal yang baru pertama kali dilihatnya adalah surga. Pasti ini adalah ulah Agam.


"Nanti lama-lama cucu opa pasti akan mengerti," balas Theo. Dia jadi takut salah bicara.

__ADS_1


Pada saat itu, mereka mendengar suara pintu dan Theor melihat kedua orang tuanya keluar dari kamar.


"Ibu..." Theor berlari ke arah Arnette dan langsung memeluk perempuan yang membesarkannya sendirian selama ini. "Aku mencemaskan ibu!"


"Tidak perlu cemas," Arnette berjongkok dan membalas pelukan Theor. "Perang sudah berakhir dan kita akan tinggal di dunia ini!"


"Bersama ayahmu," lanjutnya.


Arnette melepas pelukan Theor lalu menggendong anak itu. Mereka menatap Agam di sana.


"Dia bukan paman malaikat tapi ayahmu," ucap Arnette.


Akhirnya Agam mendapat pengakuan itu, dia mengambil alih gendongan Theor.


"Ayah?" Theor memeluk Agam sambil menangis, dia mengingat kata-kata Megan kalau boleh menjadi anak yang cengeng. "Kenapa tidak mengatakan dari awal?"


"Karena aku tidak mau membuatmu bingung," jawab Agam.


"Sekarang semua akan baik-baik saja, kita berada di tempat yang tepat sekarang, tidak ada perang dan tidak ada musuh yang mengincarmu lagi," lanjut Agam seraya mencium Theor. Lalu dia menarik Arnette ke pelukannya juga.


Megan jadi merasa terharu melihatnya, dia mencoba menahan air matanya yang mau terjatuh.

__ADS_1


"Bagaimana cara memberitahu semua orang?" tanya Megan jadi bingung.


"Kita akan menggunakan kekuatan lambe turah budhe Jumiten, sayang," balas Theo mengusap air mata istrinya.


__ADS_2