
Di sisi lain, Zester menepuk-nepuk bokong Kaizen yang tertidur di pangkuannya. Sementara Ara yang duduk di sampingnya tengah menyusui Jennie.
Mereka masih dalam perjalanan ke desa Suka Maju. Sebentar lagi mereka akan sampai.
Seperti biasa, mereka akan membawa dua mobil ketika bepergian jauh.
"Sudah aku bilang, kau tidak perlu ikut, Zee. Pekerjaanmu kan banyak," ucap Ara memecah keheningan.
"Tapi aku penasaran dengan anak Agam, Yank," balas Zester. Dia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri.
Apa benar anak Agam lebih besar daripada Kaizen dan Jennie?
"Bukankah ini tidak masuk akal," lanjutnya.
"Itulah kenapa aku memintamu tidak usah ikut selain kau sibuk, kau pasti akan banyak berkomentar," balas Ara.
"Aku janji akan menutup mulutku," ucap Zester membuat janji.
Seperti kata Megan sebelumnya, Ara sudah membelikan keperluan Theor.
Jadi, ketika mereka sampai baby sitter dan supir yang dibawa menurunkan semua barang-barang Theor itu.
"Ingat janjimu, Zee," ucap Ara berusaha mengingatkan sebelum mereka masuk rumah pak kades.
"Iya, Yank," balas Zester.
Pada saat itu, Kaizen baru saja bangun dan langsung menangis karena ingin digendong oleh Ara.
__ADS_1
"Semenjak ada Jennie, Kai jadi manja," ucap Ara.
Sekarang mereka oper anak yang membuat Zester jadi menggendong Jennie yang usianya masih jalan tiga bulan.
Zester masih mengingat jelas, waktu itu Arnette menyaksikan Jennie lahir tapi rasanya tidak masuk akal kalau anaknya jadi jauh lebih tua.
Namun, mengingat Agam yang selalu berhubungan dengan hal tak kasat mata dan dia pernah menerima kutukan impoten, tidak ada hal yang tidak mungkin.
"Kalian sudah datang!" Megan keluar rumah karena mendengar suara mobil. "Ayo masuk, kami sedang makan!"
"Pasti kalian kelelahan," tambahnya.
"Kai tidak mau jauh dariku setelah punya adik, Bu," keluh Ara.
"Pasti Kai takut mommy nya diambil adiknya, sini biar oma yang gendong," Megan mengambil Jennie dari tangan Zester.
Pada saat itu, Agam berada di meja makan, di sana Theor dan Arnette tengah menikmati makanan yang dibuat oleh Megan.
Keduanya tampak lahap makan, ini adalah makanan enak yang masuk ke perut mereka setelah selama ini makan seadanya.
Melihat itu, Agam jadi emosi lagi mengingat kaisar jahat yang telah menyia-nyiakan Arnette.
"Melihat mereka makan, aku jadi kenyang sendiri," gumam Theo seraya menatap putranya. "Setelah ini, kita harus bicara banyak hal, anak muda!"
"Aku tahu," jawab Agam.
Beberapa detik kemudian, Zester masuk dan ikut bergabung di meja makan.
__ADS_1
"Mas Agam..." panggil Zester menggoda adik iparnya.
Zester ingin menggoda Agam seperti biasanya tapi matanya terbelalak ketika melihat Theor.
"Yank..." lelaki itu mencari istrinya saking syoknya.
"Aku bilang apa," balas Ara yang masih berjalan masuk.
Ara melihat Theor, sebenarnya dia tidak kalah syok tapi sebelumnya dia sudah menguatkan hatinya.
"Apa ini yang namanya Theor?" tegurnya.
Perempuan itu mendekat sambil menggendong Kaizen.
"Ini sepupumu, panggil saja Kai," lanjut Ara.
"Kai?" Theor mencoba memegang tangan kecil Kaizen. "Hallo!"
Kaizen tertawa dengan mulutnya yang berceloteh tidak jelas.
"Apa kabar?" Ara lalu bertanya pada Arnette.
Arnette selalu kagum dengan Ara yang mengerti situasi, berbeda jauh dengan Zester.
Sampai sekarang saja, Zester masih tidak percaya, matanya menatap Theor lalu Agam secara bergantian.
"Perasaan baru saja adik ipar meminta tips caranya bercinta tapi kenapa sekarang dia mempunyai anak dengan cara express," batin Zester tidak terima.
__ADS_1