Tirta Jayakusuma: Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi

Tirta Jayakusuma: Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi
Menjadi Prajurit Kadipaten


__ADS_3

Dengan berbisik Tirta kemudian berkata pada Bayu dan Adnan.


"Coba kalian perhatikan pemukul slenthem yang di genggam pria tengah baya itu," kata Tirta.


"Lihatlah pemukul slenthem itu tinggal pentolnya saja, gagangnya telah hilang," terang Tirta.


"Benar juga ya.." Kata Bayu setelah memperhatikan sang pemimpin rombongan penari ini.


Demikianlah malam itu acara tayub pun tidak dilanjutkan kembali karena para warga telah pergi berlarian dan kembali ke rumah-rumah mereka karena ketakutan.


Hanya para pemuda dan orang-orang yang cukup berani saja yang tetap bertahan di halaman rumah Ki Demang.


Ki lurah Jagadenta kemudian telah mengalihkan pandangan ke arah orang orang yang masih bertahan ditempat ini.


Dia sudah mengenal seberapa kemampuan dari para pemuda yang baru saja di bentuk untuk menjadi para pengawal Kademangan dan memungkinkan mereka suatu saat bisa direkrut menjadi para prajurit Kadipaten Pati jika kadipaten Pati membutuhkan tenaga tenaga para pengawal Kademangan ini.


Kini pandangannya diarahkan kepada tiga pemuda asing yang kini pun telah berada di tempat itu dengan beberapa pemuda yang ditugaskan oleh Ki Jagabaya untuk mengawal tiga pemuda asing ini.


Ditatapnya wajah ketiga anak muda ini dengan seksama.


Selain pakaian mereka yang memang nampak asing bagi penglihatannya, tidak ada yang nampak istimewa dari ketiga pemuda ini.


kecuali pemuda sebesar tong yang dengan wajahnya yang penuh senyum ramah dan lucu.


Kemudian Ki Lurah Jagadenta pun mengalihkan pandangannya ke arah rombongan para penari tayub ini.


Rombongan para penari tayub ini terdiri dari empat gadis penari dan lima orang Nayaka.


Dan ketika memandang ke para Nayaka, hati Ki lurah menjadi Curiga.


Dari kelima orang pria ini kelimanya nampak tubuh yang cukup tegap. mereka seperti terlatih dalam olah kanuragan," batin Ki Lurah Prajurit ini.


Sedangkan sang pemimpin walaupun sudah terlihat agak tua akan tetapi tubuhnya pun terlihat cukup kekar dan cukup tegak menunjukkan bahwa tubuhnya terlatih cukup baik untuk bisa berbuat lebih. berbuat apa yang tidak bisa di perbuat oleh laki-laki biasa.


Walaupun nampaknya pria ini sering menundukkan wajahnya akan tetapi Ki lurah Jagadenta mampu melihat bahwa dibalik pandangan mata dari pria pemimpin rombongan penari ini terpancar sebuah kekuatan yang tersembunyi.


Akan tetapi Ki lurah Jagadenta tidak bisa sembarangan menyatakan kecurigaan nya ini.


Dan malam itu, para pria pun berjaga di panggung yang tadinya di gunakan sebagai panggung para penari tayub dan sebagian lagi dari para pemuda pengawal Kademangan Pucakwangi telah berkeliling padukuhan, menjaga dari segala kemungkinan yang bisa saja terjadi.


Tirta Jaya Kusuma, Bayu dan Adnan akhirnya pun telah tergabung di atas panggung ini dan dan berbicara tentang segala sesuatu dengan para prajurit dan juga Ki Lurah Jagadenta.

__ADS_1


Sementara itu di balik pintu rumah Ki Demang Pucakwangi.


Seorang gadis muda nampak memandang ke arah pemuda-pemuda yang tengah berbincang di atas panggung.


Pandangannya tertuju ada tiga orang pemuda asing yang belum pernah dilihatnya.


Ketiganya nampak sangat menarik perhatiannya terutama seorang pemuda tinggi dan agak kurus dengan pandangan mata yang sangat tajam.


Gadis ini adalah Rara Wulan. Putri kedua dari Ki Demang Pucakwangi.


Wajahnya bulat telur dengan mata bulat tajam penuh semangat hidup.


Pandangan matanya nampak terpusat kepada Tirta Jaya Kusuma.


"Eh, Mbak Ayu! Sedang ngintip siapa!" seru seseorang.


Suara ini telah mengejutkan Rara Wulan yang datangnya dari arah belakang tubuh gadis ini.


Alangkah terkejutnya gadis ini ketika tiba-tiba saja di belakangnya telah berdiri seorang pemuda tanggung bertubuh agak gemuk dengan wajah yang juga nampak ceria dan tersenyum-senyum ke arah gadis ini.


"Huh! Ngagetin saja kau adi," bisik Rara Wulan tidak ingin orang lain tahu bahwa dirinya sedang memperhatikan tiga pemuda asing yang sedang berbincang dengan ayahnya dan juga dengan Ki Lurah Prajurit.


Untuk mengalihkan perhatian pemuda tanggung yang ternyata adalah adik dari gadis ini, Rara Wulan kemudian telah berkata.


"Pakaian yang mereka kenakan begitu aneh tapi sangat indah," lanjut Rara Wulan.


"Memang sih Mbak Ayu...


Tapi... pemuda kurus tinggi itu nampaknya lebih menarik perhatian Mbak Ayu ketimbang pakaian yang mereka kenakan," kata pemuda tanggung ini sambil tersenyum ke arah Rara Wulan.


Dan tebakan dari pemuda tanggung ini sangat tepat dengan apa yang telah dipikirkan sang kakak.


"Eh..?" Seru Rara Wulan kaget bahwa rahasia hatinya bisa di tebak dengan tepat oleh adik laki lakinya ini.


Dalam malunya gadis ini kemudian telah mengusir adik laki-lakinya ini.


"Ah, sudah sudah ... Sama pergi!" usir Rara Wulan karena malu rahasia hatinya berhasil ditebak sang adik.


Sang adik kemudian telah pergi meninggalkan Rara Wulan dan kemudian ikut bergabung bersama beberapa orang yang sedang berbincang di atas panggung.


***

__ADS_1


"Sebenarnya, siapakah kalian ini?" Tanya Ki Lurah Prajurit, Jagadenta.


"Kami adalah cantrik cantrik yang di tugaskan guru kami untuk mencari pengalaman Ki Lurah. Dan kami sedang dalam perjalanan menuju Kota Kadipaten Pati." Lanjut Tirta.


"Kami ingin mengabdikan sedikit kemampuan kami pada Kadipaten Pati Ki." Sambung Adnan.


"Kami ingin menjadi Abdi Dalem Kadipaten!" Lanjut Adnan.


"Oh.. kebetulan sekali anak muda! Akulah yang bertanggung jawab terhadap pembentukan pasukan di wilayah ini.


"Aku ditugaskan oleh Ki Tumenggung untuk membentuk kesatuan prajurit yang terdiri dari anak anak muda di Kademangan ini." Kata Ki Lurah prajurit, Jagadenta.


"Para pemuda dari Kademangan ini sedang aku bentuk menjadi sepasukan pengawal Kademangan dan jika mereka sudah mumpuni dalam oleh keprajuritan maka mereka akan aku bawa ke Kadipaten Pati," terang Ki Jagadenta.


"Tapi anak muda, kalian ini seperti anak-anak bangsawan yang masih mentah dan kelihatan tidak pernah bekerja keras. Tubuh kalian nampak ringkih! Apakah benar kalian ingin bertekad mengadikan tenaga menjadi abdi dalem?" Kata Ki Lurah Jagadenta nampak meremehkan ketiga pemuda ini.


Mendengar perkataan dari ki Lurah Jagadenta, Bayu nampak tersenyum.


"Kami telah dididik dengan keras di padepokan Ki Lurah.


"Ki lurah bisa menguji kami besok apakah kami pantas bergabung dengan para pengawal Kademangan ini ataukah tidak," kata Bayu tetap dengan senyum lucunya.


"Baik, baik anak muda. kalian besok bisa mengikuti latihan keprajuritan bersama dengan para pemuda dari kademangan ini.


Demikianlah ketika kemudian hari mendekati dini hari mereka pun kemudian telah terlelap tertidur di atas panggung ini bersama dengan para pemuda yang lainnya.


Dan ketika kentongan dari sebuah langgar telah dipukul keras maka para pemuda yang tertidur di panggung ini pun satu persatu telah terbangun.


Beberapa anak muda telah kembali ke rumah mereka, sementara sebagian telah menuju ke langgar (mushola) yang letaknya tidak jauh dari rumah Ki Demang.


***


Pagi itu, ketika matahari telah setinggi tombak.


Para pemuda telah bersiap di halaman banjar padukuhan yang terletak di samping rumah Ki Demang Pucakwangi.


Para pemuda ini telah membentuk barisan.


Ada puluhan anak anak muda yang pagi itu telah datang di halaman banjar ini.


Para pemuda ini bertelanjang dada dan memperlihatkan tubuh tubuh legam terbakar sinar matahari. Tubuh tubuh yang terlihat liat dan kuat. Tubuh yang setiap hari terbakar matahari karena mereka bekerja di sawah dan juga angon hewan peliharaan seperti kerbau dan juga sapi.

__ADS_1


Sementara diantara para pemuda ini terlihatlah tiga pemuda asing dengan pakaian yang juga asing bagi warga Padukuhan ini.


"Jika kalian ingin mengabdikan diri kalian di Kadipaten Pati, maka ikutlah peraturan yang aku tetapkan!" Kata Ki Lurah Jagadenta ketika lurah prajurit ini berada di dekat Tirta Jaya Kusuma, Bayu dan Adnan.


__ADS_2