
"Tapi Ki Lurah... Kami tidak terbiasa bertelanjang dada seperti mereka!" Kata Bayu.
"Tidak ada tapi-tapian anak muda. Jika kalian benar-benar ingin bergabung dan menjadi prajurit Kadipaten Pati, kalian harus melepaskan pakaian-pakaian kalian seperti para pemuda lain dari padukuhan ini!' Jawab Ki lurah prajurit tegas.
"Sudahlah Bay, kita lepaskan pakaian yang kita kenakan ini. Kita ikut bertelanjang dada!" Bisik Tirta Jaya Kusuma.
"Tapi kita tidak terbiasa bertelanjang dada di depan orang sebanyak ini dan dilihat oleh mereka semua," kata Bayu.
"Sudahlah Bay, kita ikuti aturan dari Ki lurah Jagadenta," kata Adnan pula.
"Baiklah, baiklah," gerutu Bayu seraya melepas pakaiannya sehingga seketika itu juga semua mata para pemuda yang tergabung dalam kelompok pengawal Kademangan Pucakwangi ini pun telah memandang mereka dengan wajah tersenyum.
"Wah nampaknya kita mendapat kawan seekor anak gajah!" Seru seorang pemuda.
"Iya, seperti Gudel saja!" seru yang lainnya.
(Gudel: anak kerbau)
Riuh lah para pemuda yang telah tergabung lebih dulu dalam pasukan pengawal Kademangan Pucakwangi.
Dan memang tubuh Bayu memang sangat besar, jauh lebih besar dari para pemuda dan mungkin lebih besar dari manusia terbesar sekalipun di Kadipaten Pati!
Perut Bayu ini sangatlah besar dengan pusar yang menonjol layaknya buah sawo saja.
"Pusarnya bodong!" Seru beberapa anak muda.
Bayu nampak malu sehingga telah menutupi pusarnya yang bodong dengan telapak tangannya.
Dan ketika kemudian Tirta jaya Kusuma telah membuka bajunya .
Seketika mereka semua kembali terdiam.
Walaupun tubuh Tirta Jaya Kusuma terkesan ceking dan tinggi akan tetapi ketika pakaiannya telah dibuka maka terlihatlah tubuhnya yang padat liat dan terlihat putih bersih jika dibandingkan dengan pemuda-pemuda ini.
Pemuda yang menjaga dirinya dengan baik dan rutin melakukan olah kanuragan sehingga telah membuat tubuhnya yang cenderung ceking ini terlihat berisi.
Terlihat tubuh ini berbeda dengan tubuh mereka yang terlihat hitam legam dan kasar.
"Pemuda ini seperti pemuda bangsawan, tubuhnya bagus.." Bisik beberapa pemuda kepada kawannya.
Yang lain hanya bisa memandang dengan kagum tubuh pemuda ini.
__ADS_1
Seorang gadis cantik dengan wajah yang berbinar-binar bersama dengan beberapa orang kawannya yang nampaknya juga telah melihat para pemuda ini berkumpul di depan banjar kademangan yang juga masih bersatu dengan halaman dari rumah Ki Demang nampak memandang dengan kekaguman terhadap tiga orang pemuda asing ini yang punya tubuh lebih bersih dan lebih putih dibandingkan pemuda-pemuda asli dari Kademangan Pucakwangi ini.
Walaupun di zamannya, Tirta Jaya Kusuma bukanlah seorang pemuda yang mempunyai tubuh yang putih akan tetapi di zaman ini, Tirta Jaya Kusuma memang telah menunjukkan tubuhnya yang memang bagus dan lebih putih dibandingkan para pemuda ini.
Ya, gadis ini adalah putri dari Ki Demang pucakwangi, Rara Wulan bersama kawan-kawannya.
"Lihatlah pemuda itu Wulan!" Bisik seorang gadis kepada Rara wulan.
Mereka memandang para pemuda ini dengan malu- malu dengan mencuri-curi pandang.
Sementara tangan- tangan mereka sedang mengupas ketela pohon dan beberapa gadis memotong-motong sayuran yang akan di gunakan untuk hidangan para anak muda yang sedang berlatih keprajuritan di halaman Banjar.
Setelah beberapa saat melakukan gerakan-gerakan untuk memanaskan tubuh, Ki lurah Prajurit Jagadenta telah memerintahkan pemuda pemuda ini yang telah dibentuknya menjadi beberapa kelompok kecil untuk berlari mengelilingi padukuhan.
Tirta, Bayu dan Adnan telah tergabung dalam kelompok ketiga yang ternyata dipimpin oleh seorang pemuda yang cukup menonjol di antara kawan-kawannya.
Pemuda ini adalah seorang pemuda yang cukup lincah dan terlihat ulet, hal ini sudah terlihat oleh Ki Lurah Jagadenta sejak pertama kali para pemuda ini dikumpulkan dan di latih untuk menjadi pengawal Kademangan ini.
Pemuda ini bernama Bango Putih. Nama ini pantas disematkan pada pemuda ini karena di antara para pemuda di padukuhan ini Bango putih lah yang mempunyai tubuh yang terlihat lebih bersih dan lebih terang dibandingkan kawan-kawannya.
Akan tetapi jika dibandingkan dengan Tirta Jaya Kusuma maupun Adnan, nampaknya masih terlihat sedikit lebih gelap.
Mereka kemudian berlari mengitari padukuhan ini dan kemudian mereka telah diajak untuk menuju Oro-oro Ombo untuk berlatih di sana.
"Heh, ayo lari! Jangan bermalas-malasan!" Seru Ki Lurah Jagadenta.
"Lihatlah itu! Pemuda gendut yang kalian tertawakan, yang mungkin kalian anggap lucu dan lemah! Dia mampu berlari sampai ke tempat ini tanpa terlihat lelah," lanjut Ki Jagadenta.
Ki lurah prajurit ini pun nampaknya diam-diam telah mengagumi kekuatan dari pemuda gendut ini.
Dengan tubuh sebesar itu ternyata Lowo Gemblung mempunyai ketahanan tubuh yang luar biasa.
Dia mampu berlari sama cepatnya dengan mereka mereka yang mempunyai tubuh normal dan kelihatan kuat.
"Luar biasa, ternyata pemuda yang terlihat seperti anak-anak manja seperti anak-anak bangsawan yang tidak pernah bekerja keras ini mempunyai daya tahan yang luar biasa," batin Ki Lurah Jagadenta.
"Siapakah mereka ini sebenarnya," batin Ki Lurah Jagadenta.
Sebenarnya lah Tirta telah memberikan pesan kepada kedua sahabatnya ini untuk menyembunyikan kekuatan mereka yang sebenarnya, kecuali dalam keadaan yang mendesak.
"Gunakan kekuatan kalian seperlunya kecuali dalam keadaan terpaksa," pesan Tirta pada dua sahabatnya ini.
__ADS_1
Dan ketika mereka semua sudah berada di Oro-oro Ombo, Ki Jagadenta kemudian telah memberikan pelatihan olah keprajuritan.
Dan dengan dasar-dasar kemampuan dari Lowo Ijo, Lowo Gemblung serta Si Lowo Cilik, tidak susah mereka untuk mengikuti latihan keprajuritan yang di berikan oleh Ki Jagadenta.
Walaupun Tirta sempat mempelajari berbagai gelar perang dari kitab Bumi Bantala Purwa, akan tetapi kali ini dia ingin mempelajari pula ilmu keprajuritan dari Ki lurah Jagadenta ini.
Hari semakin siang dan matahari pun semakin panas dirasa oleh Bayu.
Berkali-kali dia telah mengeluh kepada Adnan yang ada disampingnya.
Walaupun dia mampu mengikuti latihan ini, akan tetapi panas kali ini telah membuat tubuh nya yang telanjang harus merasakan teriknya sinar matahari.
Tubuhnya telah berkilat kilat karena keringat yang membasahi tubuhnya.
Untunglah ketika matahari telah tepat di atas kepala, Ki Lurah Jagadenta telah memerintahkan semuanya untuk kembali ke padukuhan.
Dan ketika mereka telah kembali ke banjar, ternyata banyak wanita padukuhan yang mempersiapkan makanan dan minuman bagi para pemuda yang tengah melakukan olah keprajuritan ini.
Dan diantara mereka tentu saja ada Rara Wulan Putri dari Ki Demang pucakwangi dan beberapa gadis lainnya.
Dan ternyata rombongan para penari tayub ini masih berada di Kademangan ini.
Mereka pun telah bergabung untuk makan siang di banjar padukuhan bersama dengan para pengawal yang barusan pulang dari berlatih keprajuritan dari Oro-oro Ombo.
Sementara beberapa wanita padukuhan telah melayani para pemuda dan diantara para wanita padukuhan, secara diam-diam Rara Wulan dan beberapa kawannya telah sengaja mendekat ke arah pemuda pemuda asing yang telah menarik perhatian mereka.
Mereka nampak berusaha mengambilkan makanan-makanan untuk Tirta jaya Kusuma.
Gadis ini memang telah sengaja mengambilkan makanan untuk Tirta jaya Kusuma, Bayu dan Adnan.
"Monggo Kang," kata gadis ini ketika telah berada di depan ketiga pemuda ini yang sedang melepas lelah sambil duduk di tritisan banjar.
Rara Wulan nampak menyodorkan nasi gandul dengan lauk daging kerbau.
"Eh, Lowo Ijo gak doyan daging," kata Bayu yang berada di samping Tirta dan menyerobot sepiring nasi gandul yang disodorkan oleh gadis ini kepada Tirta.
"Eh..!?," gadis ini kaget sehingga dia hanya bengong saja.
"Iya, ini buat aku saja Mbak Ayu," kata Bayu sambil nyengir kuda.
Untunglah pada saat itu di belakang gadis ini telah ada kawan-kawan yang juga membawakan beberapa makanan di tangan-tangan mereka.
__ADS_1
Rara Wulan pun kemudian telah mengambil piring di tangan kawan-kawan yang ada di belakangnya dan kemudian memberikan kembali kepada Tirta jaya Kusuma.
Tapi kali ini, kembali Si Lowo Gemblung ini telah membuat ulah...