
Sesaat kemudian dua orang pemuda nampak berjalan cepat menyusuri jalanan kota kadipaten Pati.
Dua orang pemuda yang satu terlihat jangkung akan tetapi mempunyai gerakan yang sangat gesit sementara yang seorang lagi adalah seorang pemuda yang bertubuh lebih pendek.
Dalam keadaan seperti akhir-akhir ini, kota Kadipaten Pati berada dalam kewaspadaan penuh.
Kanjeng Adipati Pragola melalui para pembantu setianya telah memerintahkan kepada segenap warga kota kadipaten untuk mempersiapkan diri mereka!
Mempersiapkan diri jika ada para penyelundup maupun para telik sandi dari Mataram ataupun dari pihak-pihak yang sengaja mencari keuntungan dalam keadaan seperti ini.
Banyak sekali para prajurit yang bertugas mengelilingi kota.
Demikian juga di tiap-tiap perkampungan yang dilewati oleh dua orang pemuda ini banyak sekali para penjaga dan pengawal padukuhan yang berjaga-jaga di tiap-tiap regol padukuhan.
Setelah berjalan sekian lama dengan cepat dan terkadang berlari di sepanjang jalanan jika keadaan sedang sepi maka kini mereka telah mendekati satu wilayah yang berada di pinggiran kota Pati sebelah barat.
Kedua orang pemuda ini pun kemudian telah berjalan santai untuk menghindari kecurigaan dari orang-orang yang berpapasan dengan mereka walaupun seringkali orang-orang yang tengah meronda telah menanyakan kepada mereka berdua tentang tujuan dari mereka.
Namun mereka telah dapat memberikan jawaban yang tepat apalagi memang pemuda yang lebih kecil nampaknya menguasai benar logat orang-orang Pati sehingga para peronda maupun prajurit yang mereka jumpai pun tidak menaruh kecurigaan terhadap mereka berdua.
"Kita sudah mendekati wilayah Margorejo Kakang," bisik pemuda kecil.
"Menurut orang-orang ku, rombongan dari para penari Tayub itu berada di bawah lindungan Tumenggung Jayaraga."
"Dan aku kira mereka pastilah berada di sekitar papan Katumenggungan. Dan aku dengar mereka berada di Pakuwon yang terletak di tidak jauh dari tempat Tumenggung Jayaraga."
"Dan beberapa kali aku diajak oleh Romo mengunjungi kediaman Tumenggung Jayaraga."
"Dan aku tahu pasti bahwa pakuwon yang biasa dipergunakan untuk menerima para tamu penting dari Ki Tumenggung Jayaraga berada di luar Kediaman Ki Tumenggung." kata si pemuda kecil.
__ADS_1
"Ada beberapa bangunan yang letaknya beberapa ratus tombak dari tempat Ki Tumenggung."
Seperti halnya tempat kediaman para Tumenggung yang berbentuk seperti beteng dengan pagar yang cukup tinggi dan regol yang terlihat kokoh kuat.
Kediaman Tumenggung Jayaraga juga merupakan sebuah bangunan yang sangat besar dengan dikelilingi oleh pagar-pagar yang tidak mudah untuk ditembus oleh orang asing.
"Selain penjagaan yang sangat kuat, pagar yang mengelilingi bangunan katumenggungan juga sangat tinggi dan tidak mudah untuk bisa dilompati oleh sembarang orang," terang pemuda kedua yang bertubuh agak kecil ini.
Pemuda yang tinggi jangkung hanya mengangguk pelan.
Kini di depan mereka tak terbentang sebuah komplek bangunan yang cukup besar dan luas, sementara di sekelilingnya juga terdapat berbagai macam bangunan besar dan kecil.
"Kita telah sampai Kakang," kata pemuda yang lebih kecil yang segera menghentikan langkahnya dan kemudian mengajak pemuda yang lebih tinggi untuk berlindung di balik sebuah pohon yang cukup besar yang berada di pinggir jalan besar yang melintasi komplek katumenggungan dari Ki Tumenggung Jayaraga.
komplek katumanggungan dari Tumenggung Jayaraga sendiri berada hanya beberapa puluh tombak dari jalan raya yang menghubungkan antara kota Pati Pesantenan dan Demak Bintoro, sehingga tiap orang yang melintasi jalanan ini pasti akan dengan mudah berada dalam pengawasan dari para prajurit yang berada di bawah Tumenggung Jayaraga.
Setelah beberapa saat mengamati dari kejauhan akan Pakuwon-pakuwon yang ada, nampaknya dua pemuda ini telah tertarik dengan sebuah Pakuwon yang berada di tengah-tengah di antara Pakuwon yang lain.
Di tempat tersebut yang merupakan sebuah bangunan berbentuk limasan dan bergaya Joglo terlihat cahaya penerangan yang masih menyala cukup terang.
Hal ini dapat dilihat dari pintu kupu tarung yang terbuka cukup lebar dimana beberapa orang pemuda dan juga nampaknya ada beberapa orang gadis penari yang sedang bercakap-cakap di dalam rumah tersebut.
"Nampaknya para rombongan penari tayub itu berada di pakuan itu Kakang Tirta," kata pemuda yang lebih kecil yang ternyata adalah Pandan Arum yang berpakaian ringkas seperti pakaian seorang laki-laki.
Gadis ini memang sengaja berpakaian seperti ini karena memang dia juga telah terbiasa berpakaian seperti ini ketika sedang bertugas sebagai seorang prajurit wanita.
Hal ini dilakukannya untuk tidak menimbulkan kecurigaan yang berlebihan dari orang-orang yang ditemuinya dan juga untuk lebih bebas melakukan pergerakan.
"Kita akan melihat mereka kakang, aku ingin tahu apa yang mereka kerjakan," bisik Pandan Arum di telinga Tirta Jaya Kusuma yang berjongkok di sebelahnya.
__ADS_1
Tirta hanya mengangguk menyetujui perkataan dari Pandan Arum.
Keduanya kemudian telah bergerak secara hati-hati. berdua mereka memutar melewati gerumbul-gerumbul dan semak-semak untuk menghindar dari pengamatan para prajurit yang berjaga karena bagaimanapun juga mereka berada di sekitar Beteng katumenggungan yang dipimpin oleh Ki Tumenggung Jayaraga.
Setelah bergerak cukup hati-hati akhirnya mereka berdua berhasil mencapai Pakuwon yang ditempati oleh para penari tayub.
Berdua Mereka kemudian telah mengintip ke dalam Pakuan di mana para penari tayub sedang bercanda dan berbincang dengan beberapa orang pemuda yang salah satu dari pemuda itu segera dikenali oleh Tirta Jaya Kusuma sebagai Raden Rangga.
Semetara di sebelahnya duduk seorang gadis cantik yang merupakan gadis tercantik dari rombongan penari tayub.
Gadis ini lebih banyak menundukkan wajahnya memandangi lantai.
Berbeda dengan gadis-gadis penari yang lain yang lebih terbuka dan bercanda dengan beberapa orang pemuda dan bahkan terlihat cukup berani untuk ukuran seorang gadis di jaman itu.
Gadis yang merupakan kembangnya penari tayub ini sangatlah pemalu dan cenderung menjaga jarak dan hal inilah yang membuat putra kesayangan Tumenggung Jayaraga ini semakin penasaran.
Sudah berkali-kali Raden Rangga berusaha melancarkan rayuan mautnya yang seringkali sanggup menaklukkan gadis gadis cantik di kota Kadipaten Pati ini. Akan tetapi nampaknya semua cara yang dipunyai oleh Raden Rangga untuk menaklukkan para gadis tidak mempan terhadap gadis ini.
Berbagai hadiah yang mahal harganya telah diberikan pada gadis ini akan tetapi gadis ini sepertinya tidak perduli dengan semua giwang, anting dan semua perhiasan yang diberikan oleh Raden Rangga kepada gadis ini.
Gadis yang merupakan kembang dari para penari tayub ini seperti burung merpati yang seakan-akan jinak akan tetapi ternyata sulit sekali untuk ditangkap.
Ketika sedang menari gadis ini seperti halnya para penari Tayub yang lain sanggup membuat adik para lelaki tergetar akan tetapi ternyata gadis ini sangat sulit untuk bisa ditaklukan oleh Raden Rangga.
Sementara itu satu persatu gadis-gadis penari ini telah memasuki kamar-kamar atau sentong-sentong yang memang banyak terdapat di Pakuwon ini.
Mereka telah mendapatkan pasangan masing-masing.
"Ayolah Nimas, temani aku malam ini , hanya malam ini saja, kata Raden Rangga yang nampaknya sudah mulai tidak sabar sementara di tangan kanannya masih memegang kendi yang nampaknya berisi minuman tuak yang terbuat dari legen.
__ADS_1