Tirta Jayakusuma: Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi

Tirta Jayakusuma: Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi
Pisowanan


__ADS_3

Sang Adipati berusaha mengetahui siapakah pemuda ini sebenarnya.


Kekuatan batinnya semakin besar berusaha menembus pertahanan batin dari sang pemuda.


Semakin terkejutlah Sang Adipati  mendapati kenyataan bahwa benar-benar masih ada jalur yang menghubungkan dirinya dengan pemuda ini.


Akan tetapi ada satu hal yang dia benar-benar tidak dapat menebak dengan pasti karena aura pemuda ini benar benar luar biasa.


"Anak muda, aku tahu engkau adalah seorang anak muda yang hebat anak muda yang dikirimkan oleh Tuhan  untuk menyelamatkan kami," kata sang Adipati dengan suara yang hanya di dengar oleh Tirta Jaya Kusuma.


"Sembah sujud kagem Kanjeng Adipati, memang Kanjeng  Pragolo seorang pemimpin yang luar biasa! Seorang pemimpin yang dicintai warga Kadipaten Pati ini."


"Namun eyang.. saya belum bisa matur siapakah saya sebenarnya. Asal usul saya sebenarnya, akan tiba saatnya bagi saya untuk menceritakan semuanya." Kata Sang Pemuda.


"Namun akan hamba gunakan seluruh jiwa raga ini untuk membela Pati dengan darah hamba ini.. darah Wasis joyokusumo." Lanjut Tirta Jaya Kusuma.


"Sak dumuk batuk sak nyari bumi! Rawe rawe rantas Malang Malang putung." Kata pemuda ini.


"Baiklah anak muda aku percaya kepadamu," kata Sang Adipati.


Beberapa saat kemudian di Pendopo Joglo Kadipaten Pati telah hadir para  Tumenggung serta para petinggi Kadipaten.


Setelah semuanya berkumpul di pendopo, maka sang Adipati yang  perkasa ini telah berdiri di hadapan para abdi dalemnya yang setia.


"Terima kasih, dukungan kalian benar-benar telah membuat membulatkan tekadku.


"Tadi utusan dari Mataram telah mengirimkan nawolo, telah mengirimkan perintah kepadaku untuk menghadap pada Pisowanan Agung di Mataram," kata Adipati Pragola.


"Ini adalah untuk kesekian kalinya Mataram mengirimkan undangan." Kata sang Adipati yang kemudian berhenti sejenak untuk melihat tanggapan dari para abdi dalemnya.


"Tapi seperti yang sudah berkali-kali aku tegaskan dan aku tekankan. Pati tidak berada di bawah Mataram dan Pati Pesantenan bukan Mataram." Lanjut Sang Adipati.


"Kami selalu menerima apa yang telah diputuskan oleh Adipati.


Bagi kami dan darah kami hanya untuk tanah ini,"  kata seorang Tumenggung yang duduk di sebelah Ki Tumenggung Sawunggaling.


"Semua Tumenggung, semua  tetap berada di belakang Adipati! Semua wargo nyengkuyung Kanjeng Adipati Pragolo!" Seru Ki Tumenggung Sawunggaling.

__ADS_1


"Dan memang benarlah apa yang telah diputuskan oleh Adipati bahwa Pati sejajar dengan Mataram," kata Ki Tumenggung Mangunjaya.


Masih teringat jelas dari cerita di masa lalu bagaimana panembahan Senopati dalam menghadapi lawan-lawannya.


Bagaimana sang panembahan Senopati telah mengalahkan lawan-lawannya itu dengan siasat-siasat yang menyalahi jiwa kesatria menyalahi paugeran (aturan).


Bagaimana cara mengalahkan mengalahkan Aryo Penangsang dengan siasatnya walaupun ada keikutsertaan Ki Penjawi dan Ki Ageng Pemanahan.


Akan tetapi semua atas petunjuk dan siasat Ki Juru Martani.


Dan bagaimana sang panembahan juga telah menumpas menantunya sendiri yang juga penguasa Mangir, Bagus Wanabaya karena mangir dianggap mbalela terhadap Mataram.


Sang panembahan telah menggunakan segala cara untuk melanggengkan kekuasaannya.


"Kita masih teringat semua akan masa lalu itu Adipati! Bisa saja jika Kanjeng Adipati menghadiri Pisowanan Agung itu maka nasib yang sama akan menimpa diri Adipati seperti bagaimana Bagus Wanabaya atau Ki Ageng Mangir telah dibunuh dengan keji oleh mertuanya, panembahan Senopati, ketika Bagus Wanabaya sudah menyatakan tunduk  kepada Mataram." Kata Tumenggung Kanduruhan.


"Benar Kanjeng Adipati! Kami sangat mencintai Kanjeng Adipati tidak akan kami biarkan Kanjeng Adipati menghadiri Pisowanan Ageng di Mataram." Lanjut Tumenggung Mangunjaya.


Demikianlah pada Pisowanan yang diadakan secara mendadak telah  berlangsung hingga larut malam, para Tumenggung, para Adipati, para pembesar dan para sesepuh dari Kadipaten telah sepakat untuk menyarankan sang Adipati supaya tidak menghadiri undangan yang merupakan undangan Pisowanan Ageng di Mataram.


Malam semakin larut ketika kemudian acara Pisowanan yang diadakan secara mendadak ini telah memutuskan bahwa sang Adipati tidak menghadiri undangan dalam acara Pisowanan  Ageng di Mataram.


Sang Sultan Agung Hanyokrowati adalah kakak kandung dari istrinya.


Dia sebenarnya tidak ingin mbalelo terhadap Mataram.


Akan tetapi apa yang terjadi sekarang ini berada di luar kehendaknya.


Sang Adipati dapat merasakan sebuah kekuatan di luar jangkauannya yang telah membuat keadaan berubah.


***


Ketika Pisowanan ini telah usai dan semuanya telah kembali ke tempat mereka masing-masing.


Tirta Jaya jaya Kusuma telah diperintahkan oleh Adipati paragolo untuk tetap berada di pendopo Joglo itu.


"Aku ingin berbicara denganmu anak muda tinggallah engkau di sini terlebih dahulu." Kata Sang Adipati.

__ADS_1


"Adi Sawunggaling, Biarlah anak muda ini untuk sementara berada di Kadipaten. Ada banyak hal yang ingin aku sampaikan dan aku bicarakan dengan anak muda ini." Lanjut sang Adipati.


"Njih Kanjeng Adipati, hamba mohon diri lebih dahulu, biarlah nanti seorang pengawal hamba tak berada di sini apabila urusan antara Kanjeng Adipati dengan anak muda ini selesai telah selesai maka biarlah dia kembali diantar ke tempat hamba," Kata Tumenggung Sawunggaling.


Sesaat kemudian Ki Tumenggung Sawunggaling pun telah meninggalkan Pendopo Joglo.


Kini di Pendopo Joglo hanya ada Adipati pragolo yang duduk di kursi kebesarannya dan Tirtajaya Kusuma yang duduk bersila di depan persis dari Kanjeng Adipati Pragolo.


Angin malam yang bertiup dingin, kesunyian yang menyelimuti tempat itu membuat suasana yang berbeda di antara keduanya.


"Siapakah namamu yang sebenarnya anak muda,' kali ini Adipati pragolo telah membuka pertanyaan kepada pemuda ini.


"Nama hamba yang sebenarnya adalah Tirta Jaya Kusuma," kata Tirta Jaya Kusuma sambi menyembah kepada sang Adipati.


Mendengar kata-kata Tirta Jaya Kusuma di belakang nama dari sang Pemuda, Adipati pragola pun terhenyak.


"Memang hamba adalah anak cucu keturunan dari Kanjeng Adipati."


"Keberadaan hamba di sini karena perintah dari Eyang Wasis Joyo Kusumo."


"Beliau bermaksud supaya hamba bisa meringankan penderitaan Kawulo Pati akibat  peperangan ini."


"Namun demikian apa yang telah digariskan oleh sang pencipta tidak akan bisa saya rubah."


"Apa yang harusnya terjadi tetap harus terjadi takdir yang sudah ditentukan oleh Allah tidak akan bisa dirubah oleh manusia." Ungkap pemuda ini.


"Benar apa yang kau katakan anak muda."


"Perangan ini cepat atau lambat akan membakar Kadipaten dan membumihanguskan Kadipaten yang telah aku bangun selama puluhan tahun."


"Akan tetapi aku tidak ingin mengecewakan rakyatku! Aku tidak ingin bumi ini diinjak-injak dengan semena-mena oleh orang-orang Mataram itu."


"Kami masih mempunyai harga diri dan kami pertahankan bumi Pati Pesantenan dengan darah dan jiwa kami."


Demikianlah pertemuan antara sang leluhur dengan Tirta Jaya Kusuma berlangsung.


Namun pemuda ini pun tidak ingin menyampaikan akhir dari cerita peperangan antara Mataram dan Kadipaten Pati ini.

__ADS_1


Biarlah semuanya mengalir dan terjadi sesuai dengan apa yang seharusnya terjadi.


__ADS_2