
Setelah beberapa kali menarik napas dalam dalam untuk melepaskan sesak di dadanya, Ki Rangga Jagadenta kemudian telah memerintahkan beberapa anak muda untuk melanjutkan pertarungan.
Dan Adnan pun telah mengikuti pertarungan ini.
Malam makin larut dan kabut tipis telah mulai turun.
Di kejauhan beberapa orang nampak mengawasi para pemuda yang tergabung dalam pengawal Kademangan.
"Nampaknya mereka telah mulai mempersiapkan para pemuda untuk menghadapi kita kang," kata seorang yang berpakaian serba hitam kepada seorang kawannya yang bertubuh kurus dan mengenakan ikat kepala.
"Benar adi, dan nampaknya salah seorang pemuda itu mempunyai kemampuan kanuragan yang sangat hebat," jawab pria yang mengenakan ikat kepala berwarna hitam sambil menunjuk ke arah Lokajaya yang ada di tengah Oro-oro Ombo yang telah menunjukkan kemampuannya.
"Dan juga pemuda gendut itu nampaknya pun bukan seorang pemuda yang sembarangan."
"Pemuda itu mampu mengimbangi pemuda yang lincah itu," kata pria kata pria berpakaian hitam.
"Kita harus menyampaikan hal ini kepada Kang Jagal dan Ki Rajeg Wesi!" Kata yang lainnya.
Mereka ini adalah anggota-anggota dari kelompok begal alas Kunduran.
Dan ketika latihan keprajuritan ini telah usai, dengan berhati-hati orang orang dari alas Kunduran telah beringsut dari semak belukar yang ada di pinggir sebelah selatan Oro-oro Ombo ini.
Sesaat mereka telah kembali menuju gua kelelawar, markas mereka.
Ketika mereka sampai di dalam Gua Lowo, mereka telah menjumpai ada dua orang yang tidak mereka kenal sedang berbincang dengan Jagal Alas Kunduran dan juga Ki Rajeg Wesi.
Orang orang ini segera mendekat kearah Jagal Alas kunduran.
"Kemarilah!" Seru Jagal Alas Kunduran begitu melihat ketiga anak buahnya yang telah di perintahkan untuk mengawasi orang orang Kademangan Pucakwangi.
"Segera laporkan apa yang kalian lihat dan apa yang kalian saksikan," kata Jagal Alas Kunduran pada orang-orang yang telah ditugaskan untuk memata-matai orang-orang dari Kademangan Pucakwangi.
"Kami telah menyaksikan mereka mulai mempersiapkan diri menghadapi kita Kang jagal!" Kata salah seorang yang bertugas mengawasi orang orang Kademangan.
"Jumlah mereka kini semakin banyak dan paling tidak ada sekitar tiga ratusan orang yang telah bergabung menjadi para pengawal Kademangan dan yang aku dengar mereka telah mulai diangkat menjadi prajurit-prajurit dari kadipaten Pati Pesantenan." Terang telik sandi para begal ini.
__ADS_1
"Dan ada hal lain yang sangat berbahaya Kang Jagal."
"Mereka telah bertambah kekuatannya dengan kedatangan seorang pemuda yang sangat kuat. Juga ada seorang pemuda yang punya tubuh yang besar dengan perut besar tong yang ternyata juga sangat kuat sekali," lapor anggota begal ini.
"Siap pemuda itu?" Tanya Jagal Alas Kunduran.
"Kami tidak mengetahui siapakah dia kang jagal akan tetapi pemuda gendut itu kami tahu bahwa dia adalah tiga orang pemuda asing yang telah memasuki Kademangan itu dan kemudian telah bergabung menjadi pasukan pengawal Kademangan."
"Hanya itu yang kami ketahui Kang," kata orang berpakaian hitam ini.
"Bagaimana kemampuan pemuda itu jika dibandingkan dengan aku?" tanya Sang Jagal.
"Jika dibandingkan dengan Kang Jagal, tentu saja lebih hebat Kang Jagal!" Kata orang ini.
Walaupun sebenarnya dia meragukan jawabannya ini akan tetapi dia tidak ingin membuat jaga lalas kunduran jadi marah kepadanya.
"Ha, ha ha.. !"
"Jika demikian tidak perlu ada kekhawatiran lagi!" Seru Jagal Alas Kunduran yang senang akan jawaban dari anak buahnya ini.
"Jangan gegabah Jebeng!" Kali ini Ki Rajeg Wesi telah menyela pembicaraan.
"Memang engkau perlu menyerang secepatnya, hal ini bertujuan supaya mereka tidak bisa mempersiapkan kekuatannya lebih matang lagi."
"Ketika mereka semakin kuat maka akan kesulitan bagi kita untuk menaklukkan Kademangan itu."
"Namun, engkau tidak boleh grusa grusu tanpa perhitungan!"
"Tugas kita adalah membuat pancatan bagi pasukan Mataram yang mungkin beberapa saat lagi akan melurug Kadipaten Pati."
"Kita harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang dan cermat Jebeng."
Mendengar perkataan dari sang eyang guru Ki Rajeg Wesi, Jagal Alas Kunduran nampak terdiam.
"Apa yang disampaikan oleh Ki Rajeg Wesi ada benarnya juga, Jagal," kata salah seorang dari dua orang tamu.
__ADS_1
Suaranya cukup tenang.
"Pergerakan ini tidak boleh gagal. Kalian harus bisa menguasai Kademangan Pucak Wangi secepatnya. Dan menurutku kalian harus mempersiapkan segala sesuatunya secara masak! Kalian sudah mengetahui berapa jumlah pasukan pengawal Kademangan itu! siapa siapa yang harus diwaspadai," lanjut tamu ini yang nampaknya cukup disegani oleh Jagal Alas Kunduran.
Dua orang ini sebenarnya adalah kakak seperguruan dari Jagal Alas Kunduran.
Berdua sebenarnya adalah perampok-perampok besar yang menguasai jalur yang menghubungkan Pajang dan Demak, akan tetapi kini keduanya telah mengabdi kepada seorang pejabat tinggi di kerajaan Mataram.
Sementara Ki Rajeg Wesi adalah kakek guru dari kedua orang tetamu ini pula.
Sebelumnya kedua orang tamu ini telah menyampaikan kepada Jagal Alas Kunduran dan juga Ki Rajeg Wesi bahwa mereka memang ditugaskan oleh salah seorang pejabat tinggi di Mataram untuk bisa membuka jalan menuju ke kadipaten Pati dan berusaha membuat pancatan di dalam wilayah kekuasaan Pati Pesantenan.
"Tugas kami adalah membuat Kadipaten Pati menjadi lemah dari dalam sehingga akan memudahkan pergerakan pasukan Wiratamtama yang akan bergerak dari Mataram!" Kata kakak seperguruan dari Jagal Alas Kunduran ini.
Pasukan Wira Tamtama dari Mataram adalah sebuah pasukan yang terkenal sangat hebat dan tidak pernah kalah dalam pertempuran-pertempuran besar.
Sebelumnya pasukan inilah yang digunakan oleh panembahan Senopati untuk menghadapi pasukan Arya Penangsang dari Jipang, juga untuk menaklukkan Madiun dan Surabaya.
Dan kelak pasukan ini pula yang diandalkan oleh Sultan Agung untuk menghadapi Kekuasaan VOC di Batavia yang semakin kuat pengaruhnya di bumi Nuswantara.
Pasukan Wira Tamtama adalah pasukan inti dari Mataram.
"Dan kami akan membantu kalian untuk menaklukkan Kademangan Pucak Wangi itu," kata salah seorang kakak seperguruan dari Jagal Alas Kunduran yang bernama Toh Sidono.
"Kita harus tetap berhati-hati dalam bergerak dan kita harus memastikan benar-benar kita mampu melibas para pengawal kedemangan Pucak Wangi itu," kata Kakak ke perguruan dari Jagal Alas Kunduran yang lain yang bernama Tohpati.
"Baiklah kakang! Kita akan mempersiapkan penyerangan kali ini cermat," kata Jagal Alas Kunduran setelah mendengarkan perkataan dari kedua kakak perguruannya ini dan juga Ki Rajeg Wesi.
Mereka kemudian telah membicarakan rencana penyerangan Kademangan pucak wangi dengan bersungguh-sungguh.
Mereka telah memperhitungkan kekuatan dari para pengawal padukuhan yang ternyata jumlahnya memang cukup banyak dan lebih banyak daripada anggota begal Alas Kunduran sendiri.
Namun satu hal yang memang sangat diyakini oleh Jagal Alas kunduran maupun kedua kasus perguruannya bahwa kekuatan dari pengawal Kademangan pucak wangi yang baru saja terbentuk masih sangatlah lemah dan pasti tidak akan mampu menghadapi anggota-anggota dari begal alas kunduran.
Apalagi ternyata Tohsidono dan Tohpati dalam perjalanan menuju ke Guo Lowo ini telah membawa pula bekas-bekas anak buahnya yang masih setia kepada mereka sewaktu mereka masih merajalela sebagai perampok dan begal yang sangat ditakuti.
__ADS_1