Tirta Jayakusuma: Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi

Tirta Jayakusuma: Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi
Pengalaman Baru


__ADS_3

Akan tetapi gadis cantik yang merupakan kembangnya para penari tayub ini hanya terdiam dan dengan halus selalu menghindarkan dirinya dari setiap gerakan tangan Raden Rangga yang berusaha untuk menyentuh jari jemarinya ataupun menyentuh bagian tubuhnya yang lain.


Hanya sedikit gerakan akan tetapi gadis ini mampu selalu menghindarkan dirinya.


Dalam hati, Tirta Jaya Kusuma segera menyadari bahwa nampaknya gadis ini mempunyai sesuatu yang lain di dalam dirinya.


Sebelumnya, sewaktu di halaman rumah Ki Demang Pucakwangi dalam pertunjukan tayub, Tirta belum begitu menyadari akan hal ini. Perhatiannya pada waktu itu lebih tertuju kepada pemimpin dari rombongan tayub ini yakni Ki Dipo.


Sementara Raden Rangga pun tidak begitu menyadari akan hal ini. Kesadarannya yang sudah mulai menghilang telah membuatnya kehilangan kewaspadaan dan ketelitiannya dalam memandang lingkungannya.


Sementara tangan-tangan halus dari gadis cantik penari tayub ini pun dengan lincahnya telah menuang kendi yang berisi air tuak ke dalam poci kecil sehingga poci itu tidak pernah kering dari air tuak yang terus mengalir di tenggorokan Raden Rangga.


"Monggo Raden," desis gadis ini dengan suara lembut mendayu membuat Raden Rangga tidak mampu menolak sodoran-sodoran poci yang selalu terisi air tuak sehingga semakin lama kesadaran dari Raden Rangga pun menjadi semakin tipis.


Sementara didalam bilik di kanan dan kiri ruangan tersebut telah mulai terdengar suara rintihan- rintihan kenikmatan dan juga suara berderitnya dipan bambu.


Suara khas bambu berderit karena menahan beban di atasnya.

__ADS_1


Hal ini tak lepas dari pendengaran Pandan Arum.


Gadis cantik putri dari Tumenggung Sawunggaling ini belum banyak pengalaman dalam hubungan antara pria dan wanita. Dia tadinya belum paham akan apa yang terjadi.


Akan tetapi secara naluri, Pandan Arum akhirnya memahami semua yang terjadi antara para penari ledek dengan anak-anak muda yang berada di sekitar Raden Rangga.


Ketika kesadarannya telah memahami akan semua yang terjadi maka di kegelapan malam telah menutupi wajahnya yang telah berubah menjadi merah padam. Nafasnya pun terasa menjadi berat. Dadanya berdegup kencang.


Ini adalah pengalaman pertama baginya mendengarkan dan menyaksikan bagaimana hubungan antara pria dan wanita.


Tirta yang berada di sampingnya tadinya tidak mengetahui apa yang terjadi dengan gadis ini.


"Ada apa Arum?" Bisik pemuda ini belum menyadari apa yang tengah terjadi pada Pandan Arum.


"Oh.. Emh.. Anu .. anu kakang," Pandan Arum terbata-bata menjawab pertanyaan dari Tirta Jaya Kusuma.


Gadis ini menjadi malu bukan main.

__ADS_1


Dan dalam kejutnya tanpa sengaja Pandan Arum telah menginjak daun kering yang banyak terdapat di tritisan rumah pakuwon ini.


"Srek..!"


"Siapa itu?" Terdengar suara halus dari dalam..


Ternyata gadis cantik penari tayub yang sedang sibuk melayani Raden Rangga telah mendengar suara gemratak daun kering yang terinjak oleh kaki Pandan Arum.


Gadis penari Tayub itu nampaknya mempunyai kemampuan pendengaran yang cukup tajam.


Sigap Tirta pun telah menggenggam jari jemari Padan Arum yang harus lembut dan membisikkan sesuatu pada Pandan Arum.


"Sst.. Tahan gerakan.. Jangan melakukan gerakan yg menimbulkan Kecurigaan," bisik Tirta Jaya Kusuma.


Gerakan Tirta yang lembut tanpa dilandasi oleh perasaan apapun. Hanya kehati hatian saja, ternyata telah menimbulkan rasa hangat di hati Pandan Arum.


Tirta Jaya Kusuma adalah seorang pemuda yang tidak mempunyai pemikiran yang tidak tidak. Dia adalah seorang pemuda sejati dan sudah sangat sering menghadapi gadis-gadis cantik sehingga dia lebih cenderung untuk bisa menahan dirinya.

__ADS_1


Akan tetapi tidak demikian dengan Pandan Arum. Gadis ini adalah seorang gadis lugu walaupun dia adalah seorang prajurit yang tangguh, putri dari Tumenggung Sawunggaling.


__ADS_2