Tirta Jayakusuma: Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi

Tirta Jayakusuma: Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi
Pertarungan di halaman rumah Ki Demang


__ADS_3

Namun setelah bertarung beberapa saat lamanya nampak sekali bahwa tandang dari Jagal Alas Kunduran ini benar-benar seorang pria yang liar dan ganas.


Setiap kali ayunan klewangnya telah disertai dengan ancaman yang mengerikan.


Tenaganya benar-benar sangat luar biasa kuat, dan teriakan-teriakannya telah mengguncang halaman rumah Ki Demang Pucakwangi.


Para penonton yang kebanyakan adalah warga sekitar Kademangan nampaknya sangat ketakutan melihat kejadian ini.


Tak disangka bahwa penjahat dari hutan Kunduran ini ternyata sangatlah hebat yang tidak mampu ditangani oleh sang lurah dari prajurit dari kadipaten Pati ini.


Semakin lama Ki Lurah Prajurit ini semakin terdesak hebat. Pelan tapi pasti langkahnya mulai berat sedangkan teriakan-teriakan dari Jagal Alas Kunduran yang nampaknya telah dilambari dengan kekuatan batinnya telah membuat para warga yang menyaksikan pertarungan antara kedua laki laki ini telah tergetar dada mereka dan ciut nyali mereka.


Benar-benar sebuah pertarungan yang membuat tiap jantung warga kademangan ini berdetak keras.


Apalagi ketika kemudian beberapa saat telah datang pula beberapa orang yang mengendarai kuda yang berwajah cukup liar dan sangar.


Kuda-kuda itu meringkik keras dan membelah kerumunan warga padukuhan utama kademangan ini.


Sontak warga Kademangan pun berlarian kesana kemari menyelamatkan diri mereka.


Wanita-wanita telah ketakutan dan menarik anak- anak mereka menjauhi tempat ini.


Hanya beberapa orang laki-laki yang merasa berani yang masih tetap bertahan di tempat ini.


Sementara itu Bayu yang sejak tadi merasa gatal tangannya tetap ditahan oleh Tirta Jaya Kusuma untuk tidak bergerak.


"Kita harus segera turun tangan Ta, kita tidak bisa melihat kesewenang-wenangan ini terjadi di depan mata kita," bisik Bayu.


"Sabar dulu Bay, pertunjukan masih belum selesai masih jauh dari selesai biarlah kita melihat perkembangannya lebih jauh," kata Tirta Jaya Kusuma tenang.


Mendengar perkataan dari sahabatnya ini Bayu pun nampak mengendurkan otot-ototnya yang mulai tegang.


"Kau lihatlah pemimpin dari rombongan kelompok tayub ini Bay!


Dia nampaknya bukanlah orang yang sembarangan.


perhatikanlah bagaimana sejak tadi dia tetap tenang walaupun salah satu penarinya telah hampir dilecehkan oleh Jagal Alas Kunduran itu," kata Tirta tenang.


Bayu segera mengarahkan pandangannya ke arah atas panggung di mana sang pemimpin kelompok tayub ini nampak dengan tenang mengawasi pertarungan antara sang lurah prajurit melawan Jagal Alas Kunduran .

__ADS_1


Adnan pun ikut memperhatikan pemimpin dari rombongan tayub ini.


Adnan segera menyadari apa yang disampaikan oleh Tirta ini benar.


Dari sorot mata sang pemimpin nampak sekali bahwa pemimpin ini nampaknya mempunyai sebuah kelebihan di dalam dirinya, sehingga dia mampu bersikap tenang seperti ini.


Sementara itu pertarungan antara lurah prajurit melawan jagalah alas Kunduran telah mendekati puncaknya.


Beberapa kali hampir saja sang lurah prajurit menemui ajalnya di ujung klewang Jagal Alas Kunduran .


Jika hal ini dibiarkan maka lambat atau cepat pastilah sang lurah akan menemui malapetaka di tempat ini.


Sementara itu sang lurah pun harus membagi perhatiannya, karena kedatangan beberapa orang pengendara kuda yang nampaknya adalah kawan-kawan dari Jagal Alas Kunduran .


Dengan perimbangan kekuatan sekarang ini nampaknya laki-laki begal ini berada di atas angin.


Sang lurah harus berfikir cepat untuk mengatasi masalah kali ini.


Bagaimanapun dia adalah seorang lurah prajurit yang telah mempunyai banyak pengalaman dalam medan pertempuran.


Dia hanya bisa mengandalkan beberapa orang prajuritnya sementara para pengawal padukuhan Kademangan Pucakwangi ini belum lah seperti prajurit-prajurit yang berpengalaman yang ada di dalam kesatuan keprajuritan di kadipaten.


Untuk menghadapi orang-orang liar ini paling tidak dibutuhkan tiga atau empat orang pengawal Kademangan.


Semua telah terlintas dibenak dari sang lurah di sela pertarungan nya yang semakin berat ini.


Sang lurah harus mengambil keputusan.


Suatu ketika klewang di tangan sang jagal nampak mengayun deras telah datang.


Ki lurah kini harus berfikir untuk bisa menyelamatkan segenap warga dari ancaman para perampok ini.


Ki Lurah Jagadenta kemudian telah melompat menjauhi lawannya.


Waktu yang hanya sesaat ini kemudian dipergunakan oleh Ki Lurah untuk berteriak kepada dua orang tiga orang prajurit.


Tiga orang prajurit yang dibawanya ke tempat ini adalah prajurit-prajurit yang selama ini menjadi bawahan yang setia pada Ki lurah.


"Sarno! Suro! Kasan! Tahan Jagal ini!" Seru Ki Lurah Prajurit Jagadenta.

__ADS_1


Seketika tiga orang yang berpakaian prajurit segera melompat ke tengah arena dan menggantikan posisi dari Ki Lurah Jagadenta yang nampaknya mempunyai siasat lain.


Alangkah marahnya Jagal Alas Kunduran ini.


Tak disangkanya lawannya telah mundur dari perang tanding melawannya.


"Huh! Ternyata engkau hanyalah seorang prajurit yang pengecut!" Seru Jagal Alas Kunduran , seraya mengayunkan klewang besar ini ke arah salah seorang prajurit yang telah datang terlebih dahulu.


Kini Jagal Alas Kunduran pun harus menghadapi keroyokan tiga orang prajurit yang nampaknya mereka pun mampu bertarung seperti halnya Ki Lurah Jagadenta.


Dan satu hal lagi prajurit rata-rata mempunyai kemampuan bertarung secara berkelompok, mereka lebih mementingkan pertarungan secara kelompok dibandingkan dengan pertarungan secara satu lawan satu.


Akan tetapi memang ada kalanya mereka harus bertarung satu lawan satu dalam sebuah perang tanding.


Kini pertarungan pun kembali berjalan dengan sengitnya.


nampaknya kemampuan 3 orang ini mampu menghadapi ganasnya sambaran-sambaran klewang dari Jagal Alas Kunduran .


Sementara itu Ki Lurah Jagadenta kemudian telah memberikan sebuah perintah kepada seorang anak muda yang merupakan pemimpin dari pengawal Kademangan.


Jumlah pemuda-pemuda dari Kademangan ini sekitar limapuluh orang yang sebelumnya memang telah mulai dipersiapkan oleh Ki lurah Jagadenta untuk dilatih menjadi pengawal pengawal yang tangguh bagi Kademangan ini.


Dan bagi mereka yang memang punya kemampuan yang linu weh maka pemuda-pemuda ini pun kelak akan dijadikan sebagai prajurit-prajurit yang tangguh dari kadipaten Pati.


Ini memang adalah perintah langsung dari Adipati Pragola melalui para senapatinya.


Perintah ini telah dilaksanakan oleh para prajurit prajurit yang kini telah turun ke Kademangan Kademangan dan juga ke padukuhan-padukuhan untuk mencari pemuda-pemuda untuk dilatih menjadi pengawal pengawal padukuhan maupun menjadi prajurit-prajurit Pati Pesantenan.


Adipati Pragola menyadari bahwa lambat atau cepat peperangan besar akan segera membakar Pati dan sekitarnya, membakar seluruh wilayah Pati.


Para pemuda telah berduyun-duyun datang ke padukuhan induk dari Kademangan Pucakwangi ini untuk mengikuti penjajaran mengikuti panggilan untuk membela tanah kelahiran mereka dengan daerah dan juga nyawa- nyawa mereka.


Hanya kebanggaan saja dan hanya pengorbanan darah untuk menjunjung tanah ini.


"Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi....!"


Walaupun hanya sejengkal tanah, akan mereka pertahankan dengan darah dan nyawa (toh pati), demi kehormatan dan harga diri.


Beberapa saat yang lalu para pemuda dari segenap pasukan yang ada dalam Kademangan Pucakwangi ini telah datang ke padukuhan induk ini untuk mengikuti panggilan dari Ki Lurah Jagadenta.

__ADS_1


Mereka barusan menerima gemblengan sehingga kemampuan mereka hanyalah kemampuan dasar untuk bertarung.


Ketika mereka kini dihadapkan dengan para perampok dengan begal yang mempunyai kemampuan bertarung yang syarat dengan pengalaman maka dalam sesaat mereka pun telah menjadi terdesak hebat walaupun jumlah dari para pengawal Kademangan ini cukup banyak dibandingkan para perampok ini.


__ADS_2