
Dengan pandangan mata memancarkan aura membunuh, Ki Rajeg Wesi kemudian berkata dengan suara dalam.
"Minggir atau engkau akan segera menjadi mayat!" Kata Ki Rajeg Wesi dengan suara yang menimbulkan getaran yang membuat dada Ki Rangga seketika bergetar keras.
Sebagai seorang prajurit yang berpengalaman Ki Rangga segera merasa bahwa orang tua ini benar-benar seorang lawan yang tidak dapat dibuat main-main.
Ketika orang tua di depannya ini telah bergerak, maka keris luk tujuh yang ada di tangan kanannya seketika telah berubah seperti seekor naga berwarna hijau yang langsung menyambar ke arah Ki Rangga Jagadenta.
"Ugh..!" kaget bukan main Ki Rangga Jagadenta.
Aura yang dikeluarkan keris yang mengeluarkan warna kehijauan ini hampir saja membuat dirinya tak mampu bergerak.
Dia seperti merasakan udara di sekitarnya berubah menjadi sangat berat.
"Mundur Ki Rangga! Orang tua itu bukanlah lawanmu!" Tiba-tiba terdengar suara bisikan halus di telinganya dan dirasakannya kekuatan yang menindih dadanya telah terlepas sehingga seakan akan Ki Rangga telah terbebas dari tindihan batu besar di dadanya.
Ketika dia menengok ke samping maka seorang pemuda tengah tersenyum kepadanya dan dengan tombaknya dia telah menangkis serangan dari Ki Rajeg Wesi.
"Trang...!"
Benturan terjadi antara ujung tombak dengan keris luk tujuh yang mengeluarkan aura kehijauan ini.
Dan akibatnya, keris yang tadinya sangat luar biasa dan nggegirisi ini seakan akan telah kehilangan kekuatan dan aura-nya.
Ki Rangga yang menyadari bahwa dia akan sangat kesulitan jika menghadapi orang tua ini pun segera melontarkan dirinya mundur untuk memberikan kesempatan kepada Lowo Idjo untuk menghadapi orang tua yang memegang keris luk tujuh ber-aura kehijauan ini.
Ketika pertarungan menjadi bertambah sengit dan matahari telah bersinar semakin terik maka darah yang tertumpah di atas Bumi Pertiwi pun semakin banyak dan menggenangi Oro-oro Ombo.
Secara keseluruhan korban di pihak para pemuda yang tergabung dalam pengawal kademangan yang telah diangkat menjadi prajurit pun semakin banyak.
Mereka telah menjadi korban keganasan sebuah perang. Akan tetapi dengan semangat mempertahankan apa yang mereka percayai, mereka tetap bertarung dengan gagah tanpa mundur setapakpun selama nyawa masih di badan.
Sementara itu di barisan sayap kanan, Bayu sudah hampir membunuh semua kuda yang telah menyerang di sayap kanan, sementara Adnan pun masih sibuk bertarung melawan Tohpati.
Ternyata walaupun Adnan beberapa kali mampu mendesak Tohpati akan tetapi laki-laki tengah baya ini selalu menghindar dari sergapan-sergapan Adnan dengan bertarung berputar-putar diantar orang- orang yang tengah bertarung mengadu jiwa.
__ADS_1
Akan tetapi yang tidak dapat dihindarkan adalah korban di kalangan prajurit muda. Mereka adalah pemuda-pemuda yang terbiasa memegang arit dan alat pertanian dan kini harus berjuang mati-matian menghadapi para begal yang terbiasa membunuh manusia dengan tersenyum.
Dan yang lebih parah adalah di sayap kiri.
Hampir sebagian besar para pemuda telah menjadi korban.
Lokajaya nampaknya telah terpancing oleh Tohsidono untuk menjauhi arena peperangan.
Sementara Tirta Jaya Kusuma sedang bertarung dengan serunya menghadapi Ki Rajeg Wesi.
Pemuda ini kini telah mengeluarkan Aji Suryo Dahono. Warna kebiruan di tubuhnya semakin jelas ketika dia semakin mengerahkan kekuatannya.
Sementara Ki Rajeg Wesi ternyata juga mempunyai kemampuan linuwih yang sungguh sangat luar biasa.
Di zaman ini adalah gudangnya para manusia Jawa yang mempunyai kekuatan batin dan kekuatan raga yang sangat mengerikan.
Ki Rajeg Wesi seakan-akan telah berubah menjadi seekor alap-alap besar yang menyerang Tirta Jaya Kusuma.
Namun nampaknya pemuda ini pun mampu mengimbangi kekuatan Ki Rajeg Wesi.
Pemuda ini tidak ingin mengorbankan pemuda pemuda dukuh ini.
Dan hal inilah yang telah dimanfaatkan oleh Ki Rajeg Wesi.
Orang tua ini merasa bahwa kemampuan pemuda ini benar-benar sangat tangguh dan dia tidak ingin mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menghadapi pemuda ini sehingga dia lebih mengutamakan menggunakan siasat licik untuk menghadapi pemuda ini.
Orang tua ini semakin menyadari bahwa pemuda yang dihadapinya ini adalah seorang pemuda yang lurus yang penuh dengan pertimbangan dan welas asih kepada sesama.
Hingga beberapa kali Ki Rajeg Wesi sengaja mengarahkan serangan-serangannya kepada pemuda-pemuda yang bertarung di sekitar tempat itu.
Hal inilah yang membuat Tirta Jaya Kusuma kesulitan menghadapi orang tua ini yang tangannya sangatlah ganas.
Tirta menjadi serba salah untuk bergerak, terkadang Ki Rajeg Wesi sengaja berlindung di balik tubuh seorang pemuda yang di tangkap seperti dia menangkap domba dan terkadang Ki Rajeg Wesi dengan sengaja telah melontarkan tubuh seorang prajurit yang ditangkapnya itu ke arah Tirta Jaya Kusuma, sehingga Tirta pun mau tidak mau harus menerima tubuh kawannya sendiri. Sehingga dia tidak dapat melanjutkan serangannya ke arah Ki Rajeg Wesi.
Tirta sadar jika pertarungan ini berlangsung lebih lama lagi maka kerugian yang besar akan berada pada pihaknya.
__ADS_1
"Aku tidak bisa membiarkan keadaan ini berlangsung terus menerus!" Batin Lowo Idjo.
Pemuda ini pun telah bersiap mengarahkan kekuatannya yang lebih besar lagi untuk bisa segera menyelesaikan Ki Rajeg Wesi.
Nafas nya telah ditarik dalam-dalam. Perlahan sebuah kekuatan batin dan wadag telah bangkit dari pusarnya, merambat mengalir melalui urat nadi dan otot-ototnya.
Namun, sebelum kekuatan besarnya teruar dan menyelimuti seluruh tubuhnya, tiba tiba saja terdengar sorak-sorai gemuruh dari belakang garis pertahanan prajurit Kademangan pucawangi.
Sorak sorai yang seketika itu pula telah mengguncang Medan peperangan di Oro-oro Ombo.
Semua mata segera memandang ke arah garis belakang dari para prajurit Kademangan bocah wangi.
Dan terlihatlah rombongan pasukan berkuda telah menyibak masuk memasuki arena pertempuran diiringi teriakan-teriakan gembira dari para prajurit muda Pucakwangi.
"Prajurit kadipaten telah datang! Ki Tumenggung Sawunggaling telah datang!" terdengar suara gegap gempita dari para prajurit Kademangan Pucakwangi.
Sepasukan prajurit berkuda yang berjumlah sekitar tiga puluh orang telah memasuki arena peperangan.
Pasukan ini dipimpin oleh seorang pria gagah dengan kumis melintang dan rambut digelung seperti konde.
Auranya cukup membuat para begal dari Alas Kunduran tergetar dan seketika ciut nyali nya.
Pria setengah tua namun terlihat sangat gagah ini menggenggam sebilah keris di tangan kanannya dan mengacung -acungkannya.
"Enyahlah kalian orang orang Mataram!" Seru pria tengah baya ini.
Di belakang dari pria ini terlihat beberapa orang yang mengangkat tombak dan mengacungkan ke udara dan beberapa penunggang telah mengangkat tinggi Panji Panji dari kadipaten Pati.
Sebagian pasukan berkuda kemudian telah menyebar menuju ke sayap kanan dan sayap kiri dari para prajurit Kademangan Pucakwangi.
Seketika suara gemuruh dan sorak sorai telah membangkitkan semangat dari para prajurit muda yang hampir saja runtuh.
Semangat mereka telah membara dan mereka kembali bertarung dengan penuh semangat.
Mengetahui bahwa sekelompok prajurit dari kadipaten telah datang dan menerjunkan diri dalam pertempuran ini, maka Jagal Alas Kunduran, Tohpati dan Tohsidono segera memerintahkan pasukannya untuk segera mengundurkan diri dari arena peperangan.
__ADS_1
"Kita tidak bisa bertahan lebih lama lagi di oro-oroh Ombo ini!" Seru Tohpati sambil bergerak menghindarkan dirinya dari sergapan -sergapan Adnan yang terus memburunya.