Tirta Jayakusuma: Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi

Tirta Jayakusuma: Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi
Gerak gerik Ki Dipo yang mencurigakan


__ADS_3

Kembali Bayu telah menyerobot piring yang dibawa oleh Rara Wulan .


Kali ini Rara Wulan tampak sewot.


Tapi Bayu memanglah Bayu yang suka bercanda yang kadang-kadang kelewatan.


Dia hanya meringis dan menunjukkan giginya yang putih bersih.


"Maaf Mbak Ayu, beberapa hari ini aku kurang makan jadi aku sangat kelaparan sekali," kata Bayu.


"Tambah satu piring lagi ya," kata Bayu sambil tersenyum.


Dengan terpaksa Rara Wulan pun telah mengambilkan lagi satu piring penuh nasi beserta lauknya.


Barulah di piring ke empat, Tirta mendapatkan jatahnya.


Mereka bertiga nampak duduk di pinggiran banjar.


Gadis ini kemudian telah duduk di sebelah Tirta Jaya Kusuma.


Dipandanginya pemuda ini dengan seksama sehingga membuat Tirta agak sedikit rikuh.


Tidak seperti gadis-gadis lain di Kademangan ini yang cenderung malu dan tertutup.


Rara Wulan nampaknya adalah seorang gadis yang cukup terbuka dan cukup pemberani.


Dia adalah putri terkasih dari Ki Demang Pucakwangi ini.


Dia adalah seorang gadis yang ceria, keras kepala dan tidak mengenal takut.


"kalian ini sebenarnya dari tlatah mana!? Pakaian yang kalian kenakan sangat berbeda dengan pakaian yang kami kenakan," kata gadis ini.


"Gaya bicara kalian pun agaknya berbeda dengan kami," kata gadis ini berusaha mencari tahu jati diri dari ketiga pemuda asing ini.


Ya untuk logat dan dialek di Pati, walaupun menggunakan bahasa Jawa, dialek mereka berbeda dengan dialek bahasa Jawa yang lain. Biasanya di akhir kalimat menggunakan tambahan "Leh".


"Kami dari tlatah yang jauh dari tempat ini mbak ayu, kami adalah tiga orang murid sebuah padepokan yang ditugaskan oleh guru kami untuk mencari pengalaman hidup," jawab Tirta Jaya Kusuma.


Di sela-sela makan siang ini nampaknya gadis ini telah banyak sekali bertanya ini dan itu kepada tiga pemuda ini terutama kepada Tirta Jaya Kusuma.


Dan ini adalah sebuah pengalaman yang cukup menarik bagi gadis ini.


Jawaban-jawaban dari Tirta Jaya Kusuma juga Adnan dan Bayu memang berbeda dari para pemuda pada umumnya.


Siang itu ketika kemudian satu demi satu para pemuda telah meninggalkan tempat tersebut karena memang setelah latihan olah keprajuritan maka Ki lurah Jagadenta telah membebaskan semuanya untuk mereka bekerja kembali di sawah mereka ataupun mencari rumput bagi ternak-ternak mereka, ataupun angon hewan piaraan mereka.

__ADS_1


Ki Lurah Jagadenta telah memberikan pesan supaya nanti malam mereka diharapkan kembali berkumpul untuk kembali berlatih olah keprajuritan.


Kini Tirta Bayu dan Adnan yang tidak mempunyai pekerjaan hanya duduk-duduk saja di tritisan banjar padukuhan ini.


Dan sejak tadi pun Rara Wulan masih saja setia menunggui ketiga pemuda ini.


Hingga ketika kemudian seorang pemuda tanggung telah mendekati ke arah merdeka.


Pemuda tanggung ini kemudian telah bergabung bersama Rara ayu dan juga Tirta Bayu dan Adnan.


Ada apa Adi.. Kata Rara Wulan.


"Tuh, simbok menyuruhku memanggilmu mbak ayu," kata pemuda tanggung ini.


Mendengar jawaban dari pemuda tanggung ini Rara pulang pun kemudian telah berdiri dan kemudian dengan agak terpaksa dia pun telah kembali ke arah rumahnya yang tidak jauh dari Banjar padukuhan ini.


Sementara itu di sudut lain di banjar ini rombongan para penari tayub pun masih duduk-duduk dan dengan beberapa orang pemuda dari padukuhan ini telah berada di tempat itu.


Mereka adalah beberapa orang pengawal paduan yang tadi ikut berlatih namun nampaknya mereka sangat tertarik dengan keberadaan gadis-gadis cantik penari tayub.


Sementara pemuda yang sempat bertarung dengan cagar alas kunduran pun berada di tempat ini pula.


Nampaknya dia masih penasaran dengan gadis penari tayub yang cukup cantik baginya.


Suaranya nampak keras berbicara menyombongkan dirinya bahwa dia adalah seorang anak dari seorang pembesar di Kadipaten.


Dia merasa malu dihadapan ledek cantik yang telah menarik perhatiannya ini.


Dan para penari ini pun hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala.


"Apakah benar, orang tua anak mas adalah pejabat di Kadipaten?" Tanya sang pemimpin rombongan penari tayub ini.


"Tentu saja benar paman, kalau tidak, mana mungkin aku dikawal oleh para prajurit," kata pemuda ini sombong.


Dan memang apa yang telah disampaikan pemuda ini benar adanya.


Ki Lurah Jagadenta pun nampaknya cukup segan dengan pemuda ini.


"Aku adalah putra Tumenggung Jayaraga," lanjut pemuda ini dengan bangganya.


Dan semua apa yang diceritakan oleh pemuda ini telah didengar dengan seksama oleh sang pemimpin rombongan penari tayub ini.


"Apakah Romo dari Raden Rangga sangat berkuasa di Kadipaten Pati?" Tanya sang pemimpin rombongan penari tayub ini.


"Tentu Paman, Romo ku adalah orang yang sangat dekat dengan Adipati Pragola, dan pamanku memang telah memimpin pasukan segelar sepapan oleh Adipati Pragola!" kata Raden Rangga dengan penuh kebanggaan.

__ADS_1


"Kalo paman setuju, kalian bisa aku ajak ke kadipaten untuk kalian bisa melakukan pertunjukan di sana di depan para prajurit Romo!" Kata pemuda ini seraya melirik gadis cantik, ledek tayub yang telah menarik perhatiannya.


"Baik Raden Rangga, kami bersedia mengadakan pertunjukan di kota Kadipaten Pati," kata pria tengah baya yang menjadi pemimpin rombongan tari tayub ini.


"Jika memang Ki Dipo bersedia maka aku akan meminta izin kepada Romo dulu untuk mengajak kalian ke kota kadipaten," kata pemuda ini.


Sementara secara diam-diam Tirta Jaya Kusuma pun telah memperhatikan pembicaraan antara sang pemimpin rombongan penari tayub yang ternyata bernama Ki Dipo ini dengan Raden Rangga.


"Ada sesuatu yang mencurigakan dalam diri Ki Dipo ini," batin Tirta Jaya Kusuma.


Pembicaraan antara orang-orang ini pun selanjutnya hanya masalah masalah umum yang tidak lagi menarik perhatian sang pemuda.


***


Ketika matahari telah mulai condong ke arah barat maka Tirta, Bayu dan Adnan telah menuju ke belakang dari banjar padukuhan.


Di belakang banjar ini memang terdapat sebuah Sendang kecil di bawah sebuah pohon yang sangat besar.


Sendang ini sangat jernih dengan ikan-ikan yang tidak takut kepada orang-orang yang mandi di tempat ini.


Karena memang ada kepercayaan bahwa siapapun tidaklah diperkenankan mengganggu keberadaan dari ikan-ikan ini.


Menurut cerita yang sempat diceritakan oleh pemuda tanggung adik dari Rara Wulan, bahwa ada salah seorang warga yang dengan sengaja mengambil seekor ikan di tempat ini dan kemudian di bawahnya pulang maka ketika itu pula istri dari pemuda ini telah jatuh sakit. Dan ketika kemudian ikan itu dikembalikan ke sendang ini maka sang istri pun kemudian telah sembuh dari sakitnya.


Dan hal ini telah membuat para penduduk di padukuhan ini sangat yakin bahwa di Sendang ini ada penunggunya dan akan marah jika salah satu anggotanya disakiti oleh warga di sekitar sendang ini.


Hal seperti ini adalah sebuah kepercayaan di kalangan masyarakat Jawa pada umumnya.


Akan tetapi hal-hal seperti inilah yang membuat lingkungan seperti Sendang ataupun tempat-tempat lain keberadaannya tetap lestari tanpa dirusak oleh tangan tangan yang tidak bertanggung jawab..


"Ugh.. indahnya sendang ini!" Seru Bayu kagum dengan keindahan sendang ini.


Dan Bayu yang sudah tidak sabar menikmati kesegaran air sendang kemudian telah melompat ke tengah sendang yang hanya mempunyai kedalaman sekitar setengah tombak saja ini.


Dan...


"Byuur...!"


Tubuh besar dari Bayu telah terjun ke tengah sendang.


Seketika air sendang yang sangat jernih ini pun telah muncrat dan menyebar ke segala arah sehingga telah menyambar ke arah beberapa orang pemuda yang tengah berdiri dan bersiap terjun ke tengah Sendang.


"Huh... Dasar anak gajah!" Seru beberapa pemuda yang nampaknya sudah mulai akrab dengan si Lowo Gemblung ini.


Sementara itu beberapa orang pemuda yang nampaknya sudah lebih dulu berada di tengah sendang pun nampaknya telah gelagapan akibat air yang berombak yang kemudian memaksa beberapa pemuda ini meneguk air sendang.

__ADS_1


Mereka nampak berteriak-teriak jengkel.


Sore itu suasana di Sendang ini nampak riuh dan ramai tidak seperti biasanya.Ya semua ini karena ulah Lowo Gemblung, Bayu. Keberadaan pemuda ini benar-benar telah membuat riuh dan membuat hidup suasana...


__ADS_2