Tirta Jayakusuma: Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi

Tirta Jayakusuma: Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi
Kekalahan Para Begal


__ADS_3

Ki Jagadenta yang memimpin sekelompok anak muda Kademangan pun sudah berada dekat dengan para begal yang ada di depan.


Sementara para begal itu tengah mempersiapkan batu-batu besar untuk mereka gelindingkan dari atas menyerang pasukan berkuda yang ada di bawahnya.


Dari bawah pun terlihat pasukan berkuda yang telah menambatkan kuda-kuda mereka jauh di bawah, sedangkan para prajurit pun telah menggenggam gandewa-gandewa (busur) dan melepaskan anak-anak panah  menyerang para begal yang ada di atas puncak Bukit Gamping.


Namun penyerangan anak-anak panah ini bukanlah keputusan yang tepat akan tetapi ini lebih baik daripada pasukan berkuda yang telah turun dari kudanya ini tidak melakukan pergerakan sama sekali.


Dan  para pemimpin regu telah diperintahkan oleh Ki temanggung Sawunggaling untuk membuat pergerakan mengganggu para begal alas kunduran yang berada di puncak bukit.


Sengaja ini dilakukan oleh Ki Tumenggung untuk mengalihkan perhatian dari para begal.


Dan ternyata apa yang dilakukan oleh para prajurit berkuda Pati Pesantenan telah membawa hasil.


Ketika kemudian sebuah suitan panjang yang terdengar dari atas bukit yang merupakan pertanda bahwa pasukan dari para pengawal Kademangan Pucak Wangi telah mulai menyerang ke arah para begal.


Seketika para begal alas kunduran pun terkejut dan kebingungan dengan serangan yang dilakukan secara tiba-tiba dari arah barat dan selatan.


Dalam kekalutan inilah pasukan berkuda yang dipimpin oleh Ki Tumenggung Sawunggaling mulai mendaki ke arah puncak bukit Gamping ini.


Sebelumnya Ki Rangga jagaDenta telah memerintahkan kelompok kecil yang dipimpin oleh Lokajaya untuk menyerang lebih dulu bersamaan dengan sebuah kelompok kecil pula yang dipimpin oleh Tirta Jaya Kusuma dan beranggotakan Bayu serta Adnan.


Serangan yang mendadak yang dilakukan dari arah barat dan juga arah selatan ini seketika membuat para begal yang perhatiannya tertuju ke arah Utara dimana pasukan berkuda Kadipaten Pati telah membuat gangguan.


Kali ini yang berhadapan dengan Lokajaya adalah Tohpati sedangkan Jagal Alas Kunduran telah mendapatkan lawan tangguh yaitu Adnan.


Sementara dari sebelah Selatan Tirta Jaya Kusuma telah mendapatkan lawan tangguh pula, yaitu Ki Rajeg Wesi.


Dan akhirnya pasukan berkuda dari Kadipaten Pati pun akhirnya berhasil merangsek naik ke puncak bukit Gamping ini.


Para begal dari alas kunduran kini benar-benar mendapatkan tekanan yang berat.


Mereka terkepung dari tiga arah, untunglah penyerangan ini hanya berasal dari tiga arah saja sehingga mereka bisa mengambil arah timur sebagai arah untuk mengundurkan diri.


Memang di atas puncak bukit ini terdapat beberapa jalur yang kerap kali digunakan oleh orang-orang yang melintasi tempat ini.

__ADS_1


Keberadaan Ki Rajeg Wesi sebenarnya diharapkan mampu memberi perubahan dari pasukan para begal ini.


Akan tetapi sejauh ini pergerakannya dapat diimbangi oleh seorang anak muda yang kurus kering .


Kemarahan dari Ki Rajeg Wesi benar benar telah terpancing.


Dirinya yang sudah dianggap sebagai sesepuh dan tetua dengan segudang ilmu dan kemampuan yang luar biasa yang jarang mendapatkan lawan yang seimbang kini benar-benar sangat murka.


Lawannya adalah seorang pemuda yang masih sangat muda yang tidak dikenal. Akan tetapi setiap kali dia menyerang dengan sepenuh kekuatannya pemuda ini selalu saja mampu menghindar.


"Siapakah engkau sebenarnya anak muda!?  Engkau menguasai berbagai ajian yang yang jarang sekali di kuasai orang pada umumnya?" Seru Ki Rajeg Wesi di sela sela serangannya yang terus memburu Lowo Ijo.


"Siapa gurumu!?" Seru Ki Rajeg Wesi yang sangat penasaran pada pemuda ini.


"Nampaknya engkau menguasai ilmu Jaya Kawijayan dari tokoh tokoh sakti dari masa lalu!" Lanjut Ki Rajeg Wesi di seka sela serangannya yang bergulung gulung bagaikan ombak yang  tanpa henti menerjang pemuda yang tidak dapat di sentuhnya ini.


"Ah, aku hanya menguasai sedikit kemampuan saja Ki Rajeg Wesi!" Kata Tirta merendah.


Ya walaupun di hadapan seorang lawan yang tangguh, Tirta tetap tidak mau menyombongkan dirinya.


"Engkau pun menguasai Aji Lembu Sekilan dan juga Aji tameng Waja milik Adipati Pragola sendiri!' lanjut Ki Rajeg Wesi.


Dan kini dirinya harus berhadap hadapan  orang-orang Pati.


Ada sebuah rasa kecurigaan bahwa pemuda ini punya hubungan dengan Ki Pragolo.


"Aku memang punya hubungan dengan Ki pragolo. Sekarang ini aku adalah prajurit Kademangan Pucakwangi yang juga prajurit Pati  Pesantenan, jadi bisa dikatakan Ki pragolo ada junjunganku," kata Tirta Jayakusuma.


"Huh, walaupun Ki Pragolo sendiri yang aku hadapi dia pun tidak akan sanggup melawan ku!" Seru Ki Rajeg Wesi sombong.


Padahal yang sebenarnya dia pun sangat takut pada Ki Pragolo.


Dia pernah melihat bagaimana Ki Pragolo  memimpin anak buahnya menyerang orang-orang Madiun! Sebuah Kadipaten yang dianggap mbalelo (membangkang terhadap Mataram).


Dan dia mengakui bahwa Ki Pragolo adalah seorang pria yang gagah perkasa yang tidak akan mundur setapakpun dalam menghadapi lawan-lawan tangguh.

__ADS_1


Dan sejak itu pula Ki Rajeg Wesi dan petinggi Mataram tempatnya mengabdi telah mengetahui sebuah rahasia.


Penyerbuan Mataram ke Madiun maka telah timbul pula bibit-bibit ketidaksenangan dari Ki Pragolo kepada panembahan Senopati.


Panembahan Senopati telah mengambil Garwo Ampil dari Putri Madiun dikawatirkan oleh Adi pragolo akan menggeser posisi dari Mbak ayunya Roro Pembayun sebagai permaisuri dari Panembahan Senopati.


Dan dalam perkembangan selanjutnya dia pernah mendengar pula bagaimana Ki Pragolo sepuh memberi pelajaran kepada kepokankannya, Mas Jolang, putra dari panembahan Senopati di Prambanan.


###


Pertemuan telah berlangsung beberapa saat dan para begal alas kunduran pun menyadari bahwa mereka berada dalam keadaan terjepit dari pasukan lawan yang menyerang dari tiga arah, tigang juru.


Ki Rajeg Wesi pun nampaknya tidak dapat berbuat lebih banyak menghadapi lawannya yang masih muda ini.


walaupun dia telah makan Adam garam pertempuran dan melalui ribuan pertarungan akan tetapi lawannya yang masih muda nampaknya pun mempunyai pengalaman yang cukup untuk menghadapi orang tua ini. apalagi didukung Ajian yang telah mendarah daging dalam tubuh Lowo Idjo.


Tubuh Tirta hanya bergerak mengikuti pergerakan arah serangan Ki Rajeg Wesi tanpa bisa disentuh oleh orang tua ini yang semakin marah karena lawannya ini seakan-akan telah mempermainkannya.


ternyata pemuda ini telah mengarahkan Aji Lembu Sekilan yang membuat tiap pukulan Ki Rajeg Wesi tak mampu menyentuhnya.


bahkan ketika kemudian kirab ekosistem telah mengeluarkan keris pusakanya keris luk tujuh beraura kehijauan.


dengan aura kehijauan yang mampu menekan lawannya ternyata aura ini tidak mempan terhadap Tirtajaya Kusuma.


pemuda ini seakan-akan tidak merasakan apapun dari pengaruh aura keris Naga Idjo milik Ki Rajeg Wesi.


Kemarahan yang memuncak tapi tak mendapat penyaluran, benar-benar telah membuat orang tua ini berputus asa dan dia pun tidak mampu membantu para begal ini dari tekanan para prajurit Pati Pesantenan.


Kesadaran inilah yang kemudian membuat Tohsidono dan Tohpati yang merupakan dua orang prajurit Mataram pilihan yang telah memakan asam garam dalam ribuan peperangan telah mengambil keputusan untuk mengundurkan diri dari peperangan ini.


Dia tidak ingin mati konyol di puncak Gunung Gamping.


"Mundur kearah hutan sebelah etan (timur)!" Seru Jagal Alas Kunduran yang kemudian telah melompat ke arah pekatnya hutan di sebelah timur jalanan dimana mereka bertarung


Dan kemudian diikuti oleh para anak buah sang Jagal Alas kunduran dan Ki Rajeg Wesi pun telah melompat menjauhi pemuda lawannya.

__ADS_1


Serempak mereka telah menghilang di balik pekatnya hutan. Walaupun tidak semua berhasil melarikan diri karena sebagian dari para begal dan perampok ini pun telah tertangkap ataupun terbunuh oleh pasukan gabungan antara pasukan inti Mataram dengan para pengawal padukuhan Pucakwangi.


Beberapa prajurit berusaha mengejar para perampok yang telah memasuki hutan lebat di sebelah timur mereka akan tetapi Ki Tumenggung Sawunggaling telah berseru keras!


__ADS_2