Tirta Jayakusuma: Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi

Tirta Jayakusuma: Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi
Rasa dengki Lokajaya


__ADS_3

Para prajurit dari kedua belah pihak pun hanya mampu bertarung dalam jarak beberapa langkah dari kedua orang ini.


Sementara Adnan yang telah mendapatkan perintah dari Lowo Ijo untuk membantu pasukan  keluar dari kesulitan telah mengerahkan segenap kekuatannya.


Dan dalam waktu yang singkat beberapa orang begal pun telah menjadi korbannya.


Begal begal ini tak mampu  menghadapi tandang dari Adnan.


Dan kini pertarungan pun mulai berubah.


Pergerakan Tirta telah mengarah ke kuda-kuda sehingga dari belasan kuda ini separuh lebih celah menjadi korban pukulan Aji tapak Geni.


Bukan main marahnya Jagal Alas Kunduran!


"Jangan mundur! Hadang pemuda itu!" Seru pria brewok ini.


Namun para pegal yang menjadi anak buahnya nampaknya menjadi ragu karena mereka telah menyaksikan bagaimana kuatnya pukulan dari sang pemuda.


Jika pukulan telapak tangan dari pemuda itu menghantam tubuh mereka maka mereka akan binasa!


Sedangkan kuda saja sekali pukul telah mati apalagi mereka.


Kini pertarungan di induk pasukan benar-benar telah berubah.


Ki Rangga Jagadenta nampak benar-benar sangat kagum dan juga bersyukur bahwa pemuda-pemuda asing ini nampaknya benar-benar mengerahkan kekuatannya untuk bisa membela Kademangan Pucakwangi ini.


"Benar-benar luar biasa mereka ini siapakah mereka sebenarnya?" Batin Ki Rangga Jagadenta.


Dia sudah mengetahui asal usul dari Loka Jaya akan tetapi dia tidak mengetahui asal usul dari ketiga pemuda asing yang mempunyai penampilan yang berbeda daripada warga dan pemuda-pemuda pada zaman ini.


Tanpa terasa matahari telah mulai bergeser ke ufuk Barat.


Senja telah mulai turun.


Ketika kemudian pemimpin dari kedua pasukan ini telah memerintahkan kedua pasukan untuk mundur ke garis pertahanan.


Pasukan Kademangan Pucakwangi telah mundur ke dalam Padukuhan, sementara para begal dari alas kundulan telah membuat perkemahan di pinggir oro-oro Ombo di sebelah selatan dari oro-oro ini dimana di pinggir oro-oro Ombo sebelah selatan terdapat berapa pohon beringin dan beberapa pohon jenis lain yang cukup besar juga terdapat beberapa mata air  yang berupa sendang yang biasanya dipergunakan oleh para bocah angon untuk minum maupun mandi.


Nampaknya para begal ini telah mempersiapkan segala sesuatunya dengan cukup baik.


Ki Rangga Jagadenta telah memeriksa para prajurit muda dari Kademangan Pucakwangi.


Maka segera diketahui puluhan anak muda telah menemui ajalnya sementara puluhan  lainnya pun telah terluka.

__ADS_1


Tangis telah pecah di malam itu.


Sanak keluarga mereka telah menjadi bersedih dan harus merelakan putra-putra mereka gugur di medan perang! Mereka harus ikhlas! Mereka harus menerima apa yang telah terjadi demi tanah yang mereka pijak! Demi sebuah  kepercayaan yang mereka yakini akan Tanah ini.


Sementara di padukuhan Induk Pucakwangi.


Rumah rumah penduduk telah mengalami kerusakan yang cukup berat karena pasukan berkuda yang menyerang ke padukuhan induk Kademangan Pucakwangi.


Untunglah pada saat itu ada sebagian prajurit yang ditempatkan di dalam padukuhan untuk berjaga jaga.


Namun tetap saja kerusakan besar telah terjadi di dalam padukuhan induk.


Beberapa rumah terbakar dan beberapa wanita dan anak-anak telah disakiti oleh para pasukan berkuda yang telah masuk ke padukuhan ini.


Beberapa prajurit muda yang terluka telah di rawat di banjar, mereka tengah mendapatkan pertolongan dari Tirta Jaya Kusuma.


Ki Rangga Jagadenta semakin kagum dengan pemuda ini.


Kini dia telah mendapatkan prajurit-prajurit muda yang sangat tangguh.


Sementara para pemuda yang tergabung dalam pengawal kademangan, mereka sangat  sangat kagum dengan apa yang telah dilakukan oleh Tirta Jaya Kusuma, Bayu dan Adnan.


Mereka sangat meng elu-elukan kehebatan ketiga pemuda ini bahkan mereka memperbincangkannya dengan sesama kawan mereka.


Wajahnya nampak memandang tajam kearah pemuda pemuda ini yang membicarakan kemampuan Tirta jaya Kusuma.


"Huh! Pemuda itu hanyalah pemuda yang tolol! Dia hanya bisa membunuh kuda-kuda itu tidak membunuh begal-begal dan perampok dari alas kunduran!" Kata Lokajaya kepada sekelompok anak muda yang tengah duduk di sudut banjar.


"Lihatlah aku! Aku telah membunuh para begal dan perampok itu dengan tombakku!"


"Aku jauh lebih kuat daripada pemuda yang kalian unggul unggulkan itu." Lanjut Lokajaya geram.


Lokajaya benar benar sangat marah dan geram. Dalam pertempuran itu dia telah mengerahkan segala kekuatannya dan berhasil membunuh para begal dan perampok dari Alas kunduran akan tetapi para warga dari Kademangan Pucakwangi ini lebih menghargai pemuda ceking yang bernama Lowo Ijo itu.


"Akan aku buktikan besok, bahwa akulah yang terbaik dan terkuat  dan akulah yang kalian butuhkan dan bukan pemuda itu!" Kata Lokajaya dengan suara berat dan dalam.


"Sebenarnya benar apa yang kau katakan Kang Lokajaya!  Pemuda itu hanya bisa membunuh kuda-kuda tapi tidak bisa membunuh para begal itu," kata seorang pemuda.


Begitu mendengar jawaban dari pemuda ini nampaknya Lokajaya merasa mendapatkan dukungan sehingga dia pun telah berbicara berapi-api tentang kehebatannya tentang kekuatannya.


Dan kini beberapa pemuda telah berkumpul di sekitar Loka Jaya.


Sebagian telah terpengaruh oleh perkataan Lokajaya yang penuh semangat dan berapi-api tentang kehebatannya tentang kekuatannya.

__ADS_1


Mereka membenarkan apa yang disampaikan oleh Lokajaya dan mengagumi kekuatan Lokajaya dan ketegasannya dalam menghadapi para begal itu.


Akan tetapi sebagian tidak suka dengan  kesombongan dari pemuda ini dan lebih menghargai Lowo Ijo yang rendah hati, semanak dan mudah bergaul dengan para pemuda padukuhan Pucakwangi.


Sementara malam itu mereka tidak bisa tidur nyenyak.


Seharian bertempur membuat tubuh tubuh mereka menjadi lelah namun kegelisahan akan apa yang akan terjadi esok membuat hati mereka terus di landa kecemasan.


Ketika malam mulai semakin larut, beberapa anak muda yang berjaga di pintu gerbang padukuhan tiba tiba telah membawa seorang pria tengah baya dan seorang anak gadis.


"Juragan Karto!? Ada apa juragan!?" Tanya Ki Demang Pucakwangi.


"Ya ki Demang," sahut pria tengah baya ini.


Terlihat Juragan Karto seperti kelelahan.


Sementara di lengannya terlihat luka goresan senjata tajam.


Sementara gadis yang ada disampingnya nampak gelisah dan ketakutan.


Rambutnya nampak berantakan, sementara kain jarik yang dikenakan telah robek di beberapa bagian.


"Mari, mari juragan Karto," ajak Ki Demang mempersilahkan Juragan Karto memasuki rumah sang Demang.


"Wulan, buatkan teh anget Nduk. Ada juragan Karto dan putrinya!" Seru Ki Demang pada putrinya.


"Nampaknya Juragan Karto terluka, biarlah Anakmas Lowo Ijo aku panggil kemari untuk mengobati luka juragan Karto," kata Ki Demang.


Ki Demang kemudian telah berjalan keluar dari pendopo rumahnya dan menghampiri Lowo Ijo dan dua kawannya yang nampaknya sedang beristirahat setelah mengobati para pemuda yang tengah terluka.


"Anakmas Lowo Ijo, ada seseorang yang tengah terluka di dalam pendopo," kata Ki Demang yang kemudian telah mengajak pemuda ini untuk memasuki pendopo rumahnya.


"Baik Ki Demang," kata pemuda ini yang kemudian telah bangkit dan berjalan mengikuti Ki Demang memasuki pendopo rumah Ki Demang.


Tak ada rasa capek ataupun kelelahan di wajah pemuda ini.


Tirta Jaya Kusuma benar-benar merasa sangat senang bisa membantu para pemuda dan warga padukuhan yang tengah terluka. Tak ada sedikitpun wajahnya menunjukkan kelelahan.


Yang ada adalah rasa welas asih, rasa kemanusiaan dan pengabdian kepada sesama.


Begitu memasuki pendopo segera terlihat seorang tengah baya yang tengah duduk di kursi dan menyadarkan tubuhnya yang nampak kelelahan dan menahan sakit.


Pemuda ini segera mengenali bahwa pria tengah baya itu adalah juragan Karto dan juga putrinya yang tadi pagi telah dikunjunginya di pinggir padukuhan sebelah utara untuk meminjam  kuda kuda dari sang juragan.

__ADS_1


Dan disamping juragan Karto nampak putrinya tengah berusaha  menyuapi sang ayah dengan minuman hangat yang telah dibuatkan oleh Rara Wulan.


__ADS_2