Tirta Jayakusuma: Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi

Tirta Jayakusuma: Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi
Uji tanding di Oro-oro Ombo


__ADS_3

"Asem..! Huft, Dasar Gudel!" Seru beberapa pemuda yang masih berada di dalam Sendang yang seketika gelagapan karena gelombang air yang menerjang mereka.


Untunglah sendang ini dasarnya adalah batu-batu kecil dan pasir putih yang membuat air dalam Sendang ini tetap jernih walaupun telah mengalami goncangan yang besar akibat tubuh Bayu yang telah menerjunkan dirinya ke dalam sendang.


Namun mereka tidak marah karena ini adalah sebuah keseruan.


Dan saat kemudian telah terjadi keseruan lagi, Bayu telah sengaja memukul-mukul permukaan air sedang sehingga telah menciprat kemana-mana dan membuat mereka pun akhirnya melakukan hal yang sama untuk membalas pada Si Gemblung ini.


Dalam sesaat Bayu sudah menjadi akrab dengan para pemuda ini.


Kini mereka telah menerima Bayu sebagai kawan mereka.


Sendang ini berukuran tidak terlalu besar sehingga mereka harus bergantian membersihkan diri di Sendang ini.


Ketika hari mulai menjadi gelap, maka sendang ini pun telah menjadi sepi kembali.


Dan malam itu kentongan di depan banjar telah dipukul sebagai pertanda bagi para pemuda yang telah bergabung dalam pengawal Kademangan ini harus mulai berkumpul di depan banjar.


Mereka mulai berdatangan satu demi satu.


Bahkan dari padukuhan-padukuhan kecil yang berada di sekitar dukuh induk Pucakwangi ini pun telah datang terlebih dulu.


Ketika semuanya telah berkumpul dan Ki Lurah Jagadenta telah hadir maka latihan olah keprajuritan ini pun segera dimulai.


Kali ini sebagian besar pemuda telah mengenakan pakaian yang tertutup karena hawa dingin yang menusuk tubuh-tubuh mereka.


Latihan ini kemudian dimulai dengan berlari mengelilingi Dukuh ini dan kemudian menuju ke Oro-oro Ombo.


Di padang rumput yang cukup luas ini terlihat cukup terang karena bulan yang bersinar penuh.


Malam ini nampaknya adalah bulan purnama dimana bulan terlihat penuh dan bulat tanpa penghalang.


Tak perlu ada lagi penerangan untuk mereka berlatih di tengah Oro-oro Ombo ini.


Keringat telah mulai membasahi tubuh-tubuh mereka, maka Ki Lurah prajurit telah menghentikan latihan gerakan dan kemudian memerintahkan semuanya untuk membentuk suatu lingkaran besar.


Ki Jagadenta telah mulai memerintahkan untuk dilakukan latih tanding untuk mengetahui sejauh mana hasil dari latihan yang mereka lakukan beberapa hari ini.


Mereka menggunakan tongkat tongkat kayu yang mudah ditemukan di sekitar mereka sebagai senjata.


Hal ini dilakukan supaya mereka tidak saling melukai, karena jika menggunakan senjata yang tajam maka akan dapat terjadi kecelakaan.


Beberapa pemuda sekaligus telah menuju ke tengah lingkaran.


Ada sekitar sepuluh pemuda yang saling berhadapan di tengah tengah Oro-oro Ombo ini sekaligus.

__ADS_1


Dan sesaat kemudian mereka telah mulai saling menyerang ketika aba-aba dari Ki Jagadenta telah berkumandang.


Ketika kemudian beberapa orang pemuda telah berseru kesakitan dan terguling-guling maka mereka pun kemudian telah digantikan dengan yang lain.


Hingga akhirnya Ki Jagadenta telah berteriak kepada Bayu.


"Gemblung ayo maju!" Seru ki lurah prajurit.


Semua nampak memandang ke arah Lowo Gemblung karena mereka penasaran dengan pemuda tinggi besar dan gendut ini.


Dalam latihan sebelumnya, Gemblung telah memperlihatkan bahwa dengan tubuhnya yang besar dan gendut ternyata dia mempunyai ketahanan yang cukup.


Dia mampu berlari dengan cepat mengikuti para pemuda ini yang telah berlatih ilmu keprajuritan beberapa saat.


Kini pandangan mata mereka semua tertuju ke arah Lowo Gemblung yang berjalan dengan santai menuju ke tengah arena di mana beberapa orang tengah berlatih tanding.


Dan seorang pemuda pun kemudian telah menuju ke arah tengah pula untuk menghadapi Si Gemblung ini.


Selain Bayu yang berhadapan dengan seorang pemuda, ternyata Bango Putih pun juga sedang berhadapan dengan dua orang pemuda sekaligus yang memang diperintahkan oleh Ki Jagadenta untuk mengeroyok pemuda ini


Selama ini kamu putih lah yang terlihat menonjol di antara para pemuda.


Tubuhnya terlihat kuat dan ulet, gerakannya lincah dan cepat.


Bayu pun kemudian telah mengayunkan tongkatnya.


Terlihat tidak terlalu keras, sehingga pemuda yang menjadi lawannya pun dengan tersenyum telah mengayunkan pula tongkatnya untuk menangkis serangan dari Bayu ini.


"Syuut..!"


"Brak..!"


Dua tongkat saling bertemu.


Namun alangkah terkejutnya pemuda ini ketika kemudian dirasakannya sebuah kekuatan raksasa telah menghantam tongkatnya mengalirkan getaran yang membuat nyeri sepanjang pergelangan tangan hingga dirasakannya sampai ke ujung pangkal lengan.


"Ugh...!"


Hampir saja tongkat di tangannya ini telah terlepas dari genggamannya.


Menyadari bahwa kekuasaan Bayu nampaknya sesuai dengan tubuhnya yang sangat besar pemuda ini pun kemudian telah menyerang lebih dulu dengan mengerahkan semua kecepatannya.


Dia tidak ingin dipermalukan di hadapan kawan-kawannya oleh Si gemblung pemuda asing yang baru bergabung bersama dengan pasukan pengawal Pucak Wangi.


Setelah bertarung beberapa saat nampaknya pemuda ini pun kini semakin menyadari bahwa dibalik tubuhnya yang besar dan gerakannya yang lambat ternyata pergerakan itu sangatlah tepat dalam menghalau setiap serangannya.

__ADS_1


Dan bahkan pemuda ini telah berusaha untuk menghindarkan tiap benturan yang terjadi antara tongkatnya dengan tongkat Si Gemblung ini.


Dan tadi memang Bayu telah menahan kekuatannya karena dia tidak ingin terlihat menonjol di antara orang-orang ini sesuai dengan pesan yang diberikan oleh Tirta jaya Kusuma.


Keunggulannya tidaklah terlihat mutlak sehingga tidak menimbulkan kecurigaan dari Ki Jagadenta.


Hingga dalam suatu kesempatan pemuda ini telah kehilangan tongkat yang digenggamnya karena dalam suatu serangan balik pemuda ini terpaksa menahan pukulan tongkat di tangan kanan Bayu dengan tongkatnya sehingga telah membuat kembali lengannya tergetar keras dan terpaksa dia melepaskan genggamannya di tongkat kayu ini.


Dengan terlepasnya tongkat dari tangannya maka pemuda ini pun harus mengakui keunggulan dari Bayu.


"Ternyata engkau sangat kuat Mblung!" seru pemuda ini mengakui dengan jujur kekalahannya.


Sementara dari jarak beberapa langkah dari pertarungan antara Bayu dan pemuda ini bawang putih nampaknya pun telah berhasil membuat dua lawannya telah terkena hantaman tongkatnya sehingga keduanya pun telah terjungkal di rumput dan kemudian telah mundur dari arena pertarungan.


Kini di tengah arena tinggalah Bayu yang telah kehilangan lawannya dan juga Bango Putih.


Dan Bango Putih yang ini tak berdiri tanpa lawan pun telah memandang orang Bayu yang juga telah kehilangan lawannya.


Memang dalam uji tanding kali ini siapapun yang berada di tengah arena harus siap bertarung melawan siapapun juga.


Ketiga orang pemuda asing ini. dan kini salah seorang diantaranya telah berada dihadapannya.


Dan Bango Putih tiba-tiba telah mengayunkan tongkatnya ke arah Bayu.


Sebuah ayunan yang sangat cepat dan kuat sehingga telah menimbulkan suara berdengung.


Bayu sadar bahwa kini lawannya bukanlah seperti pemuda tadi. ini lawannya adalah pemuda yang nampaknya merupakan pemimpin dari para pemuda yang tergabung dalam pengawal padukuhan Pucakwangi.


"Hati hati Mblung!" Seru Bango Putih yang masih merasa bahwa pemuda gendut ini hanyalah seorang pemuda yang lemah yang hanya mengandalkan kekuatannya saja karena memang tubuhnya yang sangat besar.


"Bagaimanapun pemuda ini pasti mempunyai gerakan yang lambat," batin Bango Putih.


Dan pertarungan antara dua pemuda ini telah berlangsung dengan sengitnya.


Akan tetapi di tengah pertarungan ini lowo gemblung tiba-tiba mengendurkan serangan serangannya dan tanpa sepengetahuan dari Bango putih ternyata memang Bayu telah berniat mengalah dalam pertarungan.


Hingga dalam satu kesempatan Bayu telah melepaskan tongkatnya dan dengan sengaja memberikan perutnya yang besar itu dihajar oleh tongkat dari Bango Putih


"Aduh, aduh.. Aku menyerah! Aku menyerah!" Seru Bayu dan kemudian telah berlari keluar dari arena dan kemudian telah duduk di samping Tirta juga Adnan yang melihat pertarungan itu.


Gerakan Bayu yang kocak segera mengundang tawa dari para pemuda yang mengelilingi tempat itu.


Sementara Bango Putih sebenarnya pun telah merasakan keanehan dari kejadian ini tapi dia hanya tersenyum saja melihat lawannya ini telah meninggalkan arena.


Kini di tengah arena pun telah berganti dengan beberapa orang lagi yang satu diantaranya adalah Tirta Jaya Kusuma.

__ADS_1


__ADS_2