Tirta Jayakusuma: Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi

Tirta Jayakusuma: Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi
Penyesalan pasti terlambat datangnya


__ADS_3

Begitu Tirta sampai di hadapan mereka, Ki Karto telah membuka matanya yang tadinya terpejam.


Dia segera mengenali Tirta Jaya Kusuma sebagai pemuda yang tadi pagi berusaha meminjam kuda-kudanya bersama dengan Bango Putih dan yang lainnya.


Di Karto pun segera menyesali bahwa dia tidak mau melepaskan kuda-kudanya untuk dipakai oleh para pemuda dari padukuhan induk Pucakwangi.


Namun kini semua telah terlanjur, sesal tiada guna.


"Maafkan kami Ki Demang. Tadi pagi kami telah menolak meminjamkan kuda-kuda kami dan kini kuda-kuda kami pun telah dirampas oleh para begal dan perampok itu yang telah menyambangi dan menghancurkan tempat kami." kata Juragan Karto lirih, menunjukkan penyesalannya yang mendalam.


"Bahkan aku telah kehilangan putraku, kehilangan sanak saudaraku dan para pembantu setiaku," kata Ki Karto lemah.


Tirta yang menyaksikan keadaan Ki Karto pun segera mendekati lelaki tengah baya ini serta memeriksa luka di lengan Ki Karto.


"Rara, tolong ambilkan parem yang aku buat yang ada di banjar di depan." Kata Tirta Jaya Kusuma kepada Rara Wulan.


Pemuda ini memang telah membuat parem yang cukup banyak untuk mengobati luka-luka akibat senjata tajam di tubuh-tubuh para prajurit muda dan juga warga padukuhan yang telah terluka oleh senjata-senjata tajam dari para begal.


Sesaat kemudian Rara pun telah kembali ke tempat itu dan menyerahkan satu mangkuk yang berisi parem yang telah dibuat oleh Tirta Jaya Kusuma.


Perem ini terdiri dari berbagai macam daun-daunan yang berasal dari sekitar padukuhan ini.


Ada daun kemlanding, daun opo opo, daun gandang gendis, adas dan berbagai macam tumbuhan yang lain yang kemudian telah dibuat parem oleh pemuda ini.


Selain menggunakan parem yang dibuatnya, Lowo Ijo telah memberikan pijatan dan urutan untuk melemaskan otot-otot dari Ki Karto.


Sementara anak gadisnya telah menunggu di samping di Karto dengan wajah yang sangat khawatir.


Sesaat kemudian Ki Karto telah merasa jauh lebih baik.


"Terima kasih anak muda, terima kasih! Aku benar-benar sangat menyesal aku tidak mengetahui kesulitan dari warga padukuhan ini dan kini aku telah mengalami akibatnya." keluh Juragan Karto.


"Harta bendaku ludes dibawa oleh para perampok itu," kata Ki Karto yang nampaknya sangatlah bersedih kehilangan harta bendanya.


Bagaimanapun juga selama ini dia telah bersusah payah untuk bisa mendapatkan harta-harta itu.

__ADS_1


Dan dalam sekejap harta bendanya telah hilang.


"Sudahlah Ki, segala harta benda keduniawian hanyalah titipan dari Allah semata, jika yang di atas menghendakinya maka dalam sekejap dia pun akan mampu mengambilnya."


"Bahkan kehidupan dan nyawa kita adalah miliknya tak akan mampu kita menghindarinya walaupun kita bersembunyi di dalam sebuah benteng yang sangat kuat sekalipun dan dijaga oleh ribuan prajurit yang kuat." Kata Tirta Jaya Kusuma.


"Ki Karto masih bisa menghirup udara bebas dan menikmati kehidupan yang diberikan oleh Allah ta'ala. Ki Karto masih bisa berusaha untuk mendapatkan harta benda itu lagi yang terpenting adalah keselamatan Ki Karto dan juga Putri Ki Karto."


"Ingat Putri Ki Karto masih membutuhkan bimbingan dari Ki Karto," tambah Lowo Idjo.


Walaupun pemuda ini hanyalah seorang pemuda yang masih hijau akan tetapi pengalaman lah yang telah membuat Tirta Jaya Kusuma mampu memberikan semua nasihatnya kepada juragan Karto ini.


"Bener apa yang kau sampaikan anak muda, terima kasih  atas nasihatmu," kata Ki Karto.


Andai saja nasihat ini disampaikan oleh Lowo Ijo di saat juragan Karto masih dalam posisinya sebagai seorang juragan yang kaya raya, maka pastilah sang juragan akan muntab dan marah besar! Tidak akan menerima apa yang disampaikan oleh Tirta Jaya Kusuma.


Berhubung sekarang ini sang juragan dalam keadaan terpuruk, dia bisa menerima semua apa yang dikatakan oleh Lowo Idjo.


Semua yang berada di pendopo rumah Ki Demang ini telah dapat mendengar apa yang disampaikan oleh tirtaja Kusuma sehingga semakin kagum lah ki Demang, Rara Wulan dan juga anak gadis Ki Karto.


Sebuah pengharapan yang tidak dikenalinya.


"Aku kira luka-luka di lengan di Karto sudah tidak membahayakan lagi, aku akan kembali ke banjar untuk melihat keadaan para warga dan juga para prajurit yang sedang terluka Ki Demang," kata Lowo Idjo.


"Sekali lagi aku ucapkan terima kasih anak muda," kata di Karto ketika melihat punggung dari pemuda ini telah melangkah keluar dari pendopo rumah Ki Demang.


Beberapa saat kemudian ketika Tirta Jaya Kusuma telah berada di antara kawan-kawannya di banjar.


Rara Wulan nampak mendatangi pemuda ini.


Gadis muda ini kemudian telah duduk di samping Tirta Jaya Kusuma .


"Hebat kau Kakang!" Kata gadis ini ketika sudah berada di samping Tirta Jaya Kusuma.


"Engkau berani memberikan nasihat kepada juragan itu yang terkenal sangat galak dan tidak mau menerima perkataan dari orang lain," kata Rara Wulan.

__ADS_1


"Ah biasa saja Rara..


Aku hanya menyampaikan kebenaran, entah diterima atau tidak itu terserah dia."


"Akan tetapi aku kira dia seharusnya sudah sadar bahwa apa yang dilakukannya selama ini adalah salah." Kata Tirta Jaya Kusuma.


"Bagaimanapun dia tetap membutuhkan warga Padukuhan Pucakwangi ini."


"Siapa lagi yang akan membantunya kalau tidak orang-orang yang berada di dekatnya." lanjut Tirta yang kemudian menarik nafas panjang.


Sesaat kemudian barulah pemuda ini melanjutkan perkataannya.


"Kini dia telah kehilangan para centeng dan juga anak buahnya dan sanak saudaranya.


Kini kalianlah warga Pucakwangi yang menjadi saudaranya yang akan melindunginya dari ancaman marabahaya." Lanjut Lowo Idjo sambil tersenyum memandang ke arah Rara Wulan.


Gadis ini yang dipandang demikian rupa oleh Lowo Idjo seketika menundukkan wajahnya.


Dia tidak mampu menatap mata  yang sangat tajam namun teduh dari pemuda ini.


Mata yang mampu menembus relung hati dan mengguncangkan segenap perasaannya.


Ketika kemudian terdengar suara rintihan dari salah satu pemuda yang nampaknya mengalami luka tusuk di lambungnya.


Tirta pun kemudian telah bangkit untuk melihat keadaan pemuda itu.


"Sebentar Wulan, aku akan memeriksa keadaan pemuda itu. Lukanya cukup parah dan aku tidak yakin bahwa dia akan mampu bertahan sampai esok hari. Namun jika dia mampu bertahan sampai esok hari insya Allah dia akan selamat," lanjut Tirta Jaya Kusuma.


Rara Wulan pun ikut bangkit dan mengikuti Tirta jaya Kusuma dari belakang.


Sesaat kemudian Tirta telah mendapati seorang pemuda yang terbaring di sebuah tikar pandan di Banjar dengan ditunggui oleh seorang wanita tua dan beberapa orang pemuda yang nampaknya adalah para sahabat dari pemuda ini.


"Tolong Sardi, Lowo Ijo," seru seorang pemuda yang berada di samping pemuda ini yang kemudian telah memberikan tempatnya kepada Tirta jaya Kusuma.


Dan  kemudian Tirta telah memeriksa sang pemuda yang mempunyai luka yang cukup parah ini.

__ADS_1


__ADS_2