Tirta Jayakusuma: Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi

Tirta Jayakusuma: Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi
Senopati Wanita


__ADS_3

Kesabaran Pandan Arum benar benar mulai runtuh.


Gadis ini telah melompat dari atas punggung kudanya.


Dan...


Cepat bagaikan kilat tangan halus gadis ini telah menyambar ke arah pemuda kekar ini.


"Plaaak!"


Sebuah tamparan keras telah menghantam pipi pemuda kekar ini.


"Augh..!"


Seketika tubuh pemuda  kekar  ini telah berputar kemudian telah terjatuh terbanting di atas bebatuan jalanan.


Pemuda kekar ini sangat terkejut dan dia telah berusaha bangkit.


Akan tetapi nampaknya dia telah mengalami kesakitan yang luar biasa sehingga dia telah kembali jatuh.


Tergambar jelas bekas lima jari di pipi pemuda kekar ini.


Dia kemudian telah menggunakan kedua tangannya untuk menahan tubuhnya yang besar supaya tidak jatuh terlentang di atas tanah.


Dengan berjongkok tiba-tiba dari mulutnya telah keluar darah disertai giginya yang telah rontok.


Pemuda ini benar-benar telah mengalami tamparan yang berat.


Giginya telah tanggal dan rontok beberapa biji.


Matanya nanar sehingga dia tidak mampu berdiri tegak.


Sementara kawan-kawannya yang lain hanya bisa terpana dan tercengang menyaksikan pergerakan dari gadis cantik ini.


Dan pada saat itu beberapa orang penunggang kuda yang berasal dari arah dalam padukuan telah mendatangi tempat itu.


Seorang pria yang berpakaian prajurit telah melompat turun.


Akan tetapi begitu prajurit ini telah turun dan memandang ke arah depan maka diagram lihat seorang gadis cantik yang ada di depannya.


"Tuan putri! Ndoro putri!" Seru prajurit ini terkejut bukan main.


Prajurit ini pun segera berlutut dan menggunakan lutut kanannya untuk tumpuan sedangkan dia pun telah menunduk dan menyembah pada gadis ini.


Ya, nampaknya prajurit ini telah mengenali putri dari Ki Tumenggung Sawunggaling.


Para penjaga regol yang ada di tempat ini kejut  bukan main, sehingga mereka hanya bisa terpana menyaksikan bahwa Ki Lurah Prajurit yang mereka hormati  yang merupakan pimpinan prajurit di tempat ini telah bersikap demikian hormat terhadap gadis cantik ini.


"Apakah engkau tidak mengajarkan unggah-ungguh dan subo sito Ki lurah!?" Seru Pandan Arum yang nampaknya masih marah dengan kejadian ini.

__ADS_1


"Maafkan kami Putri! Maafkan kami Den Ayu, salah hamba yang tidak mengajarkan adab kesopanan kepada para pengawal ini padukuhan ini!" Kata Ki Lurah prajurit. yang memang bertanggung jawab di padukuhan ini.


"Sebenarnya aku telah mendidik mereka dengan keras Putri akan tetapi mereka adalah pemuda-pemuda yang masih mempunyai jiwa muda yang ingin menang sendiri dan menunjukkan kekuatannya! Untunglah yang mereka ganggu adalah Putri Ki Sawunggaling sehingga  pemuda itu telah mendapatkan hukuman yang setimpal!" Kata Ki Lurah.


"Untuk kedepannya, aku pastikan para prajurit hamba akan lebih disiplin dan menghargai orang lain dan tidak bertindak gegabah terhadap orang yang melintasi padukuhan Triguna ini," kata Ki Lurah Prajurit ini.


"Baiklah kali ini kalian aku maafkan, " kami sedang terburu-buru sehingga kami harus cepatnya melanjutkan perjalanan menuju Kadipaten," kata Pandan Arum.


Pandan Arum  kemudian telah melompat kembali ke atas kudanya dan kemudian telah memerintahkan rombongan ini untuk kembali melanjutkan perjalanan.


Mereka harus secepatnya sampai ke Pati.


Setelah kepergian rombongan Pandan Arum. beberapa orang pengawal muda dari Dukuh Triguna hanya bisa berkasak kusuk membicarakan kejadian yang baru saja terjadi.


"Luar biasa! Luar biasa gadis itu! Seorang Senopati Wanita yang sangat hebat! Pantas saja, dia adalah putri Ki Tumenggung Sawunggaling yang perkasa! salah seorang Soko guru Kadipaten Pati!" Kata seorang pengawal padukuhan yang kemudian diikuti dengan anggukan kepala dari kawan-kawan nya.


***


Sementara Pandan Arum dan rombongan ini kembali berpacu di jalanan berbatu melintasi Kademangan Sukolilo dan selanjutnya menuju ke kota Kadipaten Pati.


Hari telah menjadi malam ketika mereka telah mendekati regol Kadipaten.


Dan di sana ada prajurit-prajurit yang tengah berjaga.


Ketika kemudian Putri Pandan Arum telah sampai di regol Kadipaten maka beberapa prajurit segera mengenali putri dari Tumenggung Sawunggaling ini.


Pandan Arum memang sangat terkenal di kalangan rakyat jika di Kota Kadipaten Pati.


"Oh putri Pandan Arum!" seru seorang prajurit ketika hendak menghadang perjalanan rombongan ini.


"Silakan lewat Raden Ajeng  kata prajurit ini mempersilahkan rombongan Putri Pandan Arum untuk memasuki kota Kadipaten.


"Terima kasih Paman?" Kata Putri Pandan Arum yang kemudian telah memasuki kota dengan mengurangi kecepatan lari dari kuda-kuda yang mereka tunggangi.


Ketika kemudian dia telah menuju bagian timur dari kota kadipaten ini, Putri pandan Arum telah mengajak rombongan ini untuk menuju ke tempat Ki Tumenggung Sawunggaling terlebih dahulu.


Rumah Ki Sawunggaling berada di sebelah timur dari pura kadipaten.


Rumah ini terdiri dari beberapa rumah joglo dengan pendopo kartu manggungan yang cukup besar dan megah.


Ketika sampai di halaman pendopo maka terlihatlah di tengah-tengah pendopo masih menyala penerangan  dan beberapa orang tengah berada di tempat itu.


"Romo!" Seru pandanarum yang kemudian telah naik ke atas pendopo.


Dia adalah seorang gadis yang sangat manja kepada ayahnya.


Ayahnya sendiri, Ki Tumenggung Sawunggaling adalah seorang ayah yang sangat memanjakan putrinya ini.


Ki Sawunggaling mempunyai dua orang putra dan seorang putri

__ADS_1


Sehingga dapat dikatakan bahwa Pandan Arum adalah gadis satu-satunya dari Ki Tumenggung sehingga dia sangatlah dimanja oleh romonya.


"Loh! Arum?! Ada apa engkau malam-malam begini kembali ke Kadipaten!?" Seru Tumenggung Sawunggaling yang nampaknya terkejut dengan kedatangan putrinya ini.


"Iya ayah.. Arum kangen dengan Ayah dan Ibu, juga kangen sama kakang Jayeng Kusuma dan adi Sabakerti," kata Panfam Arum.


"Trus itu siapa yang kamu ajak kemari?" Tanya Ki Tumenggung Sawunggaling pada putrinya ini.


"Oh, itu kakang Lowo Ijo dan Kakang Bango Putih ayah," Jawab gadis ini.


"Eh, Lowo ijo!? kemarilah anak muda," seru Ki Tumenggung sambil menggapai ke arah Tirta Jaya Kusuma dan juga Bango Putih.


"Dan siapa yang 4 orang yang nampaknya seperti prajurit-prajurit pula tapi aku tidak mengenal mereka?" Tanya Ki Tumenggung Sawunggaling


"Oh ya, ya kedatanganku kemari selain aku kangen kepada ayah dan Kakang dan Adi, aku juga mengantarkan orang-orang yang katanya utusan dari Mataram yang ingin menghadap kepada Adipati Pragolo," lanjut Pandan Arum.


"Eh..?


Utusan Mataram?" Tegas Ki Tumenggung Sawunggaling.


"Iya Romo, ke empat  orang prajurit itu adalah prajurit-prajurit Mataram! Prajurit-prajurit utusan dari Sinuwun Prabu Hanyakrakusumo dari Mataram," kata Pandan Arum.


Ki Tumenggung kemudian telah memanggil para utusan Mataram ini menghadapnya.


Sang Tumenggung menanyakan tujuan dari para utusan itu.


"Kami memang adalah utusan dari Sinuhun Prabu Hanyokrokusumo dari Mataram Ki Tumenggung," kata pemimpin dari para perusahaan ini seraya menunjukkan sebuah lencana yang menunjukkan bahwa dia benar-benar prajurit Mataram dan juga menunjukkan gulungan surat atau dari Sang Prabu Panembahan Senopati atau Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Mataram.


"Baiklah aku percaya kalian!" Kata Ki Tumenggung Sawunggaling.


Mengetahui bahwa alangkah pentingnya surat yang akan disampaikan ini maka Ki Tumenggung Sawunggaling pun telah bergegas untuk mengajak para utusan ini menuju ke pendopo kadipaten.


Sementara Lowo Ijo yang ingin melihat leluhurnya, Adipati Pragolo segera menyampaikan niatnya untuk bisa berjumpa dengan sang Adipati dengan mengikuti Ki Tumenggung Sawunggaling ke pendopo Kadipaten.


***


Pendopo kadipaten sendiri berada di lingkungan komplek bangunan Kadipaten yang sangat luas dengan regol yang cukup besar.


Sementara kediaman sang Adipati pragolo sendiri berada di sebuah komplek yang paling megah dan kokoh.


Sementara bangunan bagian kiri adalah bangunan kaputren di mana istri dan juga putri-putri dari Adipati berada sementara di sebelah kanan dari bangunan utama tempat kediaman Adipati adalah bangunan kepangeranan di mana putra putra dari Adipati Pragolo  berada.


Dan ketika kemudian mereka telah sampai di halaman pendopo kabupaten maka di pendopo itu masih terlihat terang benderang dan beberapa orang petinggi Kadipaten nampak sedang berada di sana.


Mereka nampak berbicara dengan serius antara satu dengan yang lain dan ketika kemudian mereka mengetahui kedatangan beberapa orang penunggang kuda mereka segera menoleh ke arah orang-orang ini yang ternyata adalah itu manggung Sawunggaling.


"Oh Ki Tumenggung Sawunggaling! Monggo Monggo Ki Tumenggung! Seru seorang pria berwajah ramah dengan mengenakan baju lurik dan kain batik bermotif parang Barong.


Dia ini adalah Tumenggung Mangunjaya. Salah seorang Tumenggung yang telah bersumpah setia kepada Adipati Pragolo.

__ADS_1


Dia seperti halnya Ki Tumenggung Sawunggaling yang  telah menyatakan kesetiaannya memberikan segenap jiwa dan raganya kepada Adipati Pragola dan tanah Pati Pesantenan.


__ADS_2