
"Heh?" Seru dua pria ini ..
"Buat apa kalian mau meminjam kuda-kuda milik juragan Karto!?"
"Apa Ki Demang tidak tahu bahwa kuda milik juragan Karto tidak pernah di pinjamkan kepada siapapun juga dan jikapun dipinjam juga harus membayar uang sewa yang tak mungkin bisa dibayarnya!" Kata pria ini.
"Maaf, Kademangan berada dalam keadaan gawat Kang, ada sekelompok perampok dan begal yang akan menyerang Kademangan dan penting bagi kami untuk mendapatkan dukungan kuda-kuda dari juragan Karto," kata Bango Putih.
"Aku tidak perduli! Itu urusan Ki Demang!"
Seru salah satu dari orang ini.
Sementara itu mendengar suara ribut-ribut di halaman rumah, seorang pria dan seorang gadis telah keluar dari rumah besar yang merupakan rumah induk dari kumpulan rumah milik keluarga juragan Karto.
Keluarga juragan Karto sendiri menempati tempat ini bersama sanak keluarganya.
Ada sekitar sepuluh kepala keluarga yang menempati pinggiran desa ini dan membentuk sebuah dusun kecil.
"Ada apa ini?" Tanya seorang pria tengah baya sedikit gemuk ini begitu sampai.
Bango Putih segera mengenal orang ini yang ternyata adalah juragan Karto dan anak gadisnya dan dia pun segera berkata.
"Maaf juragan, kedatanganku kemari karena mendapatkan perintah dari Ki Demang dan juga Ki Jagabaya untuk meminjam kuda-kuda yang dipunyai juragan karena Kademangan sedang menghadapi ancaman bahaya."
"Ada gerombolan begal yang hendak menyerang Kademangan dan mereka menggunakan kuda kuda yang cukup banyak sehingga kami memerlukan kuda-kuda pula untuk menghadapi mereka."
"Dan untuk itulah kami ingin meminjam kuda-kuda milik Juragan," kata Bango Putih.
Mendengar perkataan dari bambu putih ini nampaknya cukup kaget.
Dia belum mendengar berita ini dari warga padukuhan. Karena memang jarak antara rumahnya dengan padukuhan induk memang cukup jauh.
"Hmm, ada kejadian seperti ini!" Batin Juragan Karto.
Tapi kuda kuda miliknya adalah kuda kuda yang bagus yang berharga sangat mahal dan bahkan para petinggi di Pati pun seringkali membeli kuda kudanya dengan harga tinggi untuk tunggangan mereka.
"Tidak bisa anak muda! Kuda-kuda ini adalah kuda-kuda yang sudah akan aku kirim ke Kadipaten! Kuda kuda ini sudah dipesan oleh Tumenggung Kaliki dan aku tidak berani melepaskannya, kecuali Ki Demang berani membayar jauh lebih tinggi dari apa yang dibayar oleh Ki Tumenggung Kaliki!" Kata sang Juragan.
Mendengar jawaban dari sang juragan nampaknya Bayu yang sudah mulai tidak sabar segera berkata.
__ADS_1
"Jika juragan tidak mau meminjamkan kuda-kuda itu maka biarlah rekan kami ambil dengan paksa kudamu itu!" Seru Bayu yang kemudian melangkah ke arah kiri dari rumah besar ini di mana terdapat sebuah kandang kuda yang cukup besar dan terdapat beberapa ekor kuda di sana.
Dua orang yang merupakan pengawal dari juragan Karto pun segera meloncat menghadang Bayu.
"Huh, bocah gemblung kurang ajar! Engkau belum pernah diberi pelajaran sama bapakmu ya!" Seru kedua orang ini dengan wajah beringas.
"Ayah.. sudahlah ayah.. pinjamkan saja kuda kuda itu, mereka sangat membutuhkan nya ayah!" Seru gadis yang ada dibelakang juragan Karto yang nampaknya adalah putri sang Juragan.
"Lagi pula jika mereka gagal menghadapi para perampok dan begal itu kemungkinan di tempat ini pun pasti akan terkena akibatnya."
"Kita harus bekerja sama dengan mereka ayah," kata gadis ini yang nampaknya bisa berpikir lebih jernih ketimbang sang ayah.
"Tidak Nduk! Biarlah mereka menghadapi para begal dan perampok itu, jika begal dan perampok itu mengganggu keluarga kita maka kita pun akan bisa menghabisi dan mengusir para perampok dan begal itu," kata juragan Karto penuh percaya diri.
Selama ini sudah berapa kali keluarganya telah disatroni oleh para perampok dan begal yang ingin menguasai harta kekayaannya.
Akan tetapi beberapa kali pula mereka telah berhasil diusir dan bahkan mereka telah terbunuh di tempat ini oleh para penjaganya dan juga para pengawalnya.
Juragan karto telah menyewa para gegedug untuk menjaga harta bendanya.
Sehingga dia sangat percaya akan kekuatan para pengawalnya ini.
"Kita tidak punya banyak waktu Mblung! Jika kita menghadapi mereka kita akan kehilangan banyak waktu! Jangan hiraukan mereka ayo kita pergi saja!" Kata Bango putih.
Nampaknya Bango putih cukup gentar dengan keberadaan para pengawal dari juragan Karto.
Sebelumnya dia telah mendengar beberapa para pengawal dari juragan karton yang sangat garang dan ganas.
beberapa kali mereka mampu mengusir para perampok dan begal yang hendak merampok rumah juragan Karto.
"Apakah kita akan kembali dengan tangan hampa? Tanpa kuda-kuda itu kang?" Kata Bayu nampak kecewa.
"Sudahlah tidak apa-apa MBlung! Kita masih akan menghadapi para perampok itu jika kita harus mengeluarkan tenaga untuk menghadapi para pengawal dari Juragan Karto, aku pikir bukanlah hal yang tepat.'" kata Adnan Bijak.
Bayu atau Lowo gemblung nampang menggerutu dengan keputusan dari Adnan dan Bango Putih.
"Ayo kita harus segera kembali ke padukuhan induk dan menyampaikan hal ini kepada Ki DemangK!" Seru Bango Putih yang kemudian telah mengajak mereka kembali ke padukuhan induk.
"Awas ya! Jika kalian berani datang kemari lagi akan aku hajar kalian!" Seru salah satu penjaga rumah juragan Karto.
__ADS_1
Setelah kepergian dari beberapa orang pemuda utusan dari Ki Demang Pucak wangi.
"Kenapa tidak dipinjamkan saja kuda-kuda itu ayah! Mereka sangat membutuhkannya," kata putri dari juragan Karto.
"Tidak bisa Nduk! Kuda-kuda itu sangat mahal harganya."
"Sedangkan kuda biasa saja sudah sangat mahal apalagi kuda-kuda itu adalah kuda-kuda terbaik kuda-kuda yang berasal dari indukan yang baik pula," jawab sang ayah.
"Tapi ayah, jika para perampok dan begal itu berhasil menguasai Kademangan dan merampok segala sesuatu yang ada di padukuhan, mereka juga akan menuju kemari dan mungkin akan merampok tempat ini dan menghancurkan tempat ini ayah," kata gadis ini yang nampak sangat khawatir.
Beberapa kali gadis ini telah menyaksikan bagaimana ganasnya para perampok yang berusaha merampok tempat mereka ini.
"Jangan khawatir Nduk, para pengawal kita sangatlah kuat. Mereka sudah berkali-kali menggagalkan usaha para perampok dan begal itu." Kata sang ayah sangat percaya akan kekuatan para pengawalnya.
"Mungkin saja mereka mampu mengalahkan orang-orang dari padukuan itu, akan tetapi mereka tidak akan mampu menguasai tempat kita ini," kata juragan Karto kepada putrinya.
Juragan Karto tidak menyadari bahwa para perampok dan begal yang akan menyerang kademangan Pucakwangi bukanlah perampok dan begal biasa.
Mereka adalah perampok dan begal dari alas kunduran yang sangat terkenal akan keganasannya apalagi mereka juga didukung oleh orang-orang yang nampaknya berasal dari Mataram.
Mereka telah ditunggangi oleh satu kepentingan yang lebih besar lagi.
***
Sementara itu Ki Rangga Jagadenta telah menyiapkan pasukannya yang terdiri dari para pemuda dan para pria warga Kademangan Pucakwangi yang masih cukup kuat untuk mengangkat senjata.
Ki Rangga Jagadenta sadar bahwa pasukannya baru saja terbentuk.
Para pemuda di tempat ini belum terbiasa memegang senjata, mereka hanya terbiasa mengangkat cangkul dan juga kapak untuk mencari kayu bakar.
Mereka belum pernah mengalami pertempuran yang sesungguhnya. Mereka belum pernah melihat ganasnya pertempuran yang menumpahkan darah.
Dan ki Rangga Jagadenta telah membagi pasukannya menjadi beberapa bagian.
Pasukan induk yang terdiri dari kekuatan utama di mana para pemuda yang telah bergabung menjadi pengawal dan berlatih lebih dulu dan dianggap mempunyai kemampuan yang cukup telah ditempatkan di tengah-tengah Oro-oro Ombo secara terang-terangan untuk menghadang pergerakan dari gerombolan begal alas kunduran.
Sementara sebagian lagi telah disiapkan di sayap-sayap kanan dan kiri.
Dan sebagian telah dipersiapkan pula sebagai pasukan cadangan.
__ADS_1
Nampaknya Ki Rangga Jagadenta benar-benar telah mempersiapkan semuanya dengan baik.