Tirta Jayakusuma: Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi

Tirta Jayakusuma: Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi
Penderitaan Akibat Perang


__ADS_3

Malam semakin larut dan suasana di banjar serta di sekitar padukuhan Pucakwangi pun mulai sepi.


Hanya suara anjing hutan yang menggonggong dan juga binatang-binatang malam yang berasal dari hutan-hutan di sekitar padukuhan Pucakwangi ini.


Beberapa jenak Tirta, Bayu dan Adnan bisa beristirahat ketika kemudian terdengar suara tangisan seorang anak perempuan yang memanggil-manggil nama ayahnya.


"Ayah.. ayah.. jangan pergi ayah! Jangan tinggalkan Ningsih ayah!" Terdengar suara tangisan anak perempuan di salah satu sudut banjar.


Tirta,  Bayu dan Adnan serta Bango Putih yang terus mengikuti  para pemuda ini yang sejak tadi terus berkeliling  dan hanya beberapa Jenak beristirahat segera bangkit dan menuju ke arah suara tangisan.


Ketika kemudian didapati seorang anak gadis yang tengah mendekap tubuh seorang laki-laki.


Seorang laki-laki yang berusia sekitar tiga puluh tahunan tengah terbujur diatas geladak banjar beralaskan tikar pandan.


Dan di atas  dadanya, seorang gadis kecil tengah memeluk dan terus memanggil dan mengguncang tubuh pria ini.


Sebenarnya Tirta sudah berusaha sekuat tenaga untuk bisa menyelamatkan laki-laki ini akan tetapi luka-luka yang deritanya sangatlah parah.


Ada goresan besar di dadanya yang terus mengalirkan darah segar.


Sementara di pelipisnya pun telah terluka akibat benturan benda tumpul.


Di genggamnya pergelangan tangan pria malang ini.


Tak ada denyutan nadi, dengan tenaga batin yang sudah mencapai kesempurnaan, Tirta berusaha memberikan pertolongan, akan tetapi seperti yang sudah-sudah, tenaga batinnya seperti memasuki samudra luas tanpa tepi. Hilang begitu saja.


Kekuatan batinnya tak mampu menyelamatkan  pria ini.


Dia hanya bisa menarik nafas panjang.


"Tuhan telah berkehendak lain terhadap pria ini," batin Tirta.


Di elusnya rambut panjang gadis kecil ini dengan lembut.


"Ayahmu telah kembali kepada sang pencipta Nduk.. tidak akan sia sia pengorbanan ayahmu," bisik Tirta.


"Kamu harus tabah! Kamu harus kuat Nduk," lanjut Tirta berusaha menghibur gadis kecil ini.


"Hu, hu hu... Iya kakang.. tapi  aku sudah tidak punya siapa siapa lagi.." bisik gadis kecil ini.


Gadis ini pun menangis terisak-isak.


"Jangan sedih Nduk. Kamu masih mempunyai kami, masih  punya sahabat dan teman,  masih ada Ki Jagabaya, masih ada Ki Demang. Atau masih ada Mbakyu Rara Wulan yang akan melindungimu dan menjagamu," kata Tirta Jaya Kusuma berusaha meredakan tangisan gadis kecil ini.


***


Fajar mulai menyingsing dan Tirta, Bayu serta Adnan telah di panggil oleh Ki Tumenggung Sawunggaling ke halaman banjar yang ternyata beberapa ketua kelompok kecil pun telah hadir di tempat ini.


Sementara prajurit -prajurit Pati telah bersiap diatas kuda-kuda mereka.


"Ki Rangga Jagadenta, pilihlah pasukan-pasukan terbaikmu.

__ADS_1


Kita akan bergerak menuju ke Gua Lowo!" Kata Ki Tumenggung Sawunggaling.


"Kita harus segera menghancurkan kelompok begal yang telah ditunggangi oleh para prajurit Mataram itu! Sebelum mereka berubah menjadi pasukan yang lebih besar dan akan membahayakan kita di Kadipaten Pati Pesantenan.


"Aku tidak ingin ada prajurit Mataram di wilayahku!" Kata Ki Tumenggung Sawunggaling dengan nada geram!


"Tidak perlu kita membawa pasukan yang banyak kita hanya memerlukan prajurit-prajurit yang tangguh untuk bisa menghancurkan para begal yang bersarang di Gua Lowo itu.


"Sebenarnya lah kedatanganku ke tempat ini untuk melihat-lihat keadaan di perbatasan gunung Gamping, lereng kendeng ini." Terang Ki Tumenggung.


"Adipati Pragolo telah memerintahkan kepadaku untuk membuat barisan pertahanan di sepanjang pegunungan Gamping untuk mencegah dan menghambat pergerakan para prajurit Mataram yang kemungkinan akan menyerbu dari arah Gunung Gamping ini.


"Kita akan membuat pertahanan di Gunung Gamping untuk menghadang laju pasukan Mataram yang kemungkinan besar akan melewati wilayah ini jika mereka benar-benar akan menyerang Kadipaten Pati," terang Ki Tumenggung.


Ki Rangga Jagadenta kemudian telah menyiapkan pemuda-pemuda yang dinilainya mempunyai ilmu prajuritan cukup menonjol.


Ada lima puluh orang yang akhirnya terpilih untuk mengikuti pergerakan dari Ki Tumenggung Sawunggaling, termasuk didalamnya Tirta, Bayu dan Adnan serta Lokajaya dan Bango Putih.


Ketika matahari sudah setinggi tombak maka gabungan pasukan dari Kadipaten Pati yang dipimpin oleh Tumenggung Sawunggaling dan para prajurit pengawal Kademangan Pucak wangi yang dipimpin oleh Ki Rangga Jagadenta  mulai bergerak ke arah selatan di mana Gua Lowo yang merupakan benteng pertahanan dari para begal alas kunduran berada.


Derap pasukan berkuda ini telah menimbulkan debu sepanjang perjalanan mereka.


Beberapa saat rombongan pasukan ini telah melewati Oro-oro  Ombo dan kemudian melewati jalanan berbatu menuju ke lereng gunung Gamping.


Ketika mereka kemudian telah sampai di pinggiran hutan di mana dalam jarak beberapa ratus  tombak maka di depan mereka  segera terlihat sebuah gua dengan mulut gua tertutupi oleh sebuah batu yang cukup besar sehingga keberadaan Guo Lowo yang digunakan oleh para begal alas Kunduran ini sekilas tersamar dan tidak akan diduga oleh orang orang yang hanya sekedar melintasi tempat ini tanpa memperhatikan lebih seksama tempat ini.


Tirta Bayu dan Adnan serta Bango  putih beberapa waktu yang lalu telah membuntuti para begal ini sehingga dia pun masih teringat jelas letak dari Gua Lowo.


Ketika prajurit prajurit ini telah sampai di depan Gua Lowo.


Ternyata tidak ada seorangpun manusia yang ada di gua Lowo ini.


"Hmm .. mereka telah melarikan diri!" Geram Ki Tumenggung Sawunggaling dengan mengepalkan tinjunya.


Hanya ada jejak saja yang menunjukkan bahwa tempat ini telah dipergunakan oleh para begal itu.


Sementara perapian yang ada di dalam gua maupun di luar gua masih mengeluarkan bara api.


"Nampaknya mereka belum lama meninggalkan tempat ini Ki Tumenggung!" Kata Ki Rangga Jagadenta.


"Benar Jagadenta! Nampaknya mereka barusan meninggalkan tempat ini."


"Kita akan mengejar mereka Ki Rangga Jagadenta."


"Mereka hanya berjalan kaki, jadi aku pikir mereka tidak akan terlalu jauh dari tempat ini,"  lanjut Ki Tumenggung Sawunggaling.


Ki Tumenggung kemudian telah memerintahkan pasukan berkudanya untuk berjalan lebih dulu dengan mengikuti arah yang telah dituju oleh para begal dari alas kunduran itu.


Dengan pergerakan dari ratusan orang maka akan mudah untuk mengikuti jejak mereka.


Mereka telah meninggalkan jejak-jejak yang nyata. Rumput rumput yang rebah serta ranting-ranting yang berpatahan karena dilewati oleh ratusan orang sekaligus.

__ADS_1


Dan mereka tidak mengira bahwa pasukan Kademangan Pati akan terus memburu keberadaan mereka.


"Mereka nampaknya berjalan menyusuri lereng-lereng pegunungan Gamping ini menuju ke arah timur Ki tumenggung!"  Lapor seorang prajurit yang berada di garis depan yang mengikuti jejak yang ditinggalkan oleh para begal Alas  Kunduran.


"Terus ikuti jejak itu prajurit!" Seru Ki Tumenggung.


Kembali pasukan berkuda ini telah bergerak cepat mengikuti jejak-jejak yang ditinggalkan oleh para perampok ini.


Sementara itu rombongan pasukan pilihan dari Kademangan Pucakwangi telah tertinggal jauh di belakang dari pasukan berkuda, akan tetapi ada para penghubung yang tiap-tiap saat menghubungkan antara dua pasukan ini.


Pasukan pilihan dari Kademangan Pucakwangi ini  dipimpin Ki Sarno dan juga Ki  Suro yang dianggap cukup berpengalaman dengan dibantu oleh Lokajaya dan juga Lowo Ijo, Si Gemblung dan Codot alias Lowo Cilik.


Dan ternyata putri Ki  Tumenggung Sawunggaling yang bernama Pandan Arum  lebih suka berada di antara para prajurit muda dari Kademangan Pucakwangi.


Gadis ini merasa lebih senang berada di antara para pemuda.


Bagaimanapun dia adalah seorang gadis yang lincah dan baru tumbuh dewasa  yang masih membutuhkan perhatian dari para pemuda.


Dan satu hal, gadis ini sangat senang dengan sanjungan dan puja puji serta pandangan-pandangan kagum yang tertuju ke arahnya.


Namun yang membuat hatinya agak sedikit terganggu dan terusik adalah sikap dari pemuda yang bernama Lowo Ijo ini.


Pemuda yang mempunyai daya tarik yang luar biasa ternyata tidak memperdulikan keberadaannya.


Namun sikap dari pemuda ini pun nampaknya telah tertutup oleh sikap dari pemuda-pemuda yang lain yang terus saja merubungnya dan berusaha menarik perhatian seperti lebah madu yang berkumpul di kelopak bunga randu.


"Aku akan membunuh semua perampok dan begal dari atas Kunduran itu! Bahkan pemimpin dari para begal itu yang bernama Tohsidono atau Begal Alas Kunduran pun, jika dia bertarung secara jantan, tidak bersembunyi di belakang punggung dari para perampok itu pastilah diapun sudah mati di ujung tombakku!" Kata Lokajaya yang  berjalan beriringan dengan gadis putri dari ki Tumenggung Sawunggaling.


Gadis ini pun mendengarkan dengan pandangan yang sangat kagum dan takjub! Bagaimanapun dia memang telah melihat bagaimana Loka Jaya bertarung melawan para begal itu.


Walaupun gadis ini mempunyai ilmu olah kanuragan yang cukup hebat yang telah dipelajarinya dari sang ayah, akan tetapi dia mengakui bahwa pemuda yang ada di sampingnya ini benar-benar seorang pemuda yang sangat hebat, sangat kuat!


"Hmm, jika kau sehebat itu seharusnya engkau pun tidak membiarkan para prajurit yang ada dalam kelompokmu terbunuh dengan begitu saja oleh para begal itu!" Tiba-tiba saja terdengar suara celetukan dari arah belakang pemuda ini.


Terkejut juga Lokajaya mendengarnya.


"Huh... Itulah salah dari prajurit-prajurit yang bau kencur itu! Mereka hanyalah para pemuda yang baru belajar memegang golok! Seharusnya Ki Jagadenta melatih mereka lebih keras lagi!" Bantah Loka Jaya yang nampaknya tidak suka dengan perkataan ini.


Dan ketika dia mengetahui bahwa yang berkata seperti ini adalah Si Lowo Gemblung, alangkah murkanya Loka Jaya.


Selama ini yang menjadi ganjalannya dalam meraih keinginan dan tujuannya berada di antara pasukan-pasukan pengawal yang lemah ini adalah ketiga pemuda ini.


"Hmm, engkau bocah gemblung! Apa yang kalian lakukan?"


"Kalian hanya membuang-buang tenaga percuma dengan bertarung seperti anak-anak! "


"Perang adalah membunuh atau dibunuh bukan seperti kalian yang hanya memukul lawan tanpa membunuh mereka, sehingga kalian pun telah membebani dengan banyaknya tawanan yang terluka." Balas Lokajaya.


Apa yang diucapkan oleh Loka Jaya memang ada benarnya.


Dalam hal ini Tirta jaya Kusuma atau Lowo Ijo memang lebih banyak memberikan luka-luka terhadap lawan-lawannya tanpa membunuh mereka.

__ADS_1


__ADS_2