
Namun sigap, sang Senopati mengelak.
"Engkau sudah memulai lebih dulu Raden! Jangan salahkan aku kalau aku bersikap kelewat batas!" Seru sang senopati muda yang kemudian telah menggunakan sikunya untuk menghantam dada dari Raden Rangga.
Sementara para penonton juga telah berseru menyemangati kedua pemuda yang berada di tengah-tengah arena tayub.
Sorak sorai bergemuruh mendukung kedua pria muda ini
Hal seperti ini adalah lumrah terjadi dalam pertunjukan tarian tayub.
Bahkan sebagian telah bertaruh untuk jagoan mereka masing-masing sehingga menambah seru suasana.
Dua jagoan muda seperti dua ekor ayam jago yang siap bertarung memperebutkan betina.
Raden Rangga sebenarnya telah menyadari bahwa kekuatannya tidaklah memadai jika dibandingkan dengan sang Senopati muda.
Namun kemarahannya telah menutupi semuanya.
Beberapa kali pukulan dan tendangannya pun dielakkan dengan mudah oleh Sang Senopati hingga suatu ketika Sang Senopati telah berhasil menangkap pukulan tinjunya dan kemudian menariknya sehingga Raden Rangga pun tarjungkal di atas tanah di halaman Pendopo Kadipaten.
Kini Sang Senopati seperti naik di atas punggung harimau!
Tetap bertahan di tempat adalah suatu kesalahan dan jika dia mundur dari gelanggang pun juga salah.
Harga dirinya akan jatuh dan terinjak-injak jika dia melakukan itu semua.
Seringkali ki Tumenggung telah memberinya wejangan seperti seorang putranya sendiri kepada Sang Senopati muda ini untuk bisa menahan dirinya, untuk bisa mengendalikan dirinya. Karena semua kesalahan yang sering dilakukan oleh manusia adalah karena bersumber dari hawa nafsu dan keinginan yang melonjak-lonjak yang tidak terkendali.
"Engkau harus bisa mengendalikan dirimu, Joko Pekik. Musuh terbesar dari seorang manusia adalah dirinya sendiri! Krena nafsunya! Karena keserakahannya!" Kata Sang Tumenggung.
"Njih Ki Tumenggung," kata Sang Senopati muda yang memang selama ini terkenal cukup berangasan, akan tetapi dia mempunyai sifat-sifat ksatria yang sangat disukai oleh Ki Tumenggung maupun Adipati Pragolo yang seringkali menyambangi tempat mereka untuk sekedar melihat latihan olah keprajuritan maupun sekedar bercengkerama dengan para abdinya.
Kini Sang Senopati muda telah bertekad untuk menyelesaikan semuanya. Dia harus bertanggung jawab dengan apa yang telah dilakukannya.
Ketika kemudian pria yang merupakan tangan kanan dari Ki Tumenggung Jayaraga telah bergerak sedikit berputar beberapa langkah, kemudian pria ini pun telah melontarkan dirinya dan kemudian menyerang dengan pukulan yang sangat kuat!
Kesiuran angin telah lebih dulu datang sebelum pukulan tangan kanan dari pria ini datang ke arah Joko Pekik.
Sang Senopati muda pun tidak mau mundur sedikit pun juga.
__ADS_1
Tangan kirinya pun telah terangkat ke atas kemudian kaki kanannya pun telah melayang memapak kedatangan tubuh dari orang kepercayaan Ki Tumenggung Jayaraga.
"Nampaknya akan semakin seru pertunjukan ini Tirta!" Kata Raden Jayeng Kusumo yang berada di pinggir arena.
"Benar Raden," kata Tirta sambil mengangguk.
"Siapakah orang yang menjadi lawan dari anak muda itu Raden?" Tanya Tirta kepada Raden Jayeng Kusumo.
"Dia adalah orang kepercayaan dari Tumenggung Jayaraga, Ta."
"Dia sangat ditakuti karena kemampuannya benar-benar luar biasa."
"Dia adalah salah seorang dari tiga orang pengawal khusus Ki Tumenggung Jayaraga."
"Dia adalah tiga saudara kembar dari Tlatah Wetan yang bernama Jalu Kerto, Jalu Kerti dan Jalu Kaliki."
"Dan yang sedang bertarung melawan Senopati muda itu adalah Jalur Kaliki!" Terang Raden Jayeng Kusumo.
Dan sesaat kemudian di arena pertarungan pun tampaknya telah terjadi perubahan yang cukup besar.
Kemampuan dari Sang Senopati muda dan juga pria yang bernama Jalu Kaliki tersebut telah berlangsung cukup mendebarkan karena kemampuan mereka adalah kemampuan yang merambah kekuatan batin.
Tangan-tangan mereka telah berubah menjadi batangan-batangan besi keras yang jika menghantam lawan pasti akan menyebabkan luka berat dan bahkan mungkin bisa menghancurkan tubuh lawan yang berujung kepada kematian.
Sementara iringan gamelan terus saja berkumandang seakan-akan memberi semangat kepada dua orang yang sedang bertarung di tengah arena.
***
Namun di Tengah berlangsungnya pertarungan tiba-tiba saja nada gamelan yang tadinya biasa saja tiba-tiba terdengar berubah menjadi cepat dan semakin cepat.
Seakan-akan mengikuti suara gamelan yang berubah menjadi cepat, maka pergerakan dari dua orang yang sedang bertarung ini pun telah pula berubah menjadi sangat cepat pula.
Mereka seperti dua ekor ayam petarung yang bertarung tanpa mengenallah walaupun tubuh-tubuh mereka telah mulai terluka akibat pukulan-pukulan sang lawan.
Suara gamelan yang semakin cepat ini telah membuat semakin cepat pula tenaga mereka terkuras.
Mereka seakan-akan seperti dua orang gila yang terus bertarung tanpa mengenal lelah walaupun gerakan mereka menjadi semakin berat dan lambat.
Ketika kekuatan dan kemampuan mereka telah mulai melewati batas maka keduanya pun sudah tidak mampu mengikuti alunan suara gending ini yang kemudian pun telah berubah menjadi lembut mendayu.
__ADS_1
Dan kedua orang yang sedang bertarung ini pun seperti boneka-boneka yang kemudian telah berubah menjadi lembut.
Joko Pekik maupun Jalu kaliki kini merasakan gerakan mereka seakan-akan sudah tidak dapat mereka kuasai. Ada sebuah kekuatan yang tersembunyi yang ada di balik alunan gamelan.
Mereka seperti wayang-wayang yang digerakkan oleh Ki Dalang.
Dan ketika Sang Senopati muda melirik ke arah para penabuh gamelan maka dia pun segera mengenalinya.
Pemuda yang sangat dikenalinya!
"Oh, ternyata Raden Jayeng Kusumo," batin Senopati muda ini.
Diantara para pemuda di kota Kadipaten Pati, nama Raden Jayeng Kusumo memang cukup dikenal.
Putra dari ki Tumenggung Sawunggaling ini terkenal dengan keramah tamahannya dan tidak suka memancing keributan dan membuat kerusuhan. Dia berteman dengan siapa saja tanpa membeda bedakan.
Tanpa melihat kaya dan miskin. Tanpa memandang kedudukan dan jabatan.
Sementara itu Jalu Kaliki segera menyadari bahwa ada kekuatan yang membetot jiwa dan mengarahkan gerakan-gerakannya mengikuti alunan gending jawa yang seperti memaksa dirinya untuk mengikuti alunan gending jawa ini.
***
Sebelumnya, di saat pertarungan antara Jalu Kaliki dan Joko Pekik berlangsung dan sampai pada puncaknya.
"Jika mereka bertarung seperti ini kemungkinan ada salah satu yang terluka dan Kadipaten ini masih membutuhkan tenaga tenaga mereka," kata Raden Jayeng Kusumo.
"Benar Raden ," sahut Tirta seraya menganggukkan kepalanya.
"Aku akan mengambil alih gamelan mereka Ta...!"
"Bantu aku mengambil alih gamelan gamelan itu dari tangan para Nayaka! Para penabuh gamelan itu," ajak Raden Jayeng Kusumo.
Mereka kemudian berjalan memutar di belakang para penonton yang tengah melihat jalannya pertarungan antara kedua Suropati tangguh dari Pati ini.
Ketika kemudian mereka telah sampai maka Raden Jayeng Kusumo telah memerintahkan para nayoko itu untuk melepaskan gamelan-gamelan itu dari tangannya.
Namun nampaknya ada keberatan dari para penabuh gamelan ini terutama Ragil yang memegang slentem.
"Biarlah kami yang menabuh gamelan itu!" Kata Raden Jayeng Kusumo.
__ADS_1
Penampilan dari Raden Jayeng kusuma memang menunjukkan bahwa dia adalah anak seorang Tumenggung, sehingga akhirnya Ki Dipo dan Ragil yang merupakan dua orang pemimpin dari rombongan para penari tayub ini telah menyerahkan gamelan-gemaran ini kepada Raden jayeng Kusumo.