Tirta Jayakusuma: Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi

Tirta Jayakusuma: Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi
Utusan yang Sombong


__ADS_3

"Tunjukkan lencana keprajuritan kalian!" Kata ki Rangga Jagadenta tegas.


"Jika tidak jangan harap kalian dapat melewati tempat ini dengan selamat," ancam Ki Rangga lagi.


"Huh, sombong sekali kalian para pengawal Kademangan kecil ini." Kata salah  seorang utusan.


"Ini adalah peraturan kami! Peraturan yang wajib ditaati oleh siapapun juga yang melewati daerah kami," kata Ki Rangga lagi.


Nampaknya keempat prajurit Mataram ini adalah para prajurit yang merasa dirinya lebih besar dan lebih hebat ketimbang para prajurit dari Pati Pesantenan apalagi memang mereka mempunyai kewenangan penuh untuk mengantarkan nawolo dari Sinuhun Prabu di Mataram.


Dan tiba-tiba sang pemimpin telah melompat turun dengan ringannya dari atas punggung kuda.


"Aku ingin mencoba kekuatan para pengawal Kademangan ini yang begitu sombongnya mengancam kami dan menghalangi perjalanan kami," tantang sang pemimpin dari orang-orang berkuda ini.


Ki Rangga pun nampaknya telah bersiap.


Dari gerakan pria pemimpin orang-orang berkuda ini, dia sudah memperkirakan bahwa lawannya mempunyai kekuatan yang cukup hebat karena merupakan utusan khusus dari Sang Raja Mataram.


Kedua pria yang sama-sama merupakan prajurit-prajurit utama dari dua kubu yang sedang bersitegang ini pun telah menggenggam senjata mereka masing-masing  dan  siap bertarung.


"Terimalah serangan  ini prajurit pati!" Seru Sang pemimpin orang-orang berkuda ini yang kemudian telah melompat sambil mengayunkan keris di tangannya dengan ayunan yang sangat kuat dan cepat menimbulkan kesiuran angin yang melanda ke arah Ki  Rangga yang juga telah bersiap sejak tadi.


Dengan sigap ki Rangga


pun telah mengangkat kerisnya menahan serangan ini.


Pertarungan antara keduanya pun tak dapat dielakkan.


Sementara itu tiga orang prajurit utusan dari Mataram pun telah turun dari kuda-kuda mereka pula.


Dan seorang prajurit yang terluka karena hantaman dari Loka Jaya pun sudah mampu berdiri, akan tetapi dia masih sering meringis kesakitan. Nampaknya tendangan Loka Jaya yang menghantam punggungnya telah menyebabkan luka pada diri prajurit ini.


Dan pertarungan pun terus berlangsung. Untuk beberapa saat pertarungan antara kedua prajurit berlangsung dengan menegangkan pergerakan-pergerakan mereka benar-benar penuh perhitungan.


Tak dapat diketahui secara cepat siapakah yang lebih unggul di antara keduanya akan tetapi di luar arena para pengawal Kademangan pun sudah mulai berdatangan ke tempat ini karena memang suara kentongan telah terdengar saling sahut-menyahut di seluruh penjuru Kademangan Pucakwangi.

__ADS_1


Para pengawal Kademangan yang berjumlah ratusan orang pun telah mengepung arena pertarungan.


Ketika kemudian Loka Jaya sudah tidak sabar dengan apa yang terjadi di tengah arena dia pun telah berseru kepada tiga orang berkuda yang nampaknya pun telah bersiap dengan keris di tangan mereka.


"Kalian para prajurit Mataram, marilah kita coba kemampuan kalian yang merasa bahwa kalian adalah prajurit-prajurit yang hebat ini!" Seru Loka Jaya yang nampaknya sudah tak mampu menahan dirinya lagi melihat kesombongan para prajurit Mataram.


Loka Jaya sendiri adalah seorang pemuda yang sombong dan tinggi hati dan ketika dia menghadapi orang-orang yang sombong dan tinggi hati pula hatinya benar-benar tergelitik untuk mencoba kemampuan orang-orang ini.


Usai berkata demikian, Loka Jaya telah mendekati seorang prajurit yang tengah menyaksikan jalannya pertarungan antara ki Rangga Jagadenta dan pemimpinnya.


Kali ini Lokajaya menggenggam sebuah golok  di tangan kanannya.


Dan bergerak melompat ke arah prajurit penunggang kuda ini.


Tangannya yang memegang sebelah golok telah mengayun cepat membabat ke arah leher dari prajurit yang menunggang kuda ini dengan ganas dan tanpa ragu.


Ya luka Jaya adalah seorang pemuda yang tanpa ragu dalam bertindak.


Dia melakukan apa yang dipikirkan olehnya tanpa memikirkan akibatnya.


Dan prajurit yang diserang oleh Loka Jaya pun  kemudian telah menggunakan kerisnya untuk menahan serangan dari Loka Jaya.


"Traang!"


Benturan antara dua senjata pun segera terjadi dan mereka pun telah terlibat dalam duel yang sangat seru.


Namun kali ini nampaknya prajurit dari Mataram ini telah salah perhitungan.


Lokajaya  adalah seorang pemuda yang sangat kuat! Dia adalah murid Kyai Karangjati yang hebat.


Sejak kecil pemuda ini telah dididik dengan ilmu jaya kawijayan oleh Sang Kyai Karangjati di sebelah timur  lereng Gunung Ungaran.


Tubuhnya terlihat  kuat dan ulet . Dadanya bidang dengan perut rata berbentuk susunan batu bata.


Dan sang prajurit utusan dari Mataram ini pun segera merasakan kekuatan pemuda yang dihadapi ini hanya benar-benar luar biasa.

__ADS_1


Beberapa kali benturan antara dua senjata ini mengakibatkan tangan dari sang prajurit bergetar hebat dan beberapa kali keris di tangannya pun hampir terlepas dari genggamannya.


Tak sangkanya di tempat ini dia telah menemukan seorang lawan yang sangat tangguh yang masih sangat muda.


"Gila! Bocah ini benar-benar sangat cepat dan kuat," batin utusan Mataram ini.


Akan tetapi dia pun tidak mampu berpikir terlalu lama, serangan-serangan dari Loka Jaya benar-benar telah membuatnya keteteran.


Dan ternyata dalam waktu yang singkat, sebuah pukulan tangan kiri dari Loka Jaya pun telah menghantam lambung dari utusan Mataram ini sehingga dia pun telah terpental dari punggung kudanya dan kemudian jatuh terlentang di atas jalanan berbatu di tengah Padukuhan Pucak Wangi.


Dan pertarungan antara Ki Rangga Jagadenta dan pimpinan utusan dari Mataram pun masih berlangsung. Mereka telah mengerahkan segenap kekuatan dan kemampuan mereka.


Mereka telah mengungkap ajian-ajian yang memang banyak dikuasai oleh orang-orang pada masa itu.


Ajian-ajian yang telah lama menghilang dari bumi Nusantara ternyata masih mampu mereka ungkapkan.


Pertarungan antara keduanya pun telah merambah semakin menggetarkan.


Ketika kemudian para prajurit yang berada di sekitar itu sudah semakin tidak sabar maka sorak-sorai pun semakin terdengar untuk segera mengakhiri pertarungan ini.


"Kita bunuh saja orang-orang Mataram!" Seru Para pengawal padukuhan yang semakin banyak berada di tempat ini."


"Ya kita hajar saja!"  Seru para prajurit muda ini yang nampaknya telah mulai tidak sabar dengan pertarungan yang terjadi antara ki Rangga Jagadenta  dan pimpinan dari utusan Mataram ini.


Keadaan ini telah membuat kekhawatiran tersendiri bagi orang orang berkuda ini, apalagi dua orang di antara mereka telah terluka.


Hal ini pun tak lepas dari pengamatan pemimpin dari orang-orang berkuda ini yang sedang bertarung melawan Ki Rangga Jagadenta.


Kini disadarinya bahwa para pengawal Kademangan kecil yang tadinya dianggap sebagai pengawal-pengawal padukuhan biasa saja ternyata telah mempunyai kemampuan yang sangat diluar dugaannya.


"Ini harus aku sampaikan pada Ki Tumenggung," batin pemimpin para utusan Mataram ini.


Dan dia pun telah memutuskan untuk melompat keluar dari pertarungan ini.


Dia tidak Ingin mendapatkan malu yang lebih besar lagi.

__ADS_1


"Berhenti...!"


"Baiklah kami benar-benar adalah utusan dari Mataram. Kami adalah utusan dari Sinuhun Kanjeng Sultan Agung Hanyokrokusumo!" Seru Pemimpin dari orang orang berkuda ini seraya menjunjung tinggi rencana keprajuritannya serta nawala yang dibawanya tinggi-tinggi.


__ADS_2