
Sesaat Bayu, Adnan serta Bango Putih menunggu di luar Gua Lowo.
Ketika kemudian mereka telah mendengarkan suara ledakan yang keras dari dalam gua, maka ketiganya kemudian telah melihat sosok bayangan yang bergerak cepat laksana kilat telah keluar dan kemudian menghampiri ketiganya.
"Ayo kita cepat pergi dari tempat ini!" Seru Tirta Jaya Kusuma.
Bayu, Adnan serta Bango Putih tanpa bertanya lagi pun segera mengikuti gerakan Tirta Jaya Kusuma yang bergerak cepat meninggalkan tempat itu.
"Apa yang terjadi Lowo Ijo?" Tanya Bango Putih ketika mereka sudah agak jauh dari Gua Lowo.
Kini mereka hampir sampai di Oro-oro Ombo dan kini mereka pun telah berjalan dengan ringan akan tetapi cukup memperhatikan keadaan di sekitar mereka.
"Kita harus tetap berhati-hati, siapa tahu ada orang orang mereka yang masih ada di sekitar tempat ini," kata Tirta memperingatkan kawan kawannya.
"Orang-orang berpakaian hitam itu adalah para begal dan rampok yang beberapa hari yang lalu telah membuat kerusuhan di acara pernikahan putri dari Ki Demang." Lanjut Tirta Jaya Kusuma.
"Mereka adalah gerombolan perampok yang dipimpin oleh Jagal Alas Kunduran," kata Tirta lagi.
Tirta pun kemudian telah menceritakan apa yang terjadi di dalam Gua Lowo secara singkat.
"Jumlah mereka cukup banyak, nampaknya mereka memang berniat untuk mengacau di tempat kalian dan membuat kerusuhan di kadipaten Pati ini," kata Tirta Jaya Kusuma.
"Dalam keadaan yang gawat dan memanas antara Pati Pesantenan dan Mataram, di mana tiap-tiap saat bisa saja terjadi peperangan besar maka banyak pihak-pihak yang membuat keruhnya suasana dan memanfaatkan keadaan seperti ini untuk mencari keuntungan pribadi." kata Tirta.
Bango Putih, Lowo Gemblung dan Kampret alias Codot mendengarkan keterangan Tirta ini dengan seksama.
"Selain Jagal Alas Kunduran, ternyata di dalam gerombolan itu terdapat juga seseorang yang sangat kuat yang nampaknya mempunyai kemampuan yang luar biasa, mungkin dia adalah guru dari Jagal Alas Kunduran," terang Tirta.
"Sedangkan kekuatan dari gerombolan ini aku perkirakan berkisar antara seratusan orang," lanjut Tirta.
"Dan kalian tahu sendiri bagaimana kekuatan dari masing-masing anggota kelompok itu."
"Jika dibandingkan dengan kemampuan dari para pengawal Kademangan Pucakwangi, maka perbandingannya sangatlah jauh."
"Secara jumlah mungkin jumlah pengawal Kademangan Pucakwangi masih bisa berimbang. akan tetapi secara kemampuan orang perorang nampaknya para pengawal kademangan masih jauh dari kemampuan gerombolan perampok itu," terang Tirta.
Mendengar keterangan ini nampaknya kamu putih pun sangat terkejut.
__ADS_1
Dia tahu bahwa kemampuan dari anak buah Jagal Alas Kunduran sudah demikian hebatnya, apalagi kini ditambah oleh Sang Guru dari Jagal Alas Kunduran sendiri.
"Kang Bango Putih, sampaikanlah kepada Ki Demang, Ki Jagabaya dan juga Ki Lurah Prajurit Jagadenta akan hal ini."
"Sebisa mungkin kerahkan semua anak-anak muda yang mampu mengangkat senjata maupun para pria yang masih kuat untuk menjadi pengawal Kademangan Pucakwangi."
"Kami pun akan berusaha membantu kalian dengan kekuatan kami, Akan tetapi untuk sementara ini janganlah engkau membuka dan memberitahukan tentang keadaan kami kepada Ki Lurah prajurit di Jagabaya maupun Ki Demang." Kata Tirta Jaya Kusuma.
"Jika memang demikian keadaannya, alangkah lebih baiknya jika engkau sendiri yang mengatakannya, Lowo Idjo." kata Bango Putih.
"Tidak Kang Bango putih, biarlah hanya engkau yang tahu tentang kami. walaupun di Jagabaya pun sebenarnya tahu akan nama asli kami. akan tetapi di Jagabaya tidak mengetahui akan kemampuan kami ini.
"Aku tekankan sekali lagi untuk jangan menceritakan kepada siapapun akan jadi diri kami Kang Bango.
"Baiklah Lowo Idjo, aku akan menyimpan rahasia ini dalam diriku. dan aku akan berusaha memberikan peringatan kepada Ki Lurah prajurit jaga Denta, Ki Jagabaya dan Ki Demang." Kata Bango Putih.
Sebenarnya lah Bango Putih ini punya banyak pertanyaan dalam hatinya kepada ketiga pemuda ini terutama kepada Tirta Jaya kusuma.
Hingga dalam kesempatan itu pula dia telah menanyakan kepada Lowo Idjo...
"Ternyata kalian mempunyai ilmu kanuragan yang sangat tinggi. Aku menjadi malu karenanya. aku mempunyai mata akan tetapi tidak melihat tingginya gunung di depan mataku." kata Bango Putih.
"Selama ini kalian telah menyembunyikan kemampuan kalian sehingga telah menipu kami semua."
"Kami memang tiga saudara perguruan yang ditugaskan oleh guru kami untuk turun dari padepokan dan mendarmakan sedikit kemampuan kami ini untuk orang orang yang membutuhkan bantuan."
"Aku sendiri bernama Tirta, sedangkan Lowo Gemblung mempunyai nama asli Bayu. sementara Lowo cilik bernama asli Adnan," terang Tirta.
Bango Putih pun nampak mengganggu anggukkan kepala. Kini dia telah mempunyai satu keyakinan bahwa ketika pemuda ini benar-benar pemuda-pemuda yang baik pemuda-pemuda yang jujur dan pemuda-pemuda yang tangguh tanggon.
"Sampaikan kepada sesepuh Kademangan bahwa engkau telah berhasil mengikuti lima orang itu sampai ke Gua Lowo.
Engkau telah melihat kekuatan mereka," kata Tirta lagi.
"Baiklah Tirta, akan aku sampaikan kepada para sesepuh itu," janji Bango Putih.
Dan sesaat kemudian mereka pun telah memasuki pintu gerbang selatan dari padukuhan Pucakwangi.
__ADS_1
Dan mereka kini telah sampai di gardu ronda di mana anak-anak muda yang tergabung dalam pengawal kademangan nampak masih berjaga di tempat itu.
"Siapa disana!" Seru seorang pemuda yang kini telah berdiri di depan gardu.
"Aku! Bango Putih!" Seru Bango Putih dari jarak agak jauh yang memang menyebabkan anak-anak muda itu masih belum mengetahui bahwa yang datang adalah Bango Putih.
"Oh, Kang Bango! Aku kira siapa..." Jawab pemuda ini.
Sesaat kemudian Bango Putih pun telah sampai di gardu ini dan kemudian dia pun telah berpesan kepada para pemuda ini untuk tetap berhati-hati dan berjaga-jaga di gardu ini sampai terang tanah.
Setelah berbahasa pasti sejenak dengan para pemuda ini, Bango Putih, Tirta, Bayu dan Adnan telah berjalan menuju ke tengah-tengah padukuhan.
Ketika kemudian mereka telah sampai di Banjar Padukuhan, beberapa anak muda ternyata masih berbincang-bincang di banjar ini bersama dengan Ki Jagabaya dan juga Ki Lurah Jagadenta.
Setelah mengucapkan salam, ke empat pemuda ini kemudian ikut duduk teras banjar.
Sudah ada minuman hangat dan juga beberapa cemilan rebusan ubi jalar, ganyong, ketela dan beberapa makanan lain.
Ki Jagabaya kemudian telah menuangkan jahe hangat pada keempat pemuda ini.
"Dari mana kalian? Nampaknya kalian agak letih?" Tanya Ki Jagabaya setelah beberapa saat keempat pemuda ini menikmati hidangan.
Seperti yang telah direncanakan sebelumnya, Bango Putih kemudian telah menceritakan apa yang telah dialami dan disaksikannya, walaupun yang menyaksikan adalah Tirta Jaya Kusuma.
Mendengar cerita dari Bango Putih, Ki Jagabaya dan Ki Lurah sangat terkejut.
"Secepat itu mereka telah kembali ke wilayah ini, dengan beberapa orang saja mereka telah berhasil membuat kerusuhan di Kademangan pucak Wangi dan kini mereka telah kembali dengan kekuatan seratus orang anggota kelompok mereka!"
"Belum lagi ditambah guru dari jagal alas kunduran yang tentunya mempunyai kemampuan yang luar biasa hebatnya," kata Lurah prajurit ini.
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kuatnya gerombolan perampok itu!"
"Bango, engkau panggil Ki Demang. Kita harus membicarakan masalah gawat ini bersama-sama!" Kata Ki Jagadenta.
Bango Putih kemudian telah beranjak dari duduknya dan kemudian telah menuju ke rumah Ki Demang yang lampu di ruang tamunya masih terlihat menyala cukup terang.
Sesaat kemudian Ki Demang pun telah bersama-sama dengan Bango putih menuju ke Banjar ini.
__ADS_1
Ki Lurah Jagadenta kemudian telah menceritakan apa yang didengarnya dari Bango Putih.