
"Maaf Kang Bango Putih, engkau berada disini bersama Si Gemblung dan Lowo Cilik dulu mengawasi keadaan di mulut gua itu." kata Lowo Ijo.
"Aku akan melihat lebih dekat dan mencari tau siapa mereka dan apa yang mereka rencanakan," kata Tirta.
Usai berkata demikian, pemuda ini tiba tiba telah lenyap bagaikan gulungan asap menuju mulut gua.
Berhubung di depan mulut gua ini banyak terdapat bebatuan yang cukup besar dan menghalangi keberadaan dari Gua Lowo sendiri maka Tirta tetap bisa bergerak bebas untuk mendekati ke arah mulut gua tanpa diketahui oleh para penjaga yang ada di mulut gua.
Sementara setelah pemuda ini berhasil mendekati dengan jarak yang sangat dekat, diketahui ada beberapa ekor kuda yang ditambatkan di samping-samping gua di bawah pohon-pohon jati yang cukup rindang akan tetapi jika dilihat dari arah depan, kuda-kuda ini telah tertutup oleh semak-semak belukar sehingga tidak dapat dilihat jelas jika dalam jarak yang agak jauh.
Ada dua orang penjaga dengan persenjataan golok yang ada di pinggang mereka yang berada di mulut gua ini. Dan beberapa lainnya banyak yang tertidur di sisi kanan dan sisi kiri gua, diatas batuan kapur yang banyak tersebar di tempat ini dengan beralaskan anyaman daun kelapa.
Dua orang nampak sedang duduk-duduk di atas sebuah batu tepat di depan mulut gua sambil melepas asap dari mulut mereka.
Dan di depan mereka terdapat bumbung bambu yang nampaknya berisi minuman. Entah minuman apa yang sedang mereka teguk.
Tirta berusaha untuk semakin dekat ke mulut gua. Dia harus bisa mendapatkan informasi namun dengan keberadaan dua penjaga ini nampaknya dia pun harus bisa melewati kedua penjaga ini tanpa diketahui oleh sang penjaga.
Tiba-tiba sebuah asap putih seperti kabut telah muncul dan memenuhi mulut gua.
Kedua penjaga yang nampaknya cukup kaget juga dengan kemunculan kabut yang mendadak ini.
"Kang, ora biasane ono pedut seng ketel koyo ngene," kata salah seorang penjaga. (Kang, tidak biasannya ada kabut yang sangat tebal seperti ini)
"Betul, Adi. Biasanya kabut yang muncul hanya tipis saja, " jawab penjaga yang lain.
Namun kedua penjaga ini kemudian tidak lagi memperdulikan keberadaan kabut ini yang mendadak telah melingkupi mulut gua.
Keduanya telah kembali ke alam lamunan sambil setengah tertidur.
Dan pada saat yang bersamaan inilah sekelebat bayangan tubuh telah memasuki gua dengan kecepatan yang luar biasa dan hanya menciptakan sebuah bayangan yang tidak akan diketahui orang jika tidak diperhatikan dengan seksama.
Di dalam gua sendiri terdapat banyak bebatuan besar dan kecil sehingga bayangan yang ternyata adalah Tirta Jaya Kusuma berhasil memasuki gua kelelawar ini.
Dan begitu memasuki bagian gua yang agak luas, ternyata di dalam terdapat penerangan dari beberapa obor.
Pemuda ini segera melihat lima orang yang berpakaian hitam yang tadi dibuntutinya telah berada di ruangan ini bersama dengan beberapa orang pula yang nampaknya adalah orang-orang yang punya kedudukan yang penting dalam kelompok ini.
__ADS_1
Dalam sebuah percakapan diketahui bahwa ternyata kelompok ini adalah kelompok yang telah membuat kerusuhan di Kademangan Pucakwangi pada saat acara pernikahan dari Putri sang Demang pucak wangi.
Dan salah seorang dari orang-orang yang berada di tempat ini adalah seorang pria brewok yang cukup garang dan mempunyai pengaruh yang cukup besar di antara orang-orang ini.
Dialah orang yang menyebut dirinya sebagai Jagal Alas Kunduran. Sementara di samping dari pria brewok ini telah duduk seorang laki-laki tua dengan Jenggot yang cukup panjang dengan pandangan yang cukup tajam seperti mata seekor macan kumbang.
Dan ternyata di dalam ruangan gua ini banyak sekali terdapat pria-pria yang tengah beristirahat di sudut-sudut ruangan.
Nampaknya mereka adalah anak buah Jagal Alas Kunduran.
Mereka bertebaran dan bersandar di bebatuan yang memang banyak terdapat di ruangan gua ini.
Tirta tidak dapat menghitung berapa jumlah pria-pria yang nampaknya adalah pria-pria kasar ini.
tapi paling tidak dia bisa memperkirakan ada puluhan orang yang ada di tempat ini dan mungkin hampir 100 orang jika digabungkan dengan orang-orang yang berada di luar, yang ada di kanan dan kiri dari gua Lowo ini.
Mata dari pria tua ini menunjukkan sifat yang ganas dan liar.
Dan dari getaran yang keluar dari tubuh laki-laki tua nih Tirta Jaya Kusuma segera menyadari bahwa nampaknya laki-laki ini adalah seorang yang sangat kuat ilmu batinnya.
Dan benar saja apa yang telah dirasakan oleh Tirta.
"Ternyata ada seseorang berilmu tinggi yang telah mengikuti kalian kemari," kata pria tua ini yang kemudian telah sakit bangkit berdiri.
"Jebeng.. ada seorang tokoh sakti yang telah hadir di antara kita," kata pria tua ini.
"Maksud guru!? Tanya Jagal Alas Kunduran yang terkejut mendengar perkataan dari orang tua ini yang ternyata adalah gurunya..
"Ya, seseorang dengan ilmu yang sangat tinggi telah mengikuti lima orang yang telah engkau kirim ke Pucakwangi," kata orang tua ini.
"Ternyata ada orang yang punya kekuatan seperti ini di kademangan itu," lanjut laki laki tua ini.
"Memang benar guru, pada saat itu aku memang telah merasa ada gegedug diantara para warga padukuhan itu, namun orang berilmu tinggi itu tidak memunculkan dirinya." Sahut sang jagal.
"Maka aku telah memanggil guru untuk membantuku," kata Jagal Alas Kunduran.
Tirta yang bersembunyi di balik sebuah batu nampaknya masih belum menyadari perkataan dari orang tua yang berada di sebelah jagal Alas Kunduran ketika kemudian tiba-tiba sebuah aliran tenaga yang sangat kuat telah menerjang ke arahnya.
__ADS_1
Dan..
"Duarr....!"
Sebuah aliran tenaga yang tidak dapat terlihat akan tetapi telah membuat ledakan keras mengguncang goa kelelawar ini.
Seketika batu dimana Tirta berada di baliknya telah meledak pecah berkeping-keping.
Pemuda ini segera melesat dari tempatnya semula.
Kabut putih pun segera memenuhi dalam Gua Lowo ini.
Orang-orang yang ada di dalam gua ini nampak sangat kaget dan semuanya seketika telah melompat berdiri dari tidur mereka masing-masing.
Beberapa orang tampak berteriak-teriak...
"Musuh.. Ada musuh!' Teriak mereka memenuhi ruangan gua sehingga telah menimbulkan kegaduhan.
"Semua diam...! Diam di tempat!" Terdengar suara tua yang terdengar serak akan tetapi mengalun panjang memenuhi ruangan Gua Lowo, menindih suara gaduh dari orang-orang ini.
"Mungkin ada jebakan yang dilepaskan dari balik kabut ini jebeng," kata si orang tua.
"Iya Bopo Guru... " Kata sang jagal.
"Semua diaaaam! Semua jangan bergerak!" Seru sang jagal lagi.
Beberapa saat kemudian perlahan lahan kabut putih ini pun telah memudar perlahan lahan.
Dan Jagal Alas Kunduran serta sang eyang guru Ki Rajeg Wesi, segera keluar Gua Lowo bersama orang orang kasar ini yang seluruhnya telah terbangun dari istirahat mereka.
Mereka masih saja mengumpat umat.
"Kurang ajar! Menggangu tidur saja!" Seru orang-orang ini yang merasa istirahat mereka telah terganggu oleh suara ledakan.
"Bagaimana Bopo Guru? Apakah orang yang telah menerobos ke gua ini telah pergi dari tempat ini?" tanya sang Jagal Alas Kunduran kepada sang eyang guru.
"Nampaknya memang demikian Jebeng!" jawab Ki Rajeg Wesi.
__ADS_1
"Aku sudah tidak merasakan getaran maupun aura dari orang yang telah menyusup kemari," lanjut Ki Rajeg Wesi.