
Maka terlihatlah sebuah gulungan kain berwarna keemasan yang terlihat indah di tangan kanan dari pemimpin orang-orang berkuda ini.
Melihat lencana dan Nawala yang merupakan sebuah surat yang menunjukkan bahwa pemegangnya sama seperti Sinuhun Prabu Hanyokrokusumo sendiri, maka walaupun ada ketidak harmonisan antara Mataram dan Pati, mau tidak mau Ki Rangga Jagadenta pun seketika telah menekuk kedua kakinya juga diikuti oleh beberapa orang prajurit yang telah bersikap pula seperti Ki Rangga Jagadenta yang memang mengetahui subo sito ( adab kesopanan) menghargai orang yang memegang Nawala ini.
Orang-orang yang tidak menghargai pembawa barang barang kepercayaan dari sinuhun prabu Hanyakrawati, Sultan agung Mataram bisa dianggap sebagai pemberontak.
Akan tetapi dalam hal ini, ada sebuah ketegangan yang telah memuncak dalam hubungan antara Mataram dan Pati Pesantenan sehingga Ki Rangga Jagadenta pun tidak begitu terlalu menghormati secara membabi buta.
Dia hanya melakukan ini sebagai wujud penghormatan kepada surat yang dibawa orang-orang berkuda ini.
"Baiklah kami mempercayai kalian!" Kata Ki Rangga Jagadenta.
"Kalian bisa melanjutkan perjalanan ke padi pesanan akan tetapi dengan pengawalan dari para pengawal kami," kata Ki Rangga Jagadenta.
Hal ini dimaksudkan agar orang-orang berkuda ini tidak mendapatkan halangan dalam perjalanan berikutnya dan juga untuk berjaga-jaga bahwa orang-orang berkuda ini tidak melakukan aktivitas sebagai telik sandi.
Pemimpin orang-orang berkuda ini nampak mengernyitkan keningnya, akan tetapi posisinya sekarang ini bukanlah berada dalam keadaan dia sebagai prajurit Mataram yang berkuasa penuh terhadap wilayahnya.
Dia berada di Pati pesantenan yang tidak tunduk kepada Mataram. Dan itu diketahui dan disadari olehnya.
"Baiklah jika Ki Rangga menghendaki demikian," kata pemimpin utusan Mataram ini apa boleh buat.
Dia sadar dia tidak bisa menolak apa yang dikatakan oleh pemimpin prajurit Kademangan Pucakwangi ini.
"Lowo Ijo, Bango Putih! Ki Lurah Suro! Antarkan mereka ke kota Kadipaten Pati!" Kata Ki Rangga Jagadenta.
"Baik Ki!_ Jawab Ki Suro sigap menjawab apa yang telah diperintahkan oleh pimpinannya ini.
Akan tetapi tidak demikian dengan lowo ijo maupun Bango Putih.
Mereka adalah orang-orang awam yang baru saja mendapat didikan olah keprajuritan, sehingga mereka tidak terbiasa sendika dawuh terhadap perintah atasan.
Barulah setelah berpikir beberapa saat Lowo Ijo maupun Bango Putih menganggukkan kepala.
"Baik Ki Rangga, tugas ini kami terima!" Kata Bango Putih.
__ADS_1
"Ki Rangga aku ingin kembali Ki Kadipaten! Jadi aku akan ikut dalam rombongan ini!" Tiba-tiba terdengar suara halus merdu dari belakang Ki Rangga Jagadenta.
Ki Rangga Jagadenta kemudian menoleh ke belakang maka dilihatnya Pandan Arum Putri sang Tumenggung Sawunggaling telah berdiri di sampingnya
"Aku ingin menemani mereka ke Kadipaten ki Rangga." Kata Pandan Arum.
"Bagaimanapun aku sangat hafal dengan jalan-jalan di Kadipaten Pati sehingga mereka tidak akan kesulitan menemukan pendopo Agung kadipaten Pati." Lanjut gadis ini.
Ki Rangga Jagadenta nampak memandang gadis ini dengan tersenyum.
Gadis ini adalah putri dari pimpinannya yang telah dititipkan kepadanya untuk membantu meningkatkan kemampuan dari para pengawal Kademangan Pucakwangi dan juga memberikan bantuan yang sangat berharga bagi Kademangan ini sehingga di Rangga pun telah sangat menyukai dan menganggap gadis ini seperti Ki Sawunggaling sendiri.
Namun kadangkala dalam kemudaannya gadis ini seperti kijang putih yang lincah yang telah menarik perhatian dari para pengawal kademangan yang berjumlah ratusan ini.
Gadis ini ibaratnya rembulan yang bersinar di kegelapan malam yang cahayanya telah menarik perhatian para pemuda untuk selalu berada di dekatnya.
"Oh, genduk Pandan Arum.. Tentu, tentu saja tidak masalah," kata Ki Rangga yang juga menganggap gadis ini seperti putrinya sendiri dengan memanggilnya sebagai genduk..
"Oh Terimakasih Ki Rangga," Kata Padan Arum.
"Dengan adanya Pandan Arum aku kira sudah cukup sebagai penunjuk jalan dan juga pengawal bagi utusan Mataram, apalagi ada Lowo Ijo." Kata Ki Suro.
"Aku yakin perjalanan mereka akan aman sampai pendopo Kadipaten Pati dan bertemu secara langsung dengan para petinggi di Pati," lanjut Ki Suro.
Ki Rangga nampak mengangguk anggukkan kepala dan dia pun telah menyetujui apa yang disampaikan oleh Ki Lurah Suro ini.
Namun tiba-tiba Loka Jaya telah berkata.
"Jika Ki Suro tidak jadi berangkat, biar aku yang menggantikannya ki Rangga!"
"Bagaimanapun para utusan Mataram yang sombong ini bisa berbahaya bagi Pati! Dan butuh pengawalan yang sangat kuat untuk menjaga mereka."
"Aku kira Lowo Idjo, dan Bango putih tidak akan mampu menjaga mereka dengan baik jika mereka berbuat macam-macam!" Lanjut Loka Jaya.
Ki Rangga Jagadenta kemudian menjawab.
__ADS_1
"Tidak Loka Jaya! Aku kira keberadaan Lowo Ijo cukup untuk menjaga mereka Loka Jaya. Dan Gemduk Pandan Arum pun bisa menjadi petunjuk yang baik bagi mereka.
"Sementara tenagamu masih aku butuhkan di tempat ini untuk melatih para pemuda Kademangan Pucakwangi," kata Ki Rangga Jagadenta tegas.
Ki Rangga tahu, bahwa Loka Jaya mempunyai perhatian lebih terhadap putri dari Ki Tumenggung Sawunggaling ini, akan tetapi padukuhan ini masih membutuhkan tenaga dari Loka jaya untuk memperkuat keberadaan para pengawal Kademangan yang masih mentah dalam ilmu keprajuritan.
Loka Jaya nampak tidak senang dengan keputusan Ki Rangga, akan tetapi dia pun tidak bisa mengungkapkan keberatannya ini.
Dia tidak bisa mengatakan bahwa dia ingin berada di dekat pandan Arum.
"Baiklah Ki Rangga ," kata Lokajaya yang kemudian telah pergi dari tempat itu begitu saja karena kekecewaannya ini.
Perjalanan harus segera dilakukan sehingga mereka pun tidak bisa terlalu lama di tempat ini.
Hal itu telah disampaikan oleh orang-orang berkuda ini kepada Ki Rangga Jagadenta.
Dan beberapa saat kemudian para utusan dari Mataram pun telah kembali di atas kuda-kuda mereka.
Lowo Ijo, Bango putih dan Pandan Arum pun telah bersiap di atas kuda kuda mereka pula.
Lowo Ijo nampak agak sedikit kikuk dan ragu berada di atas kudanya.
Dia belum pernah menunggang kuda!
Ya selama hidupnya Tirta Jaya Kusuma belum pernah menunggang kuda sehingga dia menjadi kebingungan ketika berada di atas kudanya.
Dan ketika mereka telah membedal kuda kuda mereka.
"Heh, kakang Lowo Ijo! Apakah kau belum pernah menaiki kuda sebelumnya!?" Seru Pandan Arum ketika dia kemudian menyadari bahwa Lowo Ijo tidak mampu mengendalikan kudanya dengan baik.
Kadang-kadang Lowo Ijo tanpa sengaja telah membedal kudanya cepat dan kadang Lowo ijo telah membuat kudanya tiba-tiba berhenti mendadak.
Nampaknya kudanya telah kebingungan dengan tindakan dari Lowo Ijo yang tidak bisa menguasai tali kekang kudanya.
Dengan agak malu-malu Tirta Jaya Kusuma harus mengakui bahwa dia memang tidak pernah mengendarai kuda sama sekali sebelumnya dan dia tidak mampu menguasai kudanya ini.
__ADS_1