
Mereka kemudian telah sampai di padukuhan Induk Kademangan Pucakwangi.
Kini semakin banyak para pemuda dan penduduk desa yang terluka parah. Terluka karena senjata- senjata tajam dari lawan.
Banyak anak-anak yang telah kehilangan ayah- ayah mereka, banyak ibu yang kehilangan anaknya dan banyak istri yang kehilangan suaminya.
Tangisan segera pecah tanpa dapat dibendung lagi di banjar Kademangan Pucakwangi.
Sementara Tirta telah sibuk memberikan pertolongan kepada orang-orang yang tengah terluka.
Dengan dibantu oleh Bayu dan juga Adnan serta Bango Putih, dia telah bekerja tanpa pamrih tanpa beristirahat sedikitpun juga.
Sementara itu Ki Tumenggung Sawunggaling bersama dengan sang putri telah beristirahat di pendopo rumah ki Demang setelah dia melihat-lihat keadaan para prajuritnya dan juga para prajurit yang baru saja dibentuk oleh Ki Rangga Jagadenta.
"Jagadenta, engkau harus melatih lebih giat dan lebih keras lagi para prajuritmu ini."
"Mereka benar-benar belum siap berhadapan dengan para begal apalagi dengan para prajurit Mataram."
"Secepatnya engkau tingkatkan kemampuan mereka supaya mereka menjadi bantuan yang sangat berharga bagi Kadipaten Pati." Kata Ki Tumenggung Sawunggaling.
"Kelak aku mengharapkan ketenangan ini menjadi benteng pertahanan sebelah Selatan bagi Kadipaten Pati."
"Aku berada para prajurit bentukanmu dapat menghadang pergerakan dari para prajurit-prajurit Mataram yang pastinya akan bergerak dari Selatan melewati pegunungan kapur itu." Kata Ki Tumenggung Sawunggaling.
"Sendiko dawuh Ki Tumenggung. Sebenarnyalah mereka adalah para pemuda yang masih lugu yang kesehariannya adalah para petani. Mereka belum terbiasa memegang senjata tajam untuk membunuh lawan." Terang Ki Rangga Jagadenta.
"Mereka baru saja terbentuk beberapa hari yang lalu," kata Ki Rangga Jagadenta.
"Dan siapakah pemuda-pemuda itu Jagadenta ?" Tanya Ki Tumenggung seraya menunjuk ke arah Tirta Jaya Kusuma, Bayu dan Adnan yang tengah memberi bantuan kepada para pemuda dan para penduduk yang tengah terluka parah akibat peperangan ini
"Nampaknya mereka bukanlah penduduk dari wilayah ini?" Lanjut Ki Tumenggung.
"Benar Ki Sawunggaling, mereka adalah para pemuda yang tadinya hendak mengabdikan tenaga mereka di Kadipaten Pati Pesantenan akan tetapi ketika mereka melewati daerah ini mereka telah bersedia bergabung dengan kami dan bergabung dalam pasukan pengawal Kademangan Pucakwangi ini." Tenaga Ki Jagadenta.
"Mereka adalah tiga orang dari sebuah padepokan di lereng gunung Ungaran. Mereka bernama Lowo Idjo, Lowo gemblung dan codot atau kampret Ki!" Kata Ki Rangga Jagadenta.
Ki Tumenggung Sawunggaling nampak mengernyitkan dahinya.
Memang di zaman itu nama-nama seperti ini sering digunakan oleh para penjahat. Nama nama ini seperti nama-nama para begal dan perampok seperti halnya seorang begal yang sangat terkenal di zaman itu seperti Jagal Alas Kunduran, Jagal Abilawa, atau nama-nama lainnya yang sangat terkenal di kalangan masyarakat.
Ki Rangga Jagadenta selanjutnya menceritakan secara singkat tentang ketiganya sesuai dengan pengetahuannya kepada Ki Tumenggung Sawunggaling.
"Panggilah mereka kemari Jagadenta, aku ingin mengenal mereka lebih jauh," kata Ki Tumenggung Sawunggaling.
"Njih Ki Tumenggung...!"
Selanjutnya Ki Rangga pun telah menghampiri Tirta Jaya jaya Kusuma, Bayu dan Adnan yang masih sibuk memberikan pertolongan kepada orang-orang yang terluka.
Dan sesaat kemudian Ki Rangga pun telah mengajak Tirta Jaya Kusuma, Bayu dan Adnan untuk menghadap Ki Tumenggung Sawunggaling di pendopo rumah Ki Demang.
"Lowo Idjo, inilah salah satu pimpinan di Kadipaten Pati.
"Inilah Ki Tumenggung Sawunggaling." Kata Ki Rangga Jagadenta memperkenalkan salah satu petinggi Kadipaten Pati yang sangat terkenal di kalangan rakyat Pati selain para tumenggung yang lainnya seperti Tumenggung Tohjaya, Tumenggung Kunduran, Tumenggung Ranamanggala, Tumenggung Sindurejo dan Mangunjaya.
Enam orang Tumenggung yang sangat setia pada Adipati Pragolo dan merupakan tulang punggung bagi masyarakat Pati.
Mereka adalah pembantu pembantu yang sangat diandalkan dan setia pada junjungannya, Adipati Pragolo.
"Sembah bekti kagem Ki Tumenggung!" Kata Tirta, Bayu dan Adnan sambil membungkukkan badan dan menelangkupkan kedua telapak tangan mereka di depan dada, menyembah kepada sang Tumenggung.
"Jangan sungkan-sungkan anak muda, duduklah! Duduklah di sini," kata Ki Tumenggung mempersilakan ketiganya untuk duduk di hadapannya.
__ADS_1
Di tatapnya ketika anak muda ini berganti-gantian.
Dia dapat melihat ketiganya bukanlah pemuda-pemuda biasa. Ketiganya seperti para bangsawan yang sedang menyamar. Terutama anak muda yang bernama Lowo Ijo ini.
Walaupun Lowo ijo lebih sering menundukkan wajahnya akan tetapi dia dapat melihat bagaimana tajamnya sorot mata dari pemuda ini.
Alisnya yang tebal akan tetapi terlihat sangat teduh telah membuat dirinya teringat akan seseorang..
Tiba-tiba dia teringat kepada junjungannya yang terdahulu.
Ki Pragolo sepuh! Ya Ki Pragolo sepuh! Ayah dari Ki pragolo yang sekarang ini berkuasa di Kadipaten Pati.
"Pemuda ini benar-benar mempunyai pandangan mata yang sangat tajam dan pandangan ini telah mengingatkanku kepada Adipati Wasis Jaya kusuma," batin Ki Tumenggung Sawunggaling.
"Siapakah pemuda ini sebenarnya," batin Ki Tumenggung Sawunggaling penuh penasaran.
"Terimakasih anak muda, kalian benar benar anak-anak muda yang bisa menjadi contoh bagi anak anak muda yang lain."
"Tanpa pamrih kalian telah ngabekti untuk kadipaten Pati." Kata Ki Tumenggung.
"Kalau boleh tahu dari manakah asal kalian bertiga?" Tanya Ki Tumenggung Sawunggaling.
"Kami hanya lah para cantrik dari sebuah padepokan di lereng gunung Ungaran Ki Tumenggung.
"Kami datang kemari Karena diperintah oleh guru kami untuk mengabdikan sedikit kemampuan kami untuk mengabdi pada kadipaten ini," kata Lowo Ijo.
Mendengar bahwa ketiganya berasal dari sebuah padepokan di lereng gunung Ungaran, tiba-tiba saja di temanggung Sawunggaling teringat sesuatu.
"Apakah kalian berasal dari desa plalangan di daerah lereng sebelah utara Gunung Ungaran?' Tanya Ki Tumenggung Sawunggaling.
Tirta segera merasa bahwa pertanyaan dari Ki Tumenggung ini nampaknya menunjukkan bahwa Ki Tumenggung mempunyai pengetahuan yang cukup dan pastilah Ki Tumenggung ini mengetahui bahwa Adipati Wasis Jaya Kusuma sepuh telah disemayamkan di desa Plalangan daerah Gunung Pati di lereng gunung Ungaran.
"Oh, padepokan kami hanyalah padepokan kecil yang berada di lereng sebelah selatan Gunung itu itu Ki Tumanggung. Dan guru kami adalah Mbah Harjo ikkoro," kata Tirta jaya Kusuma berusaha menghilangkan asal-usul jejaknya karena jika dia menyatakan bahwa dia memang berasal dari padepokan yang berasal dari lereng gunung Ungaran sebelah utara pasti akan membuat banyak pertanyaan dan kecurigaan dari Ki Tumenggung Sawunggaling.
Sementara Lowo Idjo lebih banyak menunduk apalagi ketika gadis cantik dengan pakaian seorang prajurit yang berada di samping Ki Tumenggung nampak sangat memperhatikan pemuda ini dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Sebenarnya dengan kemampuanmu seperti itu, engkau pantas menjadi seorang prajurit yang pilih tanding yang mempunyai masa depan cerah di Kadipaten Pati." Kata Ki Tumenggung.
"Bagaimana jika engkau bergabung dan memperkuat pasukanku anak muda?" Kata Ki Tumenggung.
"Engkau akan kuberikan kedudukan yang tepat, juga dengan kedua orang kawanmu ini!" Kata Ki Tumenggung Sawunggaling.
Sambil menunduk, pemuda ini kemudian menjawab.
"Terima kasih Ki Tumenggung, akan tetapi warga padukuhan Pucakwangi ini masih membutuhkan bantuan dan tenaga hamba.. Akan sangat berbahaya jika kami meninggalkan Kademangan ini sedangkan para begal itu masih bercokol di Gua Lowo," kata Lowo Idjo.
Dalam berapa hari saja, tirta Jaya Kusuma merasa bahwa dirinya telah mempunyai ikatan yang sangat kuat dengan warga padukuhan ini.
Dia benar-benar tidak ingin meninggalkan paduan ini dan ini melindungi paduan ini dari ancaman mara bahaya yang mungkin timbul karena peperangan
"Lagipula kemampuan kami hanyalah sebatas ini Ki Tumenggung, kami hanyalah pemuda-pemuda biasa yang tidak berbeda dengan pemuda-pemuda dari padukuhan ini."
"Penilaian Ki Tumnggung terlalu tinggi untuk kami dan kami sangat malu karena begitu tingginya Ki Tumenggung menghargai kami," kata Lowo Idjo lagi.
"Kalian benar benar pemuda pemuda yang tanpa pamrih. Aku benar benar kagum terhadap kalian."
"Dengan sikap kalian ini aku menjadi sangat menghargai kalian."
"Jika memang demikian maka kalian dapat membantu prajurit-prajurit yang ada di padukuhan ini dan kalian aku izinkan untuk menjadi pembantu dan mempelajari ilmu tata keprajuritan dari Ki Rangga Jagadenta." Kata Ki Tumenggung Sawunggaling.
"Oh ya Ki Jagadenta, aku lihat tadi ada seorang pemuda lain juga yang punya kemampuan yang luar biasa yang bertarung di sayap kiri bertarung melawan ki Tohsidono? Siapakah pemuda itu?" Tanya ki Tumenggung
__ADS_1
"Oh, dia adalah Loka Jaya, seorang pemuda murid dari seorang kyai yang bernama Kyai Karangjati, dia juga berasal dari daerah sekitar gunung Ungaran Ki Tumenggung," kata Ki Rangga Jagadenta.
"Pemuda itu benar-benar cocok sebagai seorang prajurit Jagadenta!"
"Gerakannya tangkas dan tanpa ragu! Sangat cocok sebagai seorang prajurit yang gagah berani." Kata Ki Tumenggung.
"Panggil dia menghadap kepadaku Jagadenta!" Kata Ki Tumenggung.
Ki Jagadenta kemudian telah memerintahkan seorang prajurit muda untuk memanggil Loka Jaya yang pada saat itu tengah duduk-duduk bersama kawan-kawannya di salah satu sudut di Banjar di depan rumah di Demang.
Dengan langkah tegap dan membusungkan dadanya Loka Jaya kemudian telah berjalan memasuki pendopo rumah Ki Demang.
" Hamba menghaturkan sembah pada Ki temanggung!" Seru pemuda ini sedikit membungkukkan badannya.
"Silakan duduk anak muda," kata Ki Tumenggung.
"Siapa namamu anak muda? Dan kamu berasal dari mana dan siapakah gurumu?" Tanya Ki Tumenggung.
Walaupun ki Tumenggung Sawunggaling telah mendengar sedikit tentang anak muda ini dari kirangga jagadentakan tetapi dia ingin mendengarkan keterangan langsung dari anak muda ini.
"Hamba Lokajaya, Ki Tumenggung, murid dari Kyai Karangjati dari lereng gunung Ungaran," kata Lokajaya.
"Guru yang hebat menghasilkan seorang murid yang hebat pula." Kata Ki Tumenggung seperti bergumam.
"Terima kasih engkau telah mau bergabung dengan para prajurit di Pati pesantren ini anak muda." Kata Ki Tumenggung.
"Aku hargai kemampuan mu! Dan memang dalam keadaan seperti ini, Pati tengah membutuhkan anak-anak muda yang hebat sepertimu," kata Ki Sawunggaling.
"Engkau sangat cocok menjadi seorang prajurit! Sikapmu tegas dan jantan dalam menghadapi lawan."
"Kami membutuhkan anak muda yang sepertimu untuk bisa menghadapi orang-orang dari Mataram." Terang Ki Tumenggung.
Demikianlah malam itu Ki Tumenggung, Ki Jagadenta Ki Demang, di Jagabaya dan juga para sesepuh Kademangan telah berkumpul di pendopo rumah Ki Demang.
Sementara Tirta Jaya Kusuma, Bayu dan Adnan telah kembali untuk melanjutkan pekerjaan mereka memeriksa dan memberikan pertolongan kepada orang-orang yang tengah terluka.
Secara sifat dan karakter, Ki Tumenggung sangatlah menyukai sikap yang andap asor dari Lowo ijo dan dua orang kawannya ini.
Akan tetapi sebagai seorang Tumenggung yang tengah bersiap-siap menghadapi peperangan besar melawan Mataram, dia sangatlah membutuhkan para pemuda yang tangguh dan tanpa ragu-ragu seperti Loka Jaya ini.
Ki Tumenggung Sawunggaling telah mempunyai rencana terhadap anak-anak muda yang tangguh ini.
Sementara gadis cantik putri dari Ki Tumenggung sejak dari tadi terus memperhatikan Tirta jaya Kusuma yang memang sangat menarik perhatiannya.
Selain sopan santun serta mempunyai kemampuan yang sangat tinggi ternyata pemuda ini sangat menghargai orang-orang yang lebih tua.
Matanya tidak menunjukkan kesombongan dan jauh dari sifat-sifat menonjolkan diri sendiri.
Sifat yang sangat bertolak belakang dengan pemuda yang bernama Loka Jaya yang dari sorot matanya menunjukkan ketinggian hatinya.
Gadis ini telah melihat kedua pemuda ini dengan sudut kegadisannya.
Walaupun pemuda yang bernama Lowo Ijo ini sangat menarik hatinya akan tetapi pemuda ini terlihat pendiam dan kurang memperhatikan kehadirannya di tempat ini.
Berbeda dengan Loka Jaya yang sejak dia memasuki pendopo rumah Ki Demang terlihat sekali bahwa pemuda ini menunjukkan ketertarikan kepada gadis ini.
Dan Ketika malam semakin larut Tirta Jaya Kusuma, Bayu dan Adnan telah meminta diri mereka untuk kembali melihat-lihat orang-orang yang kena terluka di Banjar Kademangan.
Sementara luka Jaya yang tertarik dengan putri dari kitu manggung Sawunggaling telah banyak berbicara kepada gadis ini.
Dia sengaja menonjolkan perannya di dalam pasukan dia telah menceritakan bagaimana dia telah membunuh banyak begal dan bagaimana dia bertarung melawan salah satu orang terkuat di antara para begal itu yang bernama Tohsidono.
__ADS_1
Dan sebagai gadis muda yang membutuhkan ungkapan-ungkapan kemampuan dari seorang pemuda , apalagi putri dari Sawunggaling tumbuh dan besar di antara prajurit Kadipaten Pati, sehingga dia lebih memandang seorang pemuda dengan sudut pandang seperti seorang prajurit pula. Seperti ayahnya Tumenggung Sawunggaling yang perkasa.
Dia telah memandang LokaJaya sebagai seorang pemuda yang kuat yang punya harapan tinggi dan kedudukan tinggi yang mungkin bisa menyamai dari Romo nya, Ki Tumenggung Sawunggaling.