Tirta Jayakusuma: Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi

Tirta Jayakusuma: Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi
Pasukan Berkuda


__ADS_3

Para penghubung dari para begal ini pun segera menyampaikan perintah kepada segenap pemimpin pasukan untuk segera mengundurkan diri dari orang-orang.


Sementara Ki Rajeg Wesi pun telah mendengar dari para penghubung bahwa kedatangan para prajurit  Kadipaten Pati telah merubah jalannya peperangan.


Ki Rajeg Wesi  yang cukup sibuk menghindarkan diri dari serangan serangan pemuda yang menjadi lawannya pun segera pula mempersiapkan dirinya untuk bisa mengundurkan diri..


Serangan-serangan dari Tirta Jaya Kusuma terus memburu dan mengeja Ki Rajeg Wesi yang terus saja menghindar diantara tubuh-tubuh para prajuritnya maupun prajurit lawan.


Ketika kemudian tiba-tiba di hadapan Ki Rajeg  Wesi telah berdiri seorang pria tengah baya yang sangat gagah yang nampaknya adalah pemimpin dari rombongan prajurit yang barusan tiba di arena ini.


"Sawunggaling!" Seru Ki Rajeg Wesi ketika menyaksikan bahwa pria yang berisik di hadapannya ini adalah seorang Tumenggung yang sangat terkenal dari Kadipaten Pati.


Inilah Ki Sawunggaling! Salah satu Senopati yang sangat diandalkan dan merupakan pembantu utama dari Ki Pragolopati.


"Selamat bertemu lagi di Rajeg Wesi! Ternyata engkau telah juga sampai kemari." Kata Ki Tumenggung Sawunggaling begitu dia saling berhadap-hadapan dengan Ki Rajeg Wesi.


Ki Rajeg Wesi nampak ewuh berhadapan dengan Ki Tumenggung.


Bagaimanapun mereka pernah saling bau membau dan saling mendukung dalam menghadapi pemberontakan di Madiun.


Mereka tergabung dalam pasukan yang sama di bawah panji-panji pasukan Mataram yang besar.


"Sudah beberapa saat kita tidak bertemu Ki Rajeg Wesi! Bagaimana dengan bendoro mu! Dengan majikanmu itu? Apakah dia masih juga suka menjilat pada Sultan Mataram!?" Seru Tumenggung Sawunggaling dengan suara yang dalam akan tetap dengan pandangan mata yang sepertinya sangat mengejek kepada Ki Rajeg Wesi.


Mendengar perkataan dari Tumenggung Sawunggaling ini nampaknya Ki Rajeg Wesi tidak suka dengan ucapan yang keluar dari mulut tumenggung ini.


"Itu bukan urusanmu Sawunggaling! Sekarang ini sudah saatnya Pati harus hancur! Harus rata dengan tanah termasuk engkau dan adipatimu yang sombong itu!" Seru Ki Rajeg Wesi.


"Apakah engkau tidak mempunyai harga diri sebagai seorang prajurit Mataram sehingga engkau telah menunggangi para begal dan perampok ini! Perampok yang tidak berharga!" Kata Ki Sawunggaling.


"Aku tidak perduli Sawunggaling! Bagiku yang penting dapat menghancurkan kalian orang orang Pati yang sombong!" Teriak Ki Rajeg Wesi yang mulai tidak bisa mengendalikan dirinya Karena perkataan dari Ki Tumenggung Sawunggaling.


Dan tiba- tiba Ki Rajeg Wesi pun telah mengangkat keris luk  tujuh nya dan kemudian telah melakukan gerakan seperti hendak menyerang Ki Tumenggung Sawunggaling.


Pertarungan antara dua orang tua yang berseberangan ini pun segera terjadi.

__ADS_1


Serangan serangan Ki Rajeg Wesi bagaikan gelombang samudra yang terus-menerus menerjang ke arah Ki Sawunggaling yang duduk dengan gagahnya di atas seekor kuda berwarna coklat tua.


Sementara Tirta Jaya Kusuma yang telah kehilangan lawannya pun telah  menyerang ke arah para begal yang mulai mengundurkan diri dari tengah Oro-oro Ombo.


Tapi nampaknya para begal ini telah terlatih untuk bergerak cepat dan mundur dari medan laga.


Ketika orang terakhir dari para begal ini sudah mulai meninggal Oro-oro Ombo, Ki Rajeg Wesi telah mengerahkan segenap kekuatannya untuk mendesak Ki Sawunggaling.


Keris besarnya telah menyambar cepat ke arah Ki Sawunggaling yang dengan sigapnya telah menanti semua serangan-serangan dari Ki  Rajeg Wesi.


Namun nampaknya Ki Rajeg  Wesi mempunyai rencana sendiri.


Tangan kirinya tiba-tiba telah meraih sabuk yang ada di pinggang kirinya.


Ketika dia kemudian telah melontarkan sesuatu dari tangan kirinya, maka seketika lima buah paser atau patrem (pisau kecil) telah terlontar dari tangan kirinya dengan cepat mengarah ke tubuh Ki Tumenggung Sawunggaling.


Tiga buah patrem telah meluncur deras ke arah Ki Tumenggung, antara dua buah paser telah mengarah ke kuda yang Tumenggung.


Cepat Ki Tumenggung Sawunggaling telah memutar kerisnya sehingga telah meruntuhkan tiga patrem yang telah di lepaskan Ki Rajeg Wesi.


Ki Tumenggung  Sawunggaling telah mengetahui bahwa patrem-patrem maupun senjata yang digunakan oleh Ki Rajeg Wesi adalah senjata-senjata yang beracun yang telah diberikan warangan yang sangat kuat yang mampu membunuh lawan dalam sekejap.


Hal ini diketahui oleh Ki Tumenggung karena memang mereka pernah menjadi satu kesatuan dalam sebuah pasukan.


Dan ketika Ki Tumenggung telah berputus asa menyaksikan dua buah paser telah mengarah ke arah kudanya..


Tiba tiba..


"Ting..!"


"Ting..!"


Sebuah dentingan terdengar dua kali..


Paser paser tersebut ternyata telah runtuh sebelum mengenai tubuh dari kuda yang ditungganginya.

__ADS_1


"Ohhh.!?"


"Syukurlah!"


Seru Ki Tumenggung setelah melihat paser-paser beracun tersebut telah runtuh di rerumputan.


Kini pandangannya dialihkan ke arah Ki Rajeg Wesi, akan tetapi ternyata Laki laki tua itu telah bergerak secepat kilat melontarkan dirinya, dan dengan cepat Ki Rajeg Wesi telah mundur mengikuti pergerakan dari para begal Alas Kunduran.


Beberapa pasukan berkuda dari Kadipaten Pati yang mengikuti Ki Sawunggaling pun berusaha mengejar para begal tersebut yang berlari cepat menuju ke lereng-lereng pegunungan kapur


"Biarkan! Jangan kejar mereka!" Seru Ki Tumenggung  Sawunggaling.


"Akan sangat berbahaya bagi kita jika mengejar mereka."


"Mereka telah mengenal wilayah itu sehingga akan sangat berbahaya bagi kita untuk mengejarnya. Apalagi dengan keberadaan Ki Rajeg Wesi  di antara mereka!" Seru Ki Tumenggung Sawunggaling.


Beberapa ekor kuda dengan para penunggang di punggungnya kemudian telah menghentikan kejaran dan kemudian telah kembali ke arah para prajurit Kademangan Pucakwangi yang kemudian mereka pun telah mengurusi orang-orang yang terbunuh dalam peperangan kali ini dan juga para pemuda yang terluka untuk kemudian diangkut dengan menggunakan gerobak-gerobak  yang ditarik sapi ke arah induk padukuhan Pucakwangi.


"Sembah kami haturkan Ki Tumenggung Sawunggaling!" Kata Ki Rangga Jagadenta yang telah berjongkok dan menelangkupkan kedua telapak tangannya di bawah kuda yang di tunggangi Ki Tumenggung Jagadenta.


Serentak semua prajurit  Kademangan Pucakwangi pun telah mengikuti apa yang dilakukan oleh Ki Rangga Jagadenta


Semua prajurit telah duduk menekuk lututnya dan kemudian melakukan sembah ke arah sang pimpinan tertinggi yang hadir di tempat ini.


"Sudah! Berdiri semuanya! Kita kembali ke padukuhan, kita berbicara di sana!" Kata Ki Tumenggung.


Mereka kemudian telah pergi meninggalkan Oro oro Ombo menuju padukuan induk Kademangan Pucakwangi.


Tak lupa Ki  Rangga Jagadenta  telah menanam orang-orang untuk berjaga-jaga di sekitar Oro-oro Ombo ini untuk mengawasi pergerakan dari para begal Alas Kunduran .


Dalam perjalanan kembali ke padukuhan ini terlihat seorang gadis cantik  yang menunggang seekor kuda dan berpakaian layaknya seorang prajurit telah berjalan mengiringi kuda dari Ki Tumenggung Sawunggaling.


"Siapakah laki laki tua yang berhadapan dengan ayah tadi? Nampaknya laki laki tua itu sangat tangguh Romo!" Kata gadis ini yang dalam pertempuran tadi pun telah menunjukkan kemampuannya bertarung di atas kuda.


"Dia adalah Ki Rajeg Wesi Nduk! Dia adalah seorang berilmu tinggi yang telah mengabdikan dirinya kepada Mataram! Dia bergabung dan mengabdikan dirinya bersama murid-murid padepokannya kepada seorang pembesar di Mataram," terang sang ayah.

__ADS_1


__ADS_2