
"Jika engkau benar-benar ingin mengabdikan dirimu di Kadipaten Pati ini maka aku akan memberimu pasukan segelar sepapan, Aku sangat percaya akan kata-katamu anak muda." kata Sang Adipati sambil memandang pemuda yang duduk bersimpuh di hadapannya ini.
"Dan aku tahu bahwa kekuatanmu bersumber dari Romo Wasis Joyo Kusumo juga dari para leluhur tanah jowo ini."
"Matur sembah nuwun Kanjeng Adipati, akan tetapi hamba tidak bisa menerima semua itu. Biarlah hamba tetap berada di Kademangan Pucakwangi untuk membantu mereka membantu mempertahankan tanah mereka.
Kemungkinan serangan akan dilakukan oleh Mataram dari arah Kademangan Pucakwangi.
Dan satu hal lagi kanjeng, Mataram akan menyerang dari tigang juru atau tiga penjuru. Mereka akan menyerang dari arah Barat Selatan dan Timur." terang pemuda ini.
Tirta hanya bisa memberikan sedikit pengetahuannya untuk sangat Dipati menyadari bahwa Mataram bukanlah sebuah kerajaan yang kecil.
Mataram kini telah berubah menjadi sebuah kerajaan yang sangat besar yang menuju ke masa kejayaannya.
Tirta Jaya Kusuma tahu, bahwa Sultan Mataram yakni Sultan Agung Hanyokrokusumo adalah seorang pemimpin yang membawa Mataram ke masa kejayaan di mana pada masa itulah Sultan Agung telah mengerahkan seluruh daya upayanya untuk menolak kedatangan orang-orang kulit putih di Batavia.
Dan Sultan Agung adalah seorang Senopati perang yang sangat hebat dalam strategi dan kemampuan berperang menghadapi lawan lawan tangguh.
"Terima kasih anak mas Tirta jaya Kusuma, jika memang itu keputusan maka aku pun bisa membuatmu menjadi seorang Senopati di Kademangan Pucakwangi untuk memimpin para prajurit di sana," kata Sang Adipati.
"Maaf Kanjeng Adipati, gambar tetap tidak bisa menerima jabatan itu. Biarlah semuanya berjalan seperti seharusnya."
"Di sana masih ada Ki Rangga Jagadenta, ada Ki Lurah Suro dan Ki Sarno. Mereka adalah orang-orang yang rela menyerahkan jiwa dan raga mereka kepada Kanjeng Adipati."
"Mereka adalah prajurit-prajurit yang sangat setia kepada Kanjeng Adipati," Tolak Tirta Jaya Kusuma.
Penolakan dari anak muda ini Kanjeng Adipati nampak semakin kagum terhadap sang Pemuda.
Pembicaraan antara Tirta Jaya Kusuma dan leluhurnya Sang Adipati Pragolo pun telah berhenti ketika sayup-sayup terdengar bunyi ayam berkokok.
Waktu telah melewati tengah malam ketika kemudian Tirta Jaya Kusuma telah mengundurkan diri pendopo itu.
Dua orang pengawal putusan dari temanggung Sawunggaling nampaknya Tengah berdiri di sebuah pohon beringin di halaman pendopo Joglo ini.
Dengan diantar oleh prajurit pengawal ini Tirtajaya Kusuma kemudian menuju kembali ke kediaman Tumenggung Sawunggaling sebelah timur alun alun Kedipaten Pati.
Sang Adipati hanya bisa memandangi kepergian pemuda yang telah menarik perhatiannya ini.
__ADS_1
Walaupun ada beberapa bagian dari diri pemuda ini yang masih merupakan rahasia bagi sangat Adipati, tapi Sang Adipati sudah mendapatkan satu keyakinan bahwa pemuda ini benar-benar adalah anak cucunya yang entah dari mana asalnya.
Sebelum kepergian dari Tirta jaya Kusuma, sang Adipati telah memberikan sebuah Lencana bagi Tirta Jaya Kusuma.
Sebuah Lencana berwarna keemasan.
"Dengan Lencana ini, engkau akan bisa keluar masuk dengan bebas Kadipaten ini anak muda."
"Dan dengan lencana ini pula engkau pun akan bisa memerintahkan semua prajurit Kadipaten, bahkan para Tumenggung pun akan tunduk dan mengikuti apa yang kau perintahkan," terang pria gagah perkasa ini.
"Lencana itu sebagai simbol kehadiranku sendiri!" Terang Sang Adipati.
Terkejut bukan main Tirta Jaya Kusuma mengetahui kegunaan dari rencana yang telah diberikan kepadanya.
"Tapi Kanjeng Adipati, tidak seharusnya hamba menerima lencana dengan kekuasaan sebesar ini!" kata pemuda ini terkejut.
"Tidak apa-apa anak muda itu adalah wujud dari kepercayaanku kepadamu...!" Kata Sang Adipati
Sebenarnya lah Tirta Jaya Kusuma tidak menginginkan rencana ini dia merasakan tidak enak jika harus memegang rencana yang punya kekuasaan dari Kanjeng Adipati Pragolo.
***
Pagi-pagi sekali usai menunaikan salat subuh di sebuah langgar yang ada di lingkungan katumenggungan, Tirta Jaya Kusuma nampak berjalan mengelilingi komplek katumenggungan yang sangat luas ini.
Komplek katumenggungan ini terdiri dari puluhan rumah akan tetapi yang paling menonjol adalah rumah utama sebuah rumah joglo yang merupakan tempat tinggal dari Ki Tumenggung Sawunggaling.
Sementara beberapa rumah joglo berada di sekitar rumah utama dan terlihat ukuran ukiran yang sangat bagus khas dari daerah Jepara.
Ketika kemudian Tirta telah berada tepat di depan pendopo katumenggungan.
Pendopo terbuka tempat di mana temanggung Sawunggaling sering menerima para tamu dan juga para abdinya.
Tirta nampak mengamati sebuah ukiran kayu jati yang sangat indah berbentuk ukiran dewa Wisnu yang sedang menunggangi seekor burung garuda.
Walaupun Tirta Jaya Kusuma sering melihat ukiran semacam ini akan tetapi ukiran yang berada di pintu masuk bangunan pendopo di Katumenggungan ini terlihat sangat indah.
Dengan cermat dia memperhatikan ukiran- ukiran ini ketika kemudian dia telah dikejutkan dengan suara sebuah kenong yang telah dipukul dengan lembut.
__ADS_1
Sikap pemuda ini segera mengalihkan pandangannya ke arah suara ini.
Seorang gadis cantik nan lincah nampak tersenyum padanya sambil memegang sebuah pemukul kenong.
"Kemarilah kakang Lowo Ijo!" Seru sang gadis yang ternyata adalah Pandan Arum.
Gadis ini berdiri di tengah-tengah gamelan yang memang telah disediakan di Pendopo ini.
Tiap-tiap pendopo biasanya terdapat satu set Gamelan Jawa, demikian pula di pendopo katumenggungan ini.
Tirta Jaya Kusuma kemudian telah melangkahkan kakinya menuju ke arah gadis ini yang dengan tersenyum dan kemudian berkata..
"Bagaimana kalau Kakang yang menabuh gamelan ini, biarlah Pandan yang menari untuk kakang?" Kata gadis ini yang kemudian telah menggerakkan selendang yang terikat di pinggangnya.
"Eh... Maaf Pandan? Aku nggak bisa menabuh gamelan," kata Tirta Jaya Kusuma.
Memang sebuah kebanggaan bagi seorang gadis di masa itu jika dia mampu menari dan Pandaan Arum ingin menunjukkan kemampuannya dalam menari di depan pemuda ini.
Dan nampaknya pun Pandan Arum agak kecewa mendengar jawaban Tirta Jaya Kusuma yang menyatakan bahwa dirinya tidak bisa menabuh gamelan.
"Ya sudahlah Kakang," kata gadis ini yang kemudian telah bergerak dengan gesit dengan selendangnya menari di depan pemuda ini tanpa iringan gamelan Jawa.
Sebenarnya Tirta Jaya Kusuma tidak begitu memahami perihal tarian.
Nama-nama tarian pun dia tidak tau. Akan tetapi melihat gerakan yang gemulai dari gadis ini Tirta pun menjadi cukup tertarik dengan tari-tarian Jawa yang merupakan warisan leluhur Nusantara.
Tubuh gadis ini menari-nari dengan lembut, bukan dengan gaya yang mengundang syahwat seperti halnya para penari tayub berapa hari yang lalu di Kademangan Pucakwangi.
Pandan Arum tahu bahwa pemuda ini memperhatikannya dengan seksama sehingga menambah semangat gadis ini dalam menari.
Dan ketika gadis ini tengah menunjukkan kemampuannya dalam hal menarik di hadapan Tirta Jaya Kusuma tiba-tiba terdengar slenthem telah di pukul...
Seorang pemuda ternyata telah duduk diantara gamelan..
Pemuda ini memainkan tangan-tangannya dengan lincah sehingga mampu memperdengarkan suara gamelan yang sangat merdu..
"Eh Kakang, ..."
__ADS_1