Tirta Jayakusuma: Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi

Tirta Jayakusuma: Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi
Alunan Gending Jawa Yang Luar Biasa


__ADS_3

"Justru kemampuan Raden Jayeng Kusumo lah yang luar biasa, sehingga mampu menyihir orang-orang yang mendengar suara gamelan dari tangan tangan Raden yang seakan akan mempunyai Ruh." Kata Tirta Jaya Kusuma sejujurnya tanpa maksud memuji atau menyenangkan hati Raden Jayeng Kusumo.


"Suara gamelan Raden Jayeng Kusumo mampu membuat seseorang merasakan kenyamanan yang luar biasa sehingga membuat seseorang terdiam tak mampu bergerak dan mungkin jika mau, Raden pasti bisa berbuat jauh melebihi apa yang Raden perdengarkan kepada hamba." Kata Tirta Jaya Kusuma.


"Bukan main.. ternyata tidak salah penilaianku terhadapmu Tirta!" Seru Raden Jayeng Kusumo.


"Ketahuilah Tirta, gamelan yang aku perdengarkan kepadamu tidak ada seseorang pun di katumenggungan ini yang menyadari akan kekuatan gamelan yang aku perdengarkan." bisik Raden Jayeng Kusumo seakan akan tidak ingin pembicaraannya dengan Tirta tidak ingin diketahui orang lain.


"Romo pun tidak mengetahui kekuatan dibalik suara gamelan yang aku perdengarkan! Romo tidak perduli," lanjut Raden Jayeng Kusumo.


"Hanya kali ini lah aku menemukan seseorang yang mengetahui rahasia dibalik suara gamelanku!" Kata Raden Jayeng Kusumo.


Alangkah senangnya Raden Jayeng Kusumo. Kini dia mendapatkan seorang kawan yang mengerti akan dirinya, yang mengerti akan suara gamelan yang selama ini dipelajarinya.


"Dan engkau dengan sekali dengar telah mengetahui sebuah kekuatan yang memang terbentuk dari alunan gamelanku," lanjut Raden Jayeng Kusumo.


Selanjutnya keduanya pun telah ber basa-basi dan berbicara panjang lebar di Pendopo Katumenggungan al.


Pandan Arum hanya bisa mendengarkan, kini taulah dia bahwa tiap kali gamelan yang ditabuh oleh kakaknya ini maka seakan-akan dirinya tidak bisa berhenti bergerak.


Seakan-akan suara gamelan ini telah menuntunnya untuk melakukan semua gerak tari yang kadang-kadang dia sendiri pun tidak mengetahui dan menyadari gerakan-gerakan dari kedua tangan dan kedua kakinya.


Dan nampaknya walaupun berusaha menyembunyikan kekuatannya namun Raden Jayeng Kusumo telah memastikan bahwa kemampuan pemuda yang ada di hadapannya ini bukanlah kemampuan yang sembarangan.


Ketika kemudian hari beranjak siang!


Raden Jayeng Kusumo telah mengajak Tirta Jaya Kusuma dan juga Pandan Arum.


"Akan ada pertunjukan tari tayub di halaman kadipaten Pati siang ini.


Kalian berdua harus menyaksikannya." Kata Raden Jayeng Kusumo.


"Aku mendengar bahwa para nayoko yang mengiringi tari tayub ini cukup bagus dan tentu saja para penarinya pun cantik cantik pula. Dan aku dengar salah satu penarinya sangatlah cantik," terang Raden Jayeng Kusumo.


"Gending-gending yang ditampilkan pun bisa membuat orang-orang terlena dengan suara merdu  yang keluar dari gamelan-gamelan yang mereka bawa." Kata Raden jayeng Kusumo.


"Oh.. benarkah kakang? Kalau ada tayub pasti penarinya antik-cantik Kakang." Kata Pandan Arum.


"Dan pastinya kakang tidak mau melewatkan penari yang cantik itu," kata Pandan Arum penuh arti.

__ADS_1


"Bukan begitu Pandan Arum, kamu kan tahu sendiri kakakmu ini sangat menyukai gending-gending menyukai gamelan," sanggah Raden Jayeng Kusumo.


"Sudah sana kamu mandi dulu. Berdandan yang cantik, biar tidak kalah dengan para penari  tayub itu."


"Huh.. aku tidak ingin dibandingkan dengan para penari tayub itu kakang." Sungut gadis ini yang kemudian beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke kaputren.


Sementara itu Raden Jayeng Kusumo terus melanjutkan pembicaraan dengan Tirta Jaya Kusuma tentang segala hal.


Nampaknya Raden Jayeng  Kusumo merasa sangat tertarik dengan pandangan- pandangan pemuda ini yang sangat luas.


***


Ber empat dengan Bango Putih, mereka telah sampai di halaman Kadipaten  Pati dengan menunggang tiga ekor kuda.


Ketika kemudian mereka mendekat ternyata sudah banyak warga dan juga para prajurit yang berkumpul di tempat ini.


Dan ternyata suara gamelan pun sudah mulai terdengar, namun para penari nampaknya belum mulai menari, mereka  sedang merias diri mereka.


Dan sesaat kemudian, barulah empat orang penari dengan pakaian yang cukup indah sesuai dengan pada masa itu dengan menggunakan pakaian kebaya yang menunjukkan lekuk tubuh yang indah dengan bulatan yang membayang di balik kemben yang mereka kenakan.


Mereka mengenakan kemben basahan dengan dada yang terbuka dan memperlihatkan pangkal dada bergelombang dan putih bersih yang entah sudah pernah di daki oleh para pemburu ataupun masih merupakan bukit perawan.


Gerakan mereka lembut namun dibalik kelembutan gerakan mereka terselip sebuah undangan bagi para pria yang berkantong tebal untuk turut menari bersama para penari tayub ini.


Tirta segera mengenali bahwa mereka adalah para penari tayub yang beberapa waktu yang lalu telah melakukan pertunjukan dalam pesta pernikahan anak Ki  Demang Pucakwangi.


"Mereka adalah para penari tayub yang beberapa hari yang lalu telah  mengadakan pertunjukan di rumah Ki Demang Pucakwangi," bisik Tirta Jaya  Kusuma kepada Raden Jayeng Kusumo dan juga Pandan Arum.


"Benarkah demikian Tirta?" kata Jayeng Kusumo.


Tirta kemudian telah menceritakan dengan singkat tentang  rombongan penari tayub ini  kepada Raden Jayeng Kusumo dan Pandan Arum.


Namun dia belum menceritakan bahwa para penabuh gamelan atau para Nayaka nya adalah orang-orang yang berkemampuan cukup tinggi.


Tirta belum mau menceritakan kecurigaan-kecurigaannya terhadap rombongan penari tayub.


Akan tetapi dari suara yang dikeluarkan oleh tangan-tangan para nayoko ini membuat Raden Jayeng Kusumo pun merasa heran.


"Ta, nampaknya para nayoko itu bukanlah orang-orang biasa."

__ADS_1


"Ketukan mereka pada Slenthem, kenong dan lainnya membawa perbawa yang membetot jiwa." Kata Raden Jayeng Kusumo yang memang sangat memahami perihal gamelan.


Tirta nampak tersenyum mendengar perkataan dari Raden Jaya Kusumo.


"Nampaknya Raden pun menyadari kemampuan para nayoko rombongan penari tayub ini," kata Tirta Jaya Kusuma.


"Namun Raden, kemampuan para nayoko dalam menabuh gamelan tidaklah sehebat kemampuan Raden Jayeng Kusumo," kata Tirta Jaya  Kusuma jujur.


Sebenarnya Tirta bukannya ingin memuji dan mencari muka dari Raden Jayeng  Kusumo ini. Akan tetapi apa yang dikatakan memang benar adanya.


Kemampuan Raden Jaya Kusumo dalam menabuh gamelan jauh lebih indah dan mampu membawa pendengarnya seakan-akan terlena akan suara gamelan yang diperdengarkan.


Seperti halnya ketika Pandan Arum harus terbawa oleh suara gamelan yang ditabuh oleh sang kakak.


"Ahh, engkau terlalu memuji Tirta ," kata Raden Jayeng Kusumo.


"Engkau sendiri tidak terpengaruh oleh suara gamelanku," kata Raden Jayeng Kusumo.


Namun Tirta tidak menanggapi perkataan Raden Jayeng Kusumo.


"Dan itu, penabuh kenong itu bernama Ki Dipo. Dialah pemimpin di antara para rombongan penari ini Raden!" Kata Tirta seraya menunjuk kearah pria setengah tua yang duduk di belakang barisan kenong kenong.


"Benar Tirta,  pria tengah baya itu nampaknya punya kemampuan yang luar biasa."


"Suara kenong yang dipukulnya seakan-akan berdentang menggetarkan jantungku."


"Suara itu seperti suara bende Kyai Becak milik panembahan Senopati di Mataram, yang mampu membakar semangat para prajurit Mataram," terang Raden Jayeng Kusumo.


"Tapi aku yakin, kemampuan Raden Jayeng Kusumo pastilah jauh lebih hebat dari suara Bende Mataram itu," kata Tirta Jaya Kusuma.


Pemuda ini pernah membaca tentang pusaka Kyai Becak yang dipunyai oleh Panembahan Senopati di Mataram.


Namun begitu dia mendengar lantunan gamelan yang dikumandangkan dari tangan-tangan terampil dan kekuatan batin Raden Kusumo, Tirta yakin bahwa kemampuan dari Raden Jayeng Kusumo akan mampu mengatasi kekuatan dari Bende Kyai Becak.


Dan sesaat kemudian para penari semakin banyak di tempat ini karena para pria perebutan untuk bisa menari bersama dengan para penari tayub.


Namun ketika kemudian seorang pemuda yang terlihat cukup gagah telah pula ikut menari bersama seorang penari yang sangat cantik di antara penari-penari tayub yang lainnya maka pria-pria ini segera menyingkir dan membiarkan pemuda gagah ini menari bersama dengan penari tayub yang nampaknya adalah yang tercantik dari penari penari ini.


"Itu adalah Raden Rangga putra dari Tumenggung Jayaraga," terang Raden Jayeng Kusumo.

__ADS_1


__ADS_2