Tirta Jayakusuma: Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi

Tirta Jayakusuma: Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi
Lokajaya


__ADS_3

Terkejut bukan main semua yang ada di tempat itu mendengar laporan ini.


"Apa yang harus kita lakukan Ki Lurah Jagadenta?"


"Dengan kekuatan kita saat ini nampaknya kita tidak akan mampu menghadang para perampok itu jika mereka benar-benar menyerang ke Kademangan ini," kata Ki Demang dengan wajah yang nampak sangat khawatir.


Beberapa saat mereka nampak terdiam ketika kemudian Bango Putih berkata.


"Kita harus mengerahkan semua pemuda-pemuda dan juga para laki-laki yang masih mampu mengangkat senjata Ki Lurah, Ki Demang,"


"Maka kita akan bisa mempunyai kekuatan yang cukup untuk mengimbangi kekuatan para perampok itu. Namun demikian, jika benar para perampok itu menyerang Kademangan ini maka pastilah akan banyak korban."


"Aku tidak menghendaki wargaku menjadi korban para perampok itu Bango Putih.


Dengan mengerahkan semua kekuatan yang ada mungkin kita akan mampu menahan mereka, tapi korban nyawa pastilah tak dapat kita hindari."


"Itu semua memang adalah harga yang harus kita bayar Ki Demang," kata Ki Lurah.


"Apa yang disampaikan oleh Bango Putih memang benar Ki Demang.


"Selain itu aku pun akan mengutus prajuritku untuk pergi ke kabupaten Pati untuk meminta bantuan untuk para Senopati mengirimkan pasukan untuk memperkuat timbangan ini dari gangguan para perampok itu"


"Ki Jagabaya, besok pagi sampaikan kepada seluruh pria yang masih kuat dari padukuhan ini dan dukuh dukuh sekitar untuk berkumpul di Banjar ini! Kita harus secepatnya membentuk pengawal dalam jumlah besar dan kuat untuk menjaga Kademangan ini!" kata Ki Demang.


"Baik Ki Demang! Sendiko Dawuh!" Jawab Ki Jagabaya.


***


Pagi itu...


Di halaman banjar.


Ratusan laki laki, yang sebagian besar adalah pemuda dan beberapa orang berusia tengah baya yang terlihat masih cukup kuat telah berkumpul di halaman banjar.


Ki Jagadenta telah mulai memberikan pelatihan olah keprajuritan kepada anggota anggota baru. Sementara Para pengawal yang telah terlebih dahulu terbentuk, telah diberi pelatihan yang berbeda.


Bango putih lah yang kemudian telah memimpin para pengawal yang telah lebih dulu terbentuk dengan dibantu beberapa kawannya yang dianggap mempunyai kemampuan melebihi yang lain.


Ketika mereka sedang berlatih olah keprajuritan ini, tiba tiba saja ke Demang telah mendatangi ke Oro Oro Ombo tempat para pemuda sedang berlatih.


Nampak Ki Demang datang bersama seorang laki laki muda dan seorang yang sudah tua dengan berpakaian jubah berwarna hitam dan mengenakan blangkon hitam.

__ADS_1


Ki Demang nampak berbicara dengan Ki Jagadenta.


Ki Demang kemudian telah memperkenalkan pemuda ini sebagai Joko Lola dan gurunya Kyai Karangjati.


"Ki Jagadenta, Anak Mas Lokajaya ini ingin membantu kademangan ini dari ancaman para begal dan perampok itu."


"Dia ingin mengabdikan dirinya kepada kadipaten Pati dan dia ingin bergabung dengan kita disini menjadi pengawal Kademangan lebih dahulu," kata Ki Demang.


"Sedangkan ini adalah Bopo Kyai Karangjati, guru dari Anak Mas Lokajaya," terang Ki Demang.


Untuk itu aku serahkan kepada Ki Lurah Jagadenta untuk menerima Anakmas Lokajaya.


Dan setelah memperkenalkan dirinya, Pemuda inipun telah diminta untuk ikut berlatih bersama para pemuda dari kademangan ini.


Sementara itu Kyai Karangjati pun telah pergi meninggalkan tempat itu bersama Ki Demang.


***


Latihan pagi itu hanyalah untuk meningkatkan kekuatan fisik dan daya tahan dari para pemuda.


Namun tampak sekali bahwa Lokajaya ingin menunjukkan kemampuannya.


Dan memanglah pemuda ini mempunyai kemampuan yang luar biasa yang memang sangat diharapkan dan dibutuhkan untuk menghadapi para perampok pimpinan Jagal Alas Kunduran.


Akan tetapi sikapnya yang ingin menunjukkan kemampuannya nampaknya terlalu berlebihan sehingga terkesan sombong dan tinggi hati.


Sebagian para pemuda yang berlatih ilmu keprajuritan nampak sangat kagum kepada loka Jaya.


Akan tetapi ada sebagian pula yang tidak senang dengan sikap Lokajaya yang terkesan ingin menonjolkan dirinya di depan semua orang yang ada di tempat ini.


Dan ketika kemudian latihan oleh Keprajuritan telah usai semua telah kembali ke tempat masing masing sedangkan sebagian yang memang tidak mempunyai pekerjaan lebih senang berkumpul di Banjar Kademangan Pucakwangi.


Hari itu Tirta, Bayu dan Adnan telah diajak oleh Bango putih untuk menyiangi tanaman padi di sawahnya sambil mencari ikan di pinggir pinggir sawah untuk lauk nanti sore.


Bayu, Adnan dan Tirta nampak sangat senang. mereka belum pernah melakukan hal ini sehingga Mereka telah mengerjakannya dengan kegembiraan.


Ini adalah pengalaman baru bagi mereka. Dan pada kesempatan itu pula, Bango Putih telah menyampaikan akan sedikit rasa tidak suka terhadap sikap dari Lokajaya yang dianggapnya sombong.


"Aku tidak suka dengan kesombongan yang ditunjukkan pemuda itu Tirta," kata Bango Putih di sela-sela kesibukannya mencabut rumput-rumput yang ada di sela-sela tanaman padinya yang mulai tumbuh dan beranak-pinak.


Tirta hanya tersenyum mendengar perkataan dari Bango Putih.

__ADS_1


Sejak kejadian di gua lowo, lagu Putih sangatlah percaya kepada ketiga pemuda ini dan dia sangat mengagumi akan karakter Tirta yang tidak suka menyombongkan dirinya walaupun dia mempunyai kemampuan yang luar biasa.


"Akan tetapi anak muda itu memang mempunyai kemampuan yang luar biasa Kang Bango, jadi pantas dia mempunyai rasa banggakan dirinya," kata Tirta.


"Tapi aku benar-benar tidak suka dengan perilakunya itu Adi Tirta, wajahnya itu seakan-akan memandang rendah kami," lanjut Bango Putih.


"Rasa rasanya ingin sekali aku memukul wajahnya yang sinis itu," kata Bango Putih.


"Tapi hati hatilah menghadapi pemuda itu Kang Bango," kata Tirta.


Ketika hari menjelang sore maka keempat pemuda ini telah kembali ke Dukuh Pucakwangi dengan Bayu yang nampak gembira telah menenteng ikan-ikan hasil tangkapannya.


Ikan-ikan itu telah direntang dengan menggunakan rumput yang cukup panjang.


"Sri.. Aku pulang! Ini aku bawakan banyak ikan tangkapan dari sawah!" Seru Bango Putih, ketika mereka sudah sampai depan pintu sebuah rumah sederhana yang letaknya di pinggir padukuhan.


Dan seorang wanita muda telah keluar dari rumah dan menyambut Bango Putih.


Bayu pun kemudian telah membantu membersihkan ikan-ikan hasil tangkapannya dan setelah bersih kemudian dia telah menyerahkan kepada Istri dari Bango Putih untuk memasaknya.


Sesaat mereka telah duduk di tikar dan makan bersama.


Bango Putih nampak begitu cepat akrab dengan ketiga pemuda ini. ada saja cerita yang disampaikan kepada Tirta Bayu dan Adnan.


Dia benar-benar telah merasa sangat cocok dan ketika pemuda ini. dia yang dikenal oleh kawan-kawannya cukup pendiam ternyata di hadapan Tirta Bayu dan Adnan telah menjadi demikian terbukanya kepada ketiga pemuda ini.


Apalagi Bayu memang merupakan seorang anak muda yang ceria dan bisa membuat hidup suasana sehingga dalam sesaat pun suasana dalam rumah ini terlihat cukup seru dengan celotehannya.


"Hmm, jika tidak ada kalian, akan aku habiskan ikan ikan ini sendirian," kata Bayu.


Nampaknya memang nafsu makan Bayu memang luar biasa besar.


"Carilah ikan sendiri besok! dan masak sendiri!" seru Adnan.


"Heh, kau kira aku gak bisa masak?" Jawab Bayu.


"Aku tuh biasa masak buat Mbak Latifah tahu!" kata Bayu


"Iya iya tau Bay.. Jawab Adnan.


"Kalo Adi Bayu mau mencari ikan lagi, biarlah Istriku yang memasak buat Adi Bayu," kata Bango Putih.

__ADS_1


__ADS_2