Tirta Jayakusuma: Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi

Tirta Jayakusuma: Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi
Sang penolong


__ADS_3

Dan  kemudian Tirta telah memeriksa sang pemuda yang mempunyai luka yang cukup parah ini.


Lambung kiri pemuda ini telah tertusuk pedang lawan dan dari kain putih yang digunakan oleh Tirta untuk membebat luka di lambung pemuda ini telah berubah warna menjadi merah.


Sementara nampaknya darah pun masih terus mengalir dari luka itu.


"Pendarahannya tidak bisa berhenti," desis Tirta yang juga didengar oleh para Wulan yang telah berada di samping pemuda ini.


Tirta pun telah berusaha mengerahkan tenaga batinnya untuk melindungi dan menambah kekuatan bagi pemuda yang telah terluka ini.


Rintihan kesakitan masih terdengar, mata pemuda ini pun nampak terpejam dan keningnya terlihat mengerut menandakan bahwa dia rasakan sebuah penderitaan yang tidak terkira.


"Apakah dia akan selamat Kakang?" Tanya Rara Wulan melihat keadaan pemuda yang ada di hadapan mereka ini dengan sangat khawatir.


"Semua keselamatan hanya milik Allah Rara. Kita pasrahkan kepada Allah."


"Semoga pemuda ini bisa melewati masa-masa kritis." Kata Tirta.


"Aku tidak bisa menjamin, aku hanya bisa berusaha,"


"Bantulah Sardi dengan doa kalian supaya dia tetap bisa berada bersama kita semua."


Dan kembali di sisi lain dari banjar ini tiba-tiba telah terdengar kembali rintihan.


Kembali Tirta telah bangkit untuk melihat asal suara rintihan tersebut.


Sesaat kemudian dia telah mendapati seorang pemuda yang juga ditumbuhi oleh sanak saudaranya.


Sore tadi Tirta telah membubuhkan paremnya pada luka-luka di tubuh pemuda ini.


Tirta telah berusaha sebaik mungkin berikan perawatan kepada semua yang terluka termasuk pemuda ini.


Suka pemuda ini adalah sebuah luka bacokan di bahu kanan dan bahu kirinya.


Dia pun kemudian telah berjongkok di samping pemuda ini.


Disentuhnya kening pemuda ini yang ternyata sangat panas.


Nampak sekali pemuda ini telah merasakan kesakitan pula seperti pemuda yang sebelumnya.

__ADS_1


"Ambillah kain basah untuk mengurangi panas di kening pemuda ini," kata Tirta kepada orang orang yang sedang menunggu pemuda ini.


"Baik Kang," kata seorang gadis kecil yang kemudian telah berlari untuk mendapatkan kain basah dan kemudian memberikannya pada Tirta Jaya Kusuma.


Tirta pun kemudian telah meletakkan kain basah ini di kening sang pemuda.


"Jika kain ini telah berubah menjadi panas maka ambillah kain ini dan tuangkanlah air dingin kemudian letakkan kembali di kening pemuda ini," kata Tirta Jaya Kusuma.


"Baik Kang," kata gadis kecil ini.


"Apakah kakakku ini bisa selamat Kang?" Tanya gadis kecil ini yang ternyata adalah adik dari pemuda ini.


"Insya Allah, kalau engkau bisa menjaga kakangmu dengan baik dia akan selamat," jawab Tirta.


"Akan tetapi semua itu tergantung dari Allah Ahla wa jalla, semua tergantung dari usaha kita dari doa kita dan semoga Allah mengabulkan apa yang kita minta," kata Tirta kepada gadis kecil ini.


Dengan pesan seperti ini, Tirta berharap supaya gadis kecil ini bisa menjaga kakaknya dengan sebaik-baiknya.


Gadis ini hanya mengangguk dan dengan setia telah berjongkok di samping sang kakak.


Tangannya yang kecil telah membetulkan letak kain yang basah di kening sang kakak.


Dengan telaten pemuda ini telah memberikan perawatan kepada segenap orang yang terluka.


Semua warga padukuhan apa kagum dengan pemuda ini. Seorang pemuda yang halus penuh adab, penuh welas asih.


Sementara di satu sisi seorang pemuda nampak memandang dengan rasa benci dan tidak suka kepada Tirta Jaya Kusuma.


Pemuda ini adalah Loka Jaya yang kemudian telah bersama dengan beberapa orang pemuda yang mempunyai sikap dan pandangan yang sama dengan dirinya.


Sebaik apapun seseorang saringan tangan apapun seseorang, akan selalu ada orang lain yang tidak suka kepadanya tidak suka dengan apa yang diperbuatnya.


Satu sisi kita berusaha menjadi manusia terbaik untuk mendapatkan keridhoan dari sang pencipta namun di satu sisi pasti ada orang-orang yang tidak suka dengan apa yang kita kerjakan dan kita lakukan.


Akan selalu ada pandangan mencibir meremehkan dan menganggap perbuatan yang kita lakukan hanyalah kamuflase ataupun hanya untuk dipuji oleh orang lain.


Dan Loka Jaya adalah pemuda yang seperti ini.


"Huh, pemuda itu nampaknya ingin mengambil hati para penduduk dari Kademangan ini," kata Lokajaya kepada beberapa pemuda yang mengitarinya.

__ADS_1


"Benar LokaJaya, mungkin pemuda itu Tengah mengincar kedudukan mungkin kedudukan Ki Demang atau mungkin kedudukan ki Rangga!" Kata pemuda ini.


"Loka Jaya yang merasa bahwa dia telah mendapatkan dukungan dari pemuda ini pun semakin bersemangat untuk memberikan pandangan-pandangan lain yang menurutnya adalah benar.


"Benar katamu Karyo! Mungkin pemuda itu menginginkan kedudukan demang  atau Rangga! Atau mungkin menginginkan Putri Ki Tumenggung, Rara Wulan yang cantik itu!" Kata seorang pemuda yang lain.


"Huh kalo benar apa yang kau katakan bahwa Lowo Ijo itu menginginkan Rara Wulan, aku tak akan tinggal diam!" Kata seorang pemuda lain.


***


Fajar menyingsing terlalu cepat, Tirta tidak bisa beristirahat dengan jenak. Selalu saja ada rintihan dan keluhan dari para pemuda dan orang-orang yang tengah terluka.


Dan Ki Rangga  Jagadenta harus memerintahkan semua prajurit muda ini kembali bersiap-siap menuju ke Oro-oro Ombo maka mau tidak mau semuanya harus sudah bersiap.


Mereka yang masih terluka akan tetapi masih mampu berjalan dan mengangkat senjata tetap berdiri dengan tegap melangkah dengan pasti mengikuti barisan yang berjalan menuju ke tengah  Oro-Oro Ombo untuk menyongsong para begal.


Mereka dilepas dengan penuh kesedihan dan tangisan dari orang-orang yang mereka cintai. Sanak kadang, para istri dan dari anak-anak yang mungkin saja tidak bisa mereka lihat kemudian karena bisa saja mereka telah mati dan gugur di medan perang.


Kini Ki Rangga Jagadenta telah menyerahkan induk pasukan kepada Tirta Jaya Kusuma untuk mandegani para prajurit.


Sementara di barisan sayap kiri , Loka Jaya tetap berada di tempat itu.


Dan di sayap kanan, Bayu dan Adnan diberikan kewenangan penuh untuk bisa memimpin kawan-kawannya.


Ki Rangga jaga Denta kini memposisikan diri sebagai pengatur serangan pasukan kecil Kademangan pucak wangi.


"Mereka telah kehilangan banyak prajurit akan tetapi kita pun juga kehilangan para pemuda kita begitu banyak. Aku harap semangat bertarung dari prajurit kita tidak akan kendur," kata Ki Rangga Jagadenta sambil melangkah di samping Tirta Jaya Kusuma.


"Kerahkanlah segala kekuatanmu untuk bisa menolong kami anak muda," kata Ki Rangga.


"Aku percaya kemenangan ini akan kita raih apabila engkau masih tetap bersama kami."


"Entah mengapa, aku merasa bahwa engkaulah yang di utus Gusti Kang Murbeng Dumadi untuk menyelamatkan kami," lanjut Ki Rangga.


"Insya Allah ki Rangga, namun demikian hasil akhir dari perang ini hanyalah Tuhan yang mengetahuinya."


"Aku hanya bisa membantu kalian membantu sebisa yang aku mampu," kata Lowo Ijo.


Sesaat Mereka pun telah memasuki Oro Oro Ombo.

__ADS_1


Tidak perlu menunggu terlalu lama ketika matahari mulai muncul di timur maka teriakan gemuruh dari pinggir Oro-oro Ombo di sebelah selatan telah terdengar menggetarkan pagi yang cerah mengusir burung-burung yang pagi itu mulai mendatangi Oro-oro Ombo mencari makan.


__ADS_2