Tirta Jayakusuma: Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi

Tirta Jayakusuma: Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi
Pengawasan oleh orang-orang tak dikenal


__ADS_3

Kembali pertarungan latih tanding berlangsung dengan sengitnya.


Mereka bertarung satu lawan satu dan ketika sang lawan telah kalah maka mereka pun telah mencari lawan lain lagi sehingga akhirnya hanya berdiri satu orang dari sepuluh orang pemuda yang bertarung di tengah arena.


Tirta telah bertarung menyesuaikan dirinya, tidak terlalu kuat dan juga tidak terlalu lemah. cukup supaya dia tetap bisa bertahan di arena, sehingga dia pun tetap bisa diterima sebagai pengawal Kademangan Pucakwangi dan selanjutnya mungkin bisa menjadi prajurit dari kadipaten Pati.


Dan ketika kemudian dia telah memutuskan untuk mengalah maka dia pun telah dengan sengaja membenturkan tubuhnya kepada tongkat yang diayunkan oleh seorang pemuda.


Terlihat tubuh Tirta Jaya aya Kusuma terlontar beberapa kali sebelum akhirnya jatuh berdebam di atas tanah berumput di Oro-oro.


Sebenarnya lah lurah prajurit Jagadenta adalah seorang yang cukup berpengalaman.


Walaupun beberapa kali Tirta Jaya Kusuma sepertinya terdesak dan terkena pukulan akan tetapi diperhatikannya dengan teliti tiap gerakan Tirta Jaya Kusuma seperti telah sengaja memberikan tubuhnya supaya terpukul oleh sang lawan.


Dari pengalamannya, Ki Jagadenta telah mencurigai bahwa baik Lowo Ijo maupun Lowo Gemblung telah sengaja mengalah kepada lawan-lawannya.


Atas dasar kecurigaannya inilah ketika kemudian Adnan telah turun ke arena dia benar-benar memperhatikan pergerakan dari Lowo Cilik atau Si Codot Kampret.


Dan benar saja kecurigaannya ini. Ki Jagadenta telah semakin yakin bahwa ketiga orang anak muda ini mempunyai ilmu kanuragan yang cukup mumpuni dan bahkan mungkin jauh di atas para pemuda dari Pucak wangi.


Malam makin larut ketika semua telah mendapat giliran menunjukkan kemampuannya, maka latihan olah kanuragan ini pun telah usai.


Mereka kemudian kembali ke padukuhan.


Beberapa anak muda masih tetap bertahan di gardu-gardu jaga. Bagaimanapun juga peristiwa dengan sang jagal dari alas kunduran telah membuat khawatir dari segenap warga Kademangan Pucakwangi khususnya di padukuhan induk pucakwangi ini.


Mereka sangat khawatir akan ucapan Jagal Alas Kunduran yang akan kembali lagi ke Kademangan ini untuk balas dendam.


Dan tanpa sepengetahuan dari para pengawal Pucakwangi, beberapa pasang mata telah mengawasi latihan keprajuritan yang diadakan oleh lurah prajurit Ki Jagadenta, di Oro-oro Ombo.


Dalam satu kesempatan, Tirta telah berkata kepada Adnan dan juga Bayu;


"Lihatlah di semak-semak dan grumbul-gembul di pinggiran Oro-oro Ombo ini." Kata Tirta yang memang mempunyai panggraito atau perasaan yang sangat tajam karena memang kemampuan batinnya yang sudah sangat tinggi.


Tirta memang mampu membedakan getaran-getaran yang ada di sekitarnya.


Untuk sesaat Bayu dan Adnan nampaknya belum bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Tirta Jaya Kusuma.


"Cobalah kerahkan perasaan dan mata batin kalian. konsentrasi lah untuk merasakan lingkungan kalian terutama di arah gerumbul-grumbul yang ada di pinggiran Oro-oro Ombo ini," bisik Tirta Jaya Kusuma.


Setelah beberapa saat.


"Benarkah aku merasakan sebuah aura dari kekuatan berapa orang yang mengawasi kita dari balik gerumbul-grumbul itu," kata Adnan.


"Kita harus mencari tahu siapakah mereka itu, dan apa yang mereka lakukan di tempat ini dan mengawasi latihan para pengawal kademangan ini," bisik Tirta pada kedua sahabatnya.

__ADS_1


Dan ketika mereka semua telah menempatkan diri di gardu-gardu penjagaan yang tersebar di tiap sudut padukuhan.


Adnan kemudian telah menyampaikan kepada Bango Putih yang memang merupakan pemuda yang dianggap pemimpin di antara para pemuda padukuhan Pucakwangi.


"Kang Bango, kami akan melihat keadaan patokan ini mungkin kami bisa ikut melakukan pengawasan di sekitar," kata Adnan ketika mereka sedang duduk di sebuah gardu parondan yang terletak menghadap ke arah Oro-oro Ombo.


Oro-oro ini sendiri merupakan satu wilayah yang merupakan perbatasan antara padukuhan besar Pucakwangi dengan wilayah tak bertuan yang ada di timur padukuhan.


Dan di tengah-tengah Oro-Oro Ombo ini terbelah oleh jalanan berbatu yang cukup lebar yang menghubungkan daerah ini dengan-daerah lain di sebelah selatan Gunung Gamping atau Pegunungan Kendeng.


"Apakah kalian tidak khawatir jika kalian menemui para begal itu, kalian hanya bertiga, sedangkan para begal itu sangatlah tangguh dan kuat.


"Kalian melihat sendiri bagaimana Ki Jagadenta pun tidak mampu menghadapi pemimpin dari para begal itu yang menamakan dirinya Jagal Alas Kunduran," kata Bango Putih.


"Ah, kami sudah terbiasa melakukan perjalanan kang Bango," kata Adnan.


"Jika kalian ingin tetap melihat lihat keadaan maka biarlah akan aku temani kalian," kata Bango Putih.


Sebenarnya lah bahwa Bango Putih memang masih penasaran dengan ketiga orang anak muda ini. selain itu dia telah mendapatkan pesan dari di Jagabaya dan juga Ki Jagadenta untuk tetap mengawasi ketika anak muda ini.


Tirta Jaya Kusuma pun agak bingung juga karena Bango Putih mempunyai sebuah pandangan yang bisa diartikan bahwa dia masih belum bisa memberikan kepercayaan penuh kepada ketiga orang pemuda ini.


Namun Tirta harus segera kembali ke Oro-oro Ombo itu untuk bisa menemukan orang-orang yang sedang mengawasi mereka yang kemungkinan besar akan segera berlalu dari tempat itu jika mereka tidak segera kembali ke Oro-oro Ombo.


Dan usai berkata demikian tetapi mengajak Bayu, Adnan dan juga Bango Putih.


Tirta bergerak cukup gesit dan lincah dengan diikuti oleh Bayu dan juga Adnan.


Bango Putih pun nampaknya agak curiga dengan kecepatan gerak dari ketiga pemuda ini.


"Jika melihat kecepatan gerak dari ketiga pemuda ini seharusnya lah mereka akan mampu mengatasi lawan-lawan ketika mereka sedang berlatih tanding di tengah Oro-oro Ombo," batin Bango Putih.


Sesaat kemudian mereka mulai mendekati Oro-oro Ombo.


Sebenarnya Bango Putih ingin menanyakan hal ini karena sebelumnya ketika pemuda ini menyatakan bahwa mereka akan melihat-lihat dan berkeliling di padukuhan, akan tetapi ternyata mereka menuju ke arah Oro-oro Ombo.


Akan tetapi pertanyaan-pertanyaan ini hanya disimpannya di dalam hati, apalagi ketika kemudian setelah mereka berada di pinggir Oro-oro.


"Merunduk!" Bisik Tirta ketika mereka sudah berada di sekitar Oro-oro Ombo di mana di gerumbul-grumbul dan semak semak yang ada di sekitar Oro-oro Ombo, tiba-tiba telah melompat keluar beberapa bayangan tubuh.


Ada sekitar lima orang yang keluar dari masing-masing semak-semak.


Mereka memakai pakaian serba hitam sehingga tidak mudah untuk membedakan bayangan tubuh orang-orang ini dengan semak-semak.


Mereka seakan-akan adalah semak-semak itu sendiri jika tidak diperhatikan secara seksama. Maka pastilah orang tidak akan menyangka bahwa mereka adalah orang-orang yang memakai pakaian serba hitam.

__ADS_1


Ketika kemudian salah seorang dari lima orang ini telah berkata kepada yang lainnya.


"Kita harus menyampaikan segera akan kekuatan dari para pengawal padukuhan ini kepada Ki Jagal!" Kata orang ini.


"Benar Kang," kata seorang yang lain.


Dan setelah berkata demikian, lima orang ini sudah bergerak cepat bagaikan hantu menuju ke arah timur Oro-oro Ombo.


Bango Putih nampak tercengang. Tak disangkanya ketika anak-anak muda ini telah mengetahui bahwa ada orang-orang yang mengawasi mereka.


"Kita ikuti mereka," bisik Tirta kepada Bayu, Adnan serta Bango Putih yang kini nampaknya telah memahami akan gawatnya urusan.


Ke empat anak muda ini pun kemudian telah bergerak mengikuti kelima bayangan di depan mereka dengan sangat berhati-hati.


Mereka sadar bahwa lima orang yang mereka ikuti mempunyai kemampuan yang luar biasa, dan pastilah mereka mempunyai panggraito yang juga cukup tajam.


Kecepatan gerak dari kelima orang yang telah mengawasi latihan yang diadakan oleh para pengawal Kademangan pucak wangi nampaknya cukup mencengangkan.


Namun nampaknya, Tirta Bayu dan Adnan sangat mudah untuk bisa mengikuti pergerakan ini.


Sementara Bango Putih nampak dengan susah payah mengikuti pergerakan orang-orang ini.


Untunglah beberapa kali, Tirta telah menunggu Bango Putih supaya tidak tertinggal terlalu jauh.


"Bahkan Si Gemblung yang punya tubuh yang sangat besar dan perutnya yang sebesar gentong itu pun mampu bergerak sangat cepat," batin Bango Putih.


Beruntung juga bahwa kelima orang yang berpakaian hitam-hitam yang mereka buntuti nampaknya tidak terus-terusan melakukan pergerakan cepat, sehingga Bango Putih tetap bisa mengikuti pergerakan ini.


Dan setelah bergerak beberapa saat lamanya Mereka kemudian telah sampai di sebuah pinggiran hutan di lereng pegunungan Kendeng.


kelima bayangan ini terus menerobos hutan yang tidak begitu lebat namun mempunyai kontur tanah yang berbatu dan terjal.


kelima orang ini nampaknya sudah terbiasa melewati tempat ini sehingga mereka mampu bergerak dengan sangat perintah yang cepat.


Sesaat kemudian, mereka telah berhenti ketika tiba-tiba di atas sebuah batu yang cukup besar dan menonjol telah berdiri seseorang yang menghadang pergerakan dari kelima orang yang berpakaian serba hitam ini.


"Siapa!" Bentak orang yang ada di atas batu besar ini.


"Kami Ki!" seru salah satu dari kelima pria berpakaian hitam.


"Oh, kalian! Cepat kalian masuk!" Seru laki- laki yang ada di atas sebuah batu besar ini.


Ternyata di balik batu besar ini terdapat sebuah gua. Goa yang cukup besar yang seringkali digunakan untuk berteduh bagi para pemburu dan juga pencari kayu yang kehujanan ataupun melepas lelah.


Gua ini biasa disebut sebagai Goa Lowo (Goa Kelelawar).

__ADS_1


__ADS_2