
Hari itu keadaan di Kademangan Pucakwangi tengah mengalami ketegangan.
Para sandi yang telah dikirim oleh Ki Jagadenta untuk mengawasi orang orang yang berada di Gua Lowo telah kembali dan memberitakan kepada Ki Rangga Jagadenta dan juga ki Jagabaya dan Ki Demang serta para sesepuh Kademangan.
"Mereka nampaknya telah mulai bersiap Ki Rangga!"
"Ketika fajar telah menyingsing kami telah melihat pergerakan mereka yang sedang bersiap-siap melakukan perjalanan dengan hampir semua dari orang-orang itu telah mulai bergerak menuju kemari."
"Mereka terdiri dari tiga kelompok."
"Satu kelompok terdiri dari orang-orang berkuda berjumlah kira-kira dua puluh ekor kuda, sedangkan sisanya adalah orang-orang yang berjalan kaki dengan jumlah sayap kanan kurang lebih limapuluh orang dan sayap kiri juga kurang lebih limapuluh orang."
Mendengar keterangan dari telik sandinya ini, Ki Rangga Jagadenta nampak memandang ke atas langit-langit pendopo kademangan Pucakwangi.
"Apa yang aku khawatirkan ternyata telah menjadi kenyataan."
"Mereka nampaknya akan segera bergerak karena mereka menyadari jika pasukan pengawal Kademangan dan para pemuda telah menjadi semakin kuat maka mereka akan semakin kesulitan untuk bisa menaklukkan kademangan ini."
"Dan mereka bukanlah begal dan perampok biasa, mereka pastilah telah di tunggangi oleh unsur lain," kata Ki Rangga.
"Kalian kembalilah ke garis depan dan lihat pergerakan dari para begal itu, kabarkan tiap-tiap saat perubahan yang terjadi," kata Ki Rangga Jagadenta kepada telik sandinya ini.
"Baik Ki Rangga!" Jawab telik sandi nya ini yang kemudian telah melangkah keluar dari pendopo Kademangan.
Setelah telik sandi nya keluar, maka ki Rangga Jagadenta telah berkata pada Suro dan sarno.
"Kita pun tidak bisa berdiam diri menghadapi mereka."
"Kita harus segera bersiap-siap Sarno, Suro, Ki Jagabaya!" Kata Ki Rangga.
"Ki Demang, ada berapa kuda yang ada di padukuhan induk ini?" Tanya Ki Rangga.
"Kita harus menggunakan semua daya kita untuk menahan serangan para begal itu."
"Dan sangat penting untuk melawan orang orang berkuda itu dengan pasukan berkuda pula." Kata Ki Rangga.
Ki Demang nampak berdiam sesaat seperti menghitung dengan jari jemarinya.
__ADS_1
"Sebenarnya di sini ada sekitar sepuluh ekor kuda Ki Rangga!" Akan tetapi lima ekor diantaranya dipunyai oleh seorang saudagar yang berada di ujung sebelah utara padukuhan ini."
"Dan kemungkinan saudagar itu untuk melepaskan kuda-kudanya untuk dipakai berperang sangatlah kecil."
"Saudagar itu sangat menjaga kuda kudanya dan dia kurang perduli kepada penduduk di sekitar padukuhan ini," kata Ki Demang.
"Dia sendiri mempunyai beberapa orang pengawal untuk menjaga harta bendanya."
"Namun dalam keadaan yang penting seperti sekarang ini aku tidak tahu apakah dia bersedia melupakan kuda-kudanya itu untuk kita pergunakan melawan para begal."
"Baiklah ki Demang, tugas Ki Demang untuk menghubungi saudagar itu supaya dia mau melepaskan kuda-kuda itu.
"Biarlah Bango Putih yang akan mengambil kuda-kuda itu." Lanjut Ki Rangga.
"Bawalah beberapa orang pengawal padukuhan untuk menemani kamu Bango Putih, untuk mengambil kuda kuda itu! Kita sangat membutuhkan kuda kuda itu," terang Ki Rangga.
"Aku tidak ingin adanya banyak korban di pihak kita.
"Kita papak para begal itu di Oro-oro Ombo."
"Dan tugas Ki Demang dan Ki Jagabaya! Jika sekiranya kami tidak mampu menahan gempuran para begal itu bawalah anak-anak dan wanita keluar dari padukuhan ini mengungsi kedua-dua kecil yang ada di belakang sana," kata Ki Rangga.
Pasukan pengawal ketenangan yang berjumlah ratusan orang ini telah dipersiapkan oleh ki Rangga Jagadenta.
Bango Putih pun telah melaksanakan tugas dari Ki Rangga Jagadenta untuk menuju ke rumah seorang saudagar yang ada di pinggir padukuhan sebelah utara padukuhan induk ini.
Ternyata Bango Putih telah mengajak Tirta dan Bayu atas seijin Ki Rangga serta seorang kawannya.
Mereka berjalan cepat menyusuri jalanan berbatu di tengah padukuhan menuju arah Utara.
Rumah saudagar ini letaknya memang di pinggiran dari padukuhan dan agak berjauhan dengan padukuhan induk, kira-kira sekitar lima ratusan tombak dari padukuhan induk.
Ketika mereka berada di ujung padukuhan maka terlihatlah di kejauhan di pinggiran sebuah jalanan yang menuju ke arah kadipaten Pati terdapat beberapa buah rumah yang berada di tengah-tengah persawahan dan dikelilingi oleh pohon-pohon yang rimbun.
"Itulah rumah saudagar Karto!" Kata Bango Putih menuju ke arah sekumpulan rumah yang nampak sedikit jauh dari tempat mereka.
Memang pada zaman itu rumah-rumah penduduk sejarahnya memang agak berjauhan dan biasanya orang orang tertentu mendirikan rumah-rumah mereka berkumpul dengan sanak kadang membentuk sebuah koloni.
__ADS_1
Hal ini terjadi karena pada masa-masa itu rampok dan begal merupakan momok yang sangat menakutkan.
Sehingga mereka telah membentuk satu koloni untuk mencegah para penjahat ini dan untuk mempertahankan diri mereka secara bersama-sama.
Keempat pemuda ini pun segera berlari cepat menyusuri jalanan menuju ke rumah sang Saudagar.
Mereka harus mengejar waktu karena diperkirakan sebelum matahari menjadi tinggi maka para begal yang berada di Gua Lowo itu pasti sudah sampai di oro-oro.
Dan kemungkinan besar orang-orang berkuda yang ada di antara mereka pun akan sampai terlebih dahulu.
Ketika kemudian mereka sampai di depan pintu gerbang maka terlihat dua orang pria bertubuh cukup mekar dengan bertelanjang dada dan mengenakan kain jarik melingkar di pinggang tengah duduk duduk di sebuah lincak di bawah sebuah pohon kelapa yang belum terlalu tinggi.
Kedua orang pria kekar ini segera berdiri.
"Heh, Bango Putih! Ada apa kau datang kemari!" Tegur salah seorang dari dua pria ini yang nampaknya telah mengenal bambu putih.
"Apakah engkau mau menjual kacang ijo? Atau kacang tanah? Tapi aku lihat engkau tidak membawa apapun !?" Tanya orang ini lagi seraya menatap tajam kearah Bango Putih dan tiga orang kawannya ini.
"Oh, aku kemari tidak akan menjual apapun Kang! Aku kemari karena diutus oleh Ki Demang dan juga pimpinan prajurit yang ada di Pucakwangi!" Kata Bango Putih.
"Eh!? Engkau disuruh apa sama Ki Demang itu?" Tanya orang ini lagi.
"Kami akan menyampaikan pada Juragan Karto dulu kang," jawab Bango Putih lagi.
"sampaikanlah dulu kepadaku, nanti akan aku sampaikan kepada juragan Karto," kata pria ini.
Bango putih nampak bingung dengan jawaban dari dua orang pria ini.
Ketika kemudian Bayu yang berkata.
"Kami harus menyampaikan pesan dari Ki Demang ini secara langsung kepada juragan Karto, Kang," kata Bayu.
"Heh, siapa temanmu ini Bango!? Nampaknya dia bukan warga padukuhan Pucakwangi dan nampaknya dia belum mengenal aku," kata pria ini yang nampaknya tidak senang dengan perkataan dari Bayu.
"Dia warga baru kami Kang, " jawab Bango Putih.
"Sudah, sampaikan kepada kami saja!" Sanggah pria yang lain.
__ADS_1
"Baiklah kalo kalian memaksa!"
"Kami disuruh kemari oleh Ki Demang untuk meminjam kuda kuda milik juragan Karto!" Kata Bayu yang nampaknya mulai terpancing dengan sikap dan perkataan dua orang ini.