
Waktu berlalu dengan cepat, ketika suatu ketika beberapa orang terlihat lusuh dan kuda kuda mereka telah juga terlihat kelelahan.
Ketika kuda-kuda ini telah melewati Oro-oro Ombo dan disaat kemudian mereka telah sampai di regol padukuhan Induk Pucakwangi, beberapa orang ini penjaga gardu yang berada di sebelah regol pun telah menghadang perjalanan empat ekor kuda dengan 4 orang penunggangnya.
"Berhenti! Berhenti kalian!" Seru seorang pemuda yang nampaknya menjadi pemimpin di antara anak-anak muda yang sedang berjaga di regol Kademangan pucak wangi ini.
Tali kekang kuda pun ditarik dengan mendadak sehingga kuda telah meringkik keras dan mengangkat kedua kaki depannya.
"Heh! Kami adalah prajurit-prajurit Mataram yang membawa Nawala dari Sultan Agung! Raja Mataram!" Seru seorang penunggang kuda yang nampaknya pemimpin dari keempat orang ini.
Mendengar hal ini sang pemimpin regu penjaga yang sedang menjaga Regol padukuhan induk Kademangan Pucakwangi pun tergetar pula hatinya.
Dipandanginya keempat orang laki-laki yang berdiri angker di atas kuda-kuda mereka.
Namun pemuda ini nampaknya tidak kalah gertak! Apalagi memang mereka telah di diberitahu akan halnya ketegangan yang terjadi antara Mataram dan juga pari pesantren karena beberapa kali sang Adipati Pati, Ki pragolo telah menolak dan tidak ikut hadir dalam Pisowanan Ageng di Mataram.
"Tidak peduli kalian dari Mataram atau dari manapun kalian harus tunduk pada peraturan kami para pengawal Kademangan pucak wangi!" Kata pemuda ini yang nampaknya telah terpancing oleh sikap dari para prajurit Mataram ini yang terlihat jumawa.
Dan sikap dari para pemuda ini nampaknya telah menjengkelkan dan membuat kemarahan dari para prajurit Mataram yang merasa bahwa sudah seharusnyalah mereka dihormati karena mereka adalah utusan-utusan dari Mataram yang besar, yang telah menguasai Tanah Jawa.
"Kurang ajar! Kalian adalah pengawal ingusan! Tahukah kalian bahwa kami adalah prajurit-prajurit Mataram yang agung yang mendapatkan mandat untuk menyampaikan Nawala (surat) kepada Adipati kalian?" Seru pria diatas kuda yang kemudian tiba-tiba telah menarik kekang kuda dan membedal kuda dengan kencang menerjang ke arah beberapa orang pemuda pengawal Kademangan yang sengaja berdiri di tengah jalan menghadang perjalanan para prajurit utusan Mataram ini.
Terkejut juga para pemuda ini melihat perjalanan dari kuda-kuda yang menerjang ke arah mereka sehingga mereka pun telah tersibak ke kanan dan kiri.
Beberapa pemuda nama berusaha mengayunkan golok-golok di tangan mereka.
Akan tetapi dengan mudahnya para utusan Mataram ini telah menggunakan kaki-kaki mereka untuk menendang golok-golok yang terayun ke arah mereka sehingga golok-golok ini telah terpental dan hampir terlepas dari tangan-tangan para penjaga regol.
Nampaknya utusan dari Mataram ini adalah prajurit-prajurit yang sangat tangguh sehingga dengan mudahnya mereka telah mematahkan serangan dari para pengawal kademangan.
Sementara seorang penjaga yang melihat kejadian ini pun segera memukul kentongan pertanda adanya bahaya.
Jalanan utama yang melintasi padukuhan induk Kademangan pucak wangi ini telah membelah padukuhan tepat di tengah tengah.
Di mana di tengah-tengah padukuhan ini pun berada rumah Ki Demang dan juga Banjar padukuhan atau Banjar Kademangan.
Pada saat itu di Demang, ki Rangga Jagadenta sedang duduk di Banjar padukuhan dengan beberapa orang.
Mendengar suara kentongan yang dipukul dari arah regol yang bernada akan datangnya marabahaya, di Rangga jagadenta pun kemudian telah melompat berdiri dan diikuti oleh di Jagabaya serta Loka Jaya yang berada di banjar tersebut.
__ADS_1
Sikap mereka pun telah mengambil golok-golok yang mereka sandarkan di dinding Gedeg Banjar.
Beberapa orang ini kemudian telah melompat dan kemudian telah menuju ke jalanan yang melintasi padukuhan mereka.
Dan benar saja beberapa saat kemudian dalam jarak beberapa pulau tombak terlihatlah debu mengepul ketika kuda-kuda telah berlari dengan kencang melintasi jalan berbatu dan berdebu di tengah-tengah jalanan yang membelah paduan ini.
"Berhenti!" Seru Ki Rangga Jagadenta dengan suara yang menggelegar keras.
Namun nampaknya kali ini para pengendara kuda itu tidak menghentikan laju dari kuda-kuda mereka.
Ki Rangga Jagadenta pun tidak bisa melihat dengan jelas orang-orang ini sehingga dia pun kemudian telah melompat tinggi dan kemudian telah mengayunkan goloknya mengarah kepada seorang penunggang kuda yang dengan sikap pula telah menarik golok yang tergantung di pinggangnya.
Dan ..
"Traang!"
Benturan antara dua senjata tajam pun tak dapat dielakkan.
Namun Alangkah terkejudnya Ki Rangga Jagadenta.
Benturan itu telah membuat lengannya tergetar dengan keras.
Sementara itu pada saat yang bersamaan pula Loka Jaya pun tidak mau kalah..
Dia pun telah mengayunkan goloknya ke arah penunggang kuda kedua yang berada di belakang penunggang kuda pertama.
Seperti halnya dengan penunggang kuda yang pertama, sikap penunggang kuda kedua pun telah menangkis serangan dari Loka Jaya dengan goloknya yang sudah tergenggam di tangan kanan.
Namun gerakan dari LokaJaya tidak hanya berhenti sampai di situ saja, tiba-tiba pemuda ini pun telah mengayunkan tendangan keras dan sangat cepat menghantam ke arah punggung dari sang penunggang.
Bukan main penunggang kuda kedua ini karena jarang seseorang melawan mampu melakukan serangan secara beruntun seperti ini apalagi dalam posisinya masih berada di udara.
Tak ayal..
"Desss!"
Tubuh penunggang kuda yang kedua ini tak mampu lagi menghindarkan tendangan yang mengarah ke punggungnya.
Seketika tubuh penunggang kuda yang kedua pun telah terjungkal terjatuh dari atas kudanya.
__ADS_1
Sementara itu penunggang kuda ketiga dan keempat pun serentak menghentikan laju kudanya sehingga kuda-kuda mereka pun telah pergi keras dan mengangkat kaki-kaki depannya.
Kini kedua belah pihak lah saling berhadapan.
"Kurang ajar! Kalian benar-benar orang-orang Pati yang gila! Kami adalah para utusan dari Mataram, berani-beraninya kalian menghadang perjalanan kami!" Seru penunggang kuda ketiga yang nampaknya adalah pemimpin dari keempat orang ini.
Ki Rangga Jagadenta nampak terkejut mendengar perkataan dari penunggang kuda ketiga ini.
Kini pandangannya pun telah tertuju dengan seksama ke arah para penunggang kuda ini.
Sementara Lokajaya yang bermaksud melakukan serangan berikutnya pun telah dicegah oleh di Rangga jagadenta.
"Tahan! Tahan serangan mu LokaJaya!" Seru ki Rangga jaga Denta.
Sebenarnyalah Lokajaya ingin menunjukkan kembali kekuatannya dalam bertarung akan tetapi dia pun masih segan dengan perintah dari Ki Rangga Jagadenta.
Akan tetapi hasil dari tendangannya telah membuat prajurit yang menunggangi kuda kedua pun terjungkal dari atas kuda dan bergulingan di atas jalanan berbatu dan dengan susah payah laki-laki ini pun telah berusaha untuk bangkit sambil memegangi punggungnya yang dirasakan sakit karena tendangan dari Loka Jaya.
"Berani beraninya kalian menyerang kami para prajurit Mataram yang telah diutus oleh sinuhun Sultan Agung Mataram," kata sang pemimpin orang-orang berkuda ini.
Kini Ki Rangga jagadenta pun sudah dapat mengenali bahwa mereka adalah prajurit-prajurit dari Mataram menilik dari pakaian yang mereka kenakan dan juga tanda-tanda dari para prajurit Mataram.
Ki Rangga Jagadenta kini segera menyadari kesalahannya.
Ada peraturan tidak tertulis yang menyatakan bahwa para utusan tidak boleh dilukai atau dihinakan.
"Maaf Ki! Akan kemanakah tujuan kalian ini. Jika memang kalian adalah prajurit Mataram yang diutus oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma ke Pati Pesantenan, maka tunjukkanlah bahwa kalian benar-benar adalah utusan dari Sinuhun Sultan Agung di Mataram!" Seru Ki Rangga Jagadenta tegas.
"Huh! Kalian benar-benar orang-orang liar yang tidak menghargai para utusan!" Geram sang pemimpin prajurit utusan Mataram.
"Maaf sekali lagi maaf Ki! Kalian harus menunjukkan bahwa kalian benar-benar adalah utusan dari Mataram!" Kata ki Rangga Jagadenta dengan tegas.
Walaupun dalam hal ini Ki Rangga Jagadenta sudah yakin bahwa mereka adalah para prajurit dari Mataram, akan tetapi jika ingin melewati padukuhan ini mereka harus menunjukkan bahwa mereka benar-benar adalah para prajurit utusan dari Sultan Agung di Mataram.
Inilah bentuk dari kehati-hatian karena menghadapi situasi yang semakin menegangkan antara Mataram dan juga Pati Pesantenan.
Bagaimanapun para prajurit Mataram ini harus menyadari posisi mereka.
Kini mereka berada di wilayah Kadipaten Pati dan nampaknya di Kademangan ini telah berkumpul para pengawal Kademangan yang cukup banyak dan kuat sehingga dia pun akhirnya harus mengikuti perkataan dari ki Rangga Jagadenta.
__ADS_1