
Di antara para abdi setia dari Adipati Pragolo, Tumenggung Mangunjaya yang berusia paling sepuh di antara para Tumenggung pembantu dari Sang Adipati dan merupakan penasihat utama dan nasehatnya selalu didengarkan oleh Sang Adipati.
"Ada gerangan apakah Adi Tumenggung? Nampaknya Adi Tumenggung begitu tergesa-gesa datang kemari, dan siapakah mereka yang ikut datang bersama dengan Adi Tumenggung? Nampaknya mereka bukanlah orang-orang kita," kata Tumenggung Mangunjaya.
"Njih Kakang Mangunjaya," kata Tumenggung Sawunggaling.
Mereka kemudian duduk di pendopo joglo kadipaten.
Mereka adalah pembantu pembantu setia sang Adipati. Dan dalam keadaan yang gawat seperti ini mereka sering berkumpul di pendopo joglo memperhatikan mengawasi dan mendengar laporan-laporan dari para telik sandi para prajurit yang bertugas di luar.
Secara singkat Ki Tumenggung Sawunggaling menceritakan kedatangan utusan dari Mataram ini.
"Demikianlah Kakang Mangunjaya, mereka telah dihadang oleh para pengawal Kademangan Pucakwangi di mana pada saat itu putriku juga berada di sana sehingga akhirnya mereka telah dikirim sampai ke tempat ini," terang Tumenggung Sawunggaling.
"Baiklah Adi Sawunggaling, biarlah aku akan menyampaikannya kepada Ki Pragolo sendiri supaya Adipati Pragolo yang menerima dan membaca apa yang menjadi isi dari nawolo dari Sultan Agung Hanyokrowati di Mataram," kata temanggung Mangunjaya.
Dan sesaat kemudian Ki Tumenggung Mangunjaya pun telah berjalan keluar dari pendopo joglo ini menuju ke sebuah bangunan megah yang ada di belakang pendopo.
Tidak berselang lama Tumenggung Mangunjaya telah kembali ke tempat itu.
Dia berjalan bersama dengan seorang pria tengah baya yang terlihat gagah dengan tubuh yang tinggi besar.
Tubuhnya besar dengan dada bidang. Kumisnya nampak cukup lebat tanpa jambang .
Wajahnya memancarkan aura kuat akan seorang pemimpin yang disegani dan menyimpan sebuah kekuatan yang tiada tara.
Tirta yang berada di dalam rombongan Ki Tumenggung Sawunggaling segera merasakan aura ini.
Aura tebal yang menyelimuti tubuh dari pria gagah ini dan pemuda ini pun telah menduganya bahwa dia pastilah Sang penguasa Kadipaten Pati Pesantenan. Adipati Pragolo 2. Atau juga lebih dikenal dengan Wasis jaya kusuma 2.
Semua yang hadir di tempat itu pun segera menyembah kepada sang Adipati sebagai wujud labuh bekti kepada Sang pemimpin tertinggi dari Kadipaten Pati.
Setelah sang Adipati duduk di dampar kencana...
"Mana itu utusan dari Mataram!" Seru sang Adipati dengan suara menggelegar.
__ADS_1
Suaranya terdengar menggema menggetarkan seluruh dada segenap yang hadir di pendopo joglo ini.
Salah seorang dari utusan Mataram segera bangkit dari duduknya dengan berjalan pelan sambil berjongkok yang merupakan adab kesopanan bagi seorang abdi kerajaan yang Tengah menghadap kepada junjungannya.
Kedua tangannya segera mengangkat tinggi sebuah gulungan kain berwarna keemasan dan menyerahkannya kepada Adipati Pragolo.
Dan Adipati pun menerima surat ini.
Pelan sangat cepat kemudian membuka gulungan kain keemasan yang merupakan surat resmi dari kakak iparnya sendiri yang merupakan penguasa tertinggi dari kerajaan Mataram. Sang penguasa Tanah Jawa.
Beberapa saat kemudian Sang Adipati pun telah kembali menggulung Nawala yang selesai dibacanya.
Tidak ada perubahan dari wajah sang Adipati.
Semua nampak memperhatikan apa yang akan diucapkan sang Adipati selanjutnya.
"Sampaikan kepada Kakang prabu Hanyokrowati rajamu, wahai para utusan dari Mataram.
Bahwa surat dari Kakang prabu sudah aku terima." Kata Adipati Pragolo.
Setelah berkata demikian langkah selanjutnya Adipati pragolo telah memerintahkan para utusan Mataram ini untuk beristirahat sejenak sebelum mereka melanjutkan perjalanan kembali ke Mataram.
Sementara Adipati pragolo telah membicarakan undangan dari Mataram kepada para abdinya, terutama kepada enam orang tumenggung setia yang selalu berada di sampingnya.
"Kakang Tumenggung Mangunjaya, panggilah para Tumenggung yang setia malam ini juga."
"Aku ingin bicarakan masalah ini kepada mereka semua," kata Ki Pragolo.
Selanjutnya Tumenggung Mangunjaya pun telah memerintahkan anak buahnya untuk memanggil para Tumenggung utama dari Kadipaten Pati.
Sambil menunggu kedatangan para Tumenggung setianya, Adipati Pragolo nampak memandang ke arah seorang pemuda yang duduk di samping Tumenggung Sawunggaling.
"Siapakah pemuda yang ada di sampingmu itu Adi Tumenggung Sawunggaling?" Tanya Ki Pragolo
Ada sebuah perasaan dan getaran yang dirasakan oleh Ki Pragolo ketika tatapan matanya telah membentur sosok tubuh pemuda yang bertubuh tinggi yang ada di samping Tumenggung Sawunggaling.
__ADS_1
Apalagi ketika kemudian pemuda ini telah mengangkat wajahnya sehingga kedua tatapan mata dari pemuda ini telah menatap tajam ke arah mata dari Adipati pragolo.
Selama ini tidak ada seorangpun yang akan mampu menghadapi tatapan mata San Adipati yang terkenal sangat tajam dapat menusuk melalui kedua matanya yang bagaikan elang.
Sebuah gelombang tenaga batin telah menyusup ke relung hati tirta jaya kusuma maupun Wasis jaya kusuma kedua ini.
Sebuah perasaan yang belum pernah dirasakannya sebelumnya.
Tirta segera merasakan aura kekuatan yang sangat luar biasa!
Inilah leluhurnya! Inilah sangat Adipati Wasis Jaya Kusuma 2, putra dari Wasis Jaya kusuma pertama yang juga merupakan guru dari Tirta Jaya Kusuma dan juga luhurnya.
"Sembah bekti Kanjeng Adipati Pragolo!" Kata Tirta Jaya Kusuma sambil membungkukkan badannya yang sedang bersila di lantai pendopo joglo ini seraya menelangkupkan kedua telapak tangannya di depan wajahnya.
Kini Ki Pragolo benar-benar merasakan sebuah perasaan yang berbeda. Dia merasa ini seperti aura dari sang ayah dan juga aura putra-putrinya yang telah bergabung menjadi satu dalam tubuh pemuda ini.
"Siapakah engkau anak muda? Aku seperti mengenalimu. Aura yang terpancar dari tubuhmu benar-benar aku sangat mengenalinya."
"Kekuatan tatapan wajahmu hampir mirip dengan Romo Kanjeng Wasis Joyo Kusumo Sepuh." Kata Adipati Pragolo.
"Maaf Kanjeng Adipati, hamba hanyalah rakyat biasa! Rakyat yang ingin mengabdikan sedikit tenaga hamba kepada Kadipaten ini! Kepada Kanjeng Adipati," kata Tirta jaya Kusuma lirih.
Sementara itu Ki Tumenggung Sawunggaling maupun Tumenggung Mangunjaya dan semua abdi dalem yang ada di tempat ini nampak sangat terkejut.
Mereka tidak menyangka pemuda ini mampu bertatapan mata secara langsung dan mampu bertahan sekian lama dengan tatapan matanya ini.
Sebelumnya tidak ada seorangpun dari para pembantu setia maupun dari para abdi dalem yang mampu menahan tatapan mata dari Sang Adipati Pragolo.
Walaupun hanya beberapa kejap mereka tidak akan mampu menahan tajamnya pandangan sang Adipati yang bagaikan elang menusuk langsung ke jantung mereka.
Dan dengan perkataan dari sang Adipati semua yang hadir di tempat ini segera mengalihkan perhatiannya kepada Tirta Jaya Kusuma.
Maka bukan main terkejutnya mereka ketika diingatkan kembali akan Ki Pragolo Sepuh atau Kanjeng Wasis Joyo Kusumo pertama.
Wajah pemuda yang nampaknya biasa-biasa ini mempunyai aura yang menyerupai Sang Adipati Pragulo Sepuh.
__ADS_1
Wajah itu, tatapan mata itu dan alis yang sangat tebal dari pemuda ini benar-benar telah mengingatkan mereka kepada Adipati pragolo sepuh yang sudah mangkat.