
Ketika kedua tubuh sudah semakin lelah maka keduanya hanya bisa terduduk di tanah tanpa mampu bergerak lagi dan Raden Jayeng Kusumo telah menyerahkan kembali penguasaan gamelan kepada para Nayaka yang asli.
"Ragil, kita harus memperhatikan Raden Jayeng Kusumo ini." Kata Ki Dipo berbisik di telinga Ragil sang penabuh Slentem.
"Dia seorang pemuda yang berbahaya dengan kemampuannya ini," kata Ki Dipo pada penabuh slentem ini.
"Benar Ki Dipo, pemuda ini benar-benar sangat menakutkan."
"Ayolah, turun kemari," seru Raden Jayeng Kusumo melambaikan tangannya kepada Tirta Jaya Kusuma.
Tirta menunjukkan gerakan tangan bahwa dia tidak mau, namun Raden Jayeng Kusumo segera berjalan mendekati sang pemuda dan kemudian telah menarik tangan Tirta untuk turun ke arena tayub.
Mau tidak mau Tirta Jaya Kusuma harus mengikuti pula tarikan dari Raden Jayeng Kusuma.
"Huh, Kakang Jayeng! Jangan bawa kakang Lowo Ijo! Eh Kakang Tirta!" Seru Pandan Arum.
"Sebentar saja Pandan! Kata Raden Jayeng Kusumo sambil tersenyum penuh arti pada adik tercintanya ini.
Dengan gerakan yang sangat kaku, Tirta Jaya Kusuma akhirnya harus menari bersama Raden Jayeng Kusumo di hadapan para penari ledek. Sementara itu banyak para pemuda dan pria-pria tengah baya yang kemudian telah ikut pula menari bersama di bawah iringan gamelan yang merdu mendayu memanjakan telinga-telinga para pria setengah hidung belang ..
Mereka menunjukkan ketertarikannya kepada penari ledek.
"Heh, Pandan!?" Seru sang kakak terkejut.
Sang kakak tahu bahwa Pandan Arum bisa menari dengan baik akan tetapi dia tahu juga bahwa pantang bagi Pandan Arum untuk menari di depan orang lain.
Pandan Arum suka menari ketika tidak ada orang dan Raden jayeng Kusumo lah yang menabuh gamelannya.
"Huh, aku tidak ingin kakang Lowo Ijo terjerumus seperti pria- pria lain dalam pelukan gadis gadis binal ini," Gerutu Pandan Arum pelan tapi bisa didengar oleh Jayeng Kusumo dan juga Tirta Jaya Kusuma.
Walaupun dalam hati sang penari ledek yang paling cantik ini agak kecewa dengan perkembangan acara yang dibawakan ini, akan tetapi dia hanya bisa tersenyum menutupi rasa kecewa di hatinya.
Demikian pula dengan Ki Dipo dan Ki Ragil.
Raden Jayeng Kusumo nampak sekali menikmati tariannya bersama dengan Tirta dan juga sang penari ledek, hingga tanpa terasa hari telah mendekati gelap.
__ADS_1
"Luar biasa!" Ternyata Raden mampu membuat Senopati tangguh seperti Joko Pekik dan pembantu utama dari Tumenggung Jayaraga, tidak berdaya!" Kata Tirta ketika malam itu seusai Maghrib mereka berbincang di Pendopo Katumenggungan.
Raden Jayeng Kusumo nampak tersenyum.
"Aku sudah mempelajari gamelan ini sejak kecil Tirta," jawab Sang Raden.
"Jadi aku memang telah mampu menyatukan jiwaku dengan gamelan- gamelan itu," lanjut sang Raden.
Dan beberapa saat mereka berbincang di pendopo Katumenggungan, Pandan Arum pun telah kembali bergabung bersama mereka setelah dia membersihkan diri di kaputren.
Maka suasana di Pendopo Katumeggungan pun menjadi semakin ramai.
Raden Jayeng Kusumo dan Pandan Arum telah terlibat dalam pembicaraan yang seru dan sekali-kali Lowo Ijo atau Tirta dan juga Bango Putih menyahut di antara mereka.
Mereka seperti sahabat-sahabat yang sudah lama berkenalan mereka merasa sangat cocok.
"Apakah Kakang Jayeng sangat tertarik pada gadis ledek itu?" Tanya Pandan Arum suatu ketika karena terlihat dari pembicaraan mereka memang sang kakak ada rasa tertarik dengan salah seorang dari penari ledek itu.
"Ah biasa saja Pandan, tapi memang gadis itu mempunyai sesuatu yang sangat menarik yang membuat aku penasaran."
"Bagaimana menurut pendapatmu Lowo Ijo? Harusnya engkau yang lebih memahami akan hal ini?" Tanya Raden Jayeng Kusumo kepada Lowo Ijo.
"Aku sendiri kurang begitu memahami akan hal ini Raden, aku hanya tau sedikit tarian dan aku tidak begitu memahami tentang tata gerak tari yang berhubungan dengan olah kanuragan ini." Jawab Tirta Jaya Kusuma.
"Namun demikian ada satu hal yang aku merasa curiga dengan gadis penari tayub ini Raden." Lanjut pemuda ini.
"Memang gerakan-gerakan tarian dari ledek ini agak berbeda dengan kawan-kawannya."
"Langkah-langkahnya selalu tepat dalam menghindarkan diri dari pria-pria yang dengan sengaja mendekatinya sengaja melakukan gerakan yang mungkin akan membuat penari lain pun tak akan dapat menghindar dari sebuah gerakan."
"Namun gadis ini mampu menjaga dirinya untuk tidak dapat tersentuh oleh pria-pria yang berusaha mendekatinya ini." Jawab Lowo Ijo memberikan pandangannya mengenai gadis cantik yang merupakan ledek tercantik di antara para penari tayub yang lainnya.
"Hmm, Itulah Ta.."
"Benar apa yang engkau katakan itu..."
__ADS_1
"Aku juga merasakan hal yang sama," kata Raden Jayeng Kusumo.
Dalam keadaan Kadipaten Pati yang sedang mengalami ketegangan dalam hubungannya dengan Mataram, semua hal harus kita waspadai.
Dan dalam hal ini aku tidak mungkin lepas tangan.
Walaupun aku tidak mempunyai kedudukan apapun di Kadipaten, akan tetapi ayahanda adalah seorang Tumenggung yang sangat dipercaya oleh Adipati Pragolo.
Dan sebagai warga Pati aku sangat mencintai tanah ini. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang membahayakan Tanah ini," lanjut Raden Jayeng Kusumo.
Dan pembicaraan ini pun menjadi semakin serius.
Tirta Jaya Kusuma akhirnya menceritakan juga apa yang menjadi kecurigaan-kecurigaannya selama ini, tentang kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi.
Kini anak - anak muda ini telah menyatakan tekad dan tujuan untuk bergerak.
"Kita tidak bisa berdiam diri saja ketika apa yang kita rasakan dan kita curigai yang kemungkinan akan bisa menjadikan marabahaya untuk Kadipaten ini,"
"Benar Raden Jayeng, sebaiknya kita cari tahu keberadaan dari rombongan penari tayub itu."
***
Hari semakin malam ketika seorang pembantu dari Raden Jayeng Kusumo telah menghadap kepada ketiga anak muda ini di Pendopo Katumenggungan.
Seorang pemuda bertubuh kecil telah menyampaikan kepada sang Raden tentang keberadaan dari para rombongan penari tayub ini.
Ternyata rombongan para penari ini telah menempati sebuah rumah yang berada tidak jauh dari tempat tinggal Tumenggung Jayaraga di daerah Margorejo, di selatan Pati.
"Memang mereka di bawah perlindungan dari Tumenggung Jayaraga," kata pembantu Raden Jayeng Kusumo.
Demikian setelah mendapatkan laporan dari sang pembantu maka kembali Raden Jayeng Kusumo berniat untuk mengawasi rombongan para penari tayub ini.
"Akan sangat berbahaya jika Kakang Jayeng ikut mengamati keberadaan rombongan para penari tayub itu."
"Biarlah aku dan Kakang Lowo Ijo saja ya pergi ke Margorejo untuk melihat dan mencari tahu tentang kecurigaan- kecurigaan kita ini," kata Pandan Arum.
__ADS_1
Dan Raden Jayeng Kusumo pun menyadari akan dirinya.