
Ketika hari semakin siang dan matahari telah setinggi tombak, maka dari arah lereng kendeng telah terlihat puluhan orang telah bergerak ke arah Oro-oro Ombo.
Sementara debu telah berterbangan ketika kuda-kuda telah mulai bergerak melintasi jalan berbatu.
Dan beberapa saat kemudian mereka telah berhenti di pinggiran Oro-oro Ombo.
Jumlah mereka tidak begitu banyak, seperti apa yang telah diceritakan oleh Bango putih maupun para telik sandi yang dikirim untuk mengawasi para begal ini.
Namun kemampuan para begal ini telah diketahui oleh Ki Rangga Jagadenta. Bagaimana kuatnya Jagal Alas Kunduran ketika membuat keributan di Kademangan Pucak Wangi beberapa hari yang lalu.
Umbul umbul dan Panji Panji telah mereka kibarkan.
Mereka seperti pasukan kecil prajurit yang akan menyerang lawan, bukan seperti sekelompok begal dan perampok.
Dan mereka adalah orang-orang yang berpengalaman dalam pertempuran liar dan brutal.
Ketika teriakan dari Jagal Alas Kunduran telah berkumandang, maka sorak sorai para begal ini telah membuat gemuruh dan serentak mereka pun telah berlari memasuki Oro oro Ombo.
Ki Rangga Jagadenta telah memerintahkan pula dengan keris di tangannya dia telah berteriak keras.
"Seraaang!" Teriakan dari ki Rangga Jagadenta telah membakar semangat dari anak-anak muda yang baru pertama kali ini berperang mengadu nyawa.
Tak ayal pertarungan brubuh pun terjadi di tengah Oro oro Ombo.
Peperangan ini seperti peperangan di medan Kurusetra, akan tetapi dalam medan dan jumlah prajurit yang jauh lebih kecil.
Ketika senjata saling beradu dan berdenting dan seketika teriakan-teriakan kesakitan pun telah mulai berkumandang di antara mereka.
"Jangan mundur! Tahan mereka."
"Pertahankan sejengkal tanah ini dengan nyawa kalian! Dengan darah kalian!" Seru Ki Rangga Jagadenta membakar semangat.
Sebelumnya ki Rangga Jagadenta telah memberikan perintah kepada para prajurit muda ini.
"Jangan bertarung sendiri sendiri! Jangan tinggalkan kawan kalian yang sedang menghadapi lawan!"
"Satu lawan kalian harus kalian hadapi bersama-sama, paling tidak tiga orang harus menahan pergerakan seorang lawan!" Kata Ki Rangga Jagadenta.
"Kalian bukanlah lawan yang sepadan jika bertanding satu lawan satu dengan mereka." Lanjut Ki Rangga.
"Baik Ki!" Seru para prajurit muda ini penuh semangat.
Namun dalam perangan yang sesungguhnya ada seribu kesulitan yang dihadapi oleh para prajurit.
Kadang mereka harus terpisah dari kawan-kawan mereka dan bertempur sendiri dan kadang pula ada yang sengaja ingin mengetahui kekuatan lawan yang sebenarnya dan dengan percaya diri yang berlebihan.
Dan hal inilah yang akhirnya membuat dalam sesaat saja banyak prajurit-prajurit muda ini yang telah menjadi korban.
Satu demi satu para prajurit muda dari Kademangan Pucakwangi ini harus menggelepar meregang nyawa, menjadi bebanten dalam mempertahankan tanah yang mereka pijak. Tanah di mana mereka dilahirkan.
Ki Jagadenta yang bertarung di induk pasukan nampaknya mulai mengkhawatirkan keadaan dari prajurit-prajurit muda bentukannya ini.
Sementara pasukan sayap kanan yang dipimpin oleh Lokajaya nampaknya cukup mampu menahan pergerakan dari pasukan sayap kanan lawan.
Loka Jaya benar-benar ingin menunjukkan kemampuan yang sebenarnya kepada Ki Rangga Jagadenta dan juga para prajurit muda dari Kademangan Pucakwangi.
__ADS_1
Tiap kali senjatanya terayun maka tiap kali itu pula lawannya telah menjerit kesakitan ketika tombaknya telah mengguncang tubuh lawan.
Namun suatu ketika seorang pria yang berpakaian seperti seorang prajurit telah datang untuk menghadang sepak terjang dari Lokajaya.
"Hmm, anak muda yang kuat dan tangguh! Tanganmu benar-benar gapah!" Seru pria ini yang ternyata adalah Toh Sidono.
Pria ini dengan pedang di tangannya telah menangkis sebuah tusukan tombak dari loka Jaya yang mengancam dada seorang begal.
Dan.
"Traang ...!"
Benturan antara pedang dan gagang tombak pun terjadi.
Loka Jaya segera merasakan getaran yang cukup kuat di tangan kanannya yang menggenggam tombak.
Sementara pedang di tangan Toh Sidono pun terpental Dan hampir saja pria ini kehilangan pedangnya.
"Luar biasa! Ternyata engkau seorang pemuda yang pilih tanding anak muda!" Seru Toh Sidono.
Terkejut bukan main Loka Jaya ketika dia merasakan getaran yang menjalar sampai ke sikunya.
Dengan menggeram keras Lokajaya telah melompat dan kembali menusukkan tombaknya ke arah pria yang tengah menghadangnya.
Pertarungan antara Loka Jaya dan Toh Sidono pun kemudian berlangsung dengan sengitnya.
Loka Jaya benar-benar ingin menunjukkan kemampuannya yang sesungguhnya sehingga dia telah mengerahkan segenap kemampuannya untuk bisa mengalahkan lawannya ini.
Akan tetapi ternyata Toh Sidono pun adalah seorang yang sangat berpengalaman dalam bertarung.
Namun yang tidak disadari oleh Loka Jaya adalah bahwa anak buahnya bukanlah dirinya dan bukan pula para prajurit-prajurit yang berpengalaman sehingga ketika dia telah berhadapan dengan lawan yang tangguh maka anak buahnya pun menjadi kesulitan dalam menghadapi para begal dari Alas Kunduran.
Sementara itu di sayap kanan dari pasukan pengawal Kademangan Pucakwangi. Ki lurah Sarno dan Ki Lurah Suro telah berpasangan memimpin pasukan di sayap kanan ini.
Sementara di dalam pasukan ini Bayu dan juga Adnan tengah bertarung pula menghadapi lawan-lawannya.
Mereka cukup berpengalaman dalam pertarungan campuh seperti ini.
Namun lawan-lawannya kali ini nampaknya benar-benar lawan-lawan yang tangguh, lawan-lawan yang memang mempunyai kemampuan olah kanuragan dan beberapa diantaranya mempunyai tenaga batin yang cukup mumpuni sehingga mampu menggetarkan hati para prajurit muda.
Ternyata Bayu telah bertemu lawan yang cukup tangguh pula.
Dialah Toh Pati, seorang bekas begal yang kini telah mengabdi kepada seorang pejabat tinggi di Mataram!
Seperti halnya Toh Sidono, Toh Pati pun adalah seorang yang sangat berpengalaman dalam pertempuran dan kali ini dia telah bertemu dengan seorang raksasa gendut.
Walaupun punya tubuh yang besar dan gendut yang terkesan lamban akan tetapi ternyata tiap kali Tohpati bergerak maka tiap kali itu pula Bayu atau Lowo Gemblung mampu menangkis semua serangan dari Toh Pati.
Sedangkan Adnan ternyata telah mendapatkan perlawanan dari beberapa orang sekaligus yang telah mengetahui kemampuan pemuda ini sehingga dia pun kini telah dikurung oleh tiga atau empat orang yang berkemampuan cukup tinggi sehingga memperlambat pergerakannya.
Pertarungan ini nampaknya tidak akan bisa selesai dalam waktu yang singkat.
Sayap-sayap dari kedua pasukan telah bertarung dengan seimbang sementara induk pasukan Kademangan Pucak Wangi nampaknya telah mengalami benturan dan tekanan yang sangat hebat dari para Begal Alas Kunduran.
Seperti pertarungan sebelumnya sewaktu begal Alas Kunduran telah membuat kerusuhan pada pertunjukan tayub yang diadakan Ki Demang, maka kini Ki Rangga Jagadenta pun telah mengalami kesulitan dalam menghadapi sang jagal Alas kunduran ini.
__ADS_1
Dan Ki Jagadenta harus menarik beberapa orang prajurit untuk membantunya.
Dan tiap kali berapa orang prajurit yang membantunya telah terluka maka ada beberapa orang prajurit lagi yang membantu Ki Jagadenta.
Makin lama keadaan ini akan membuat kesulitan bagi induk pasukan yang dipimpin oleh Ki Rangga Jagadenta.
Bagaimanapun para prajurit ini bukanlah tandingan dari Jagal Alas kunduran.
Pada waktu itu dia mampu menahan Jagal Alas kunduran dengan bantuan beberapa orang prajurit yang sudah berpengalaman dan cukup kuat.
Dan kini yang bertarung bersamanya hanyalah prajurit-prajurit muda yang kurang berpengalaman dalam peperangan campuh seperti ini.
Sebenarnya Tirta pun bertarung di dalam induk Ki Rangga Jagadenta.
Namun Tirta jaya Kusuma bersama regunya juga sedang sibuk menahan gempuran-gempuran dari lawan-lawannya.
Tirta belum mengerahkan kemampuan yang sesungguhnya karena dia masih ingin menyembunyikan kemampuannya ini.
Namun ketika keadaan semakin berbahaya bagi induk pasukan.
Maka dia pun telah membuat pergerakan untuk bisa menembus pertahanan lawan yang mulai mampu menyekat pasukan induk ini menjadi beberapa bagian sehingga para prajurit yang masih muda ini kesulitan untuk bisa bertarung secara bersama-sama.
Dengan tombak di tangannya Tirta telah mengayunkan tombak, memutar mutar di sekitar tubuhnya.
Seketika beberapa begal telah terlontar seperti rumput-rumput kering.
Seketika pecah lah sorak-sorai dari anak buah tirta Jaya kusuma.
Mereka sebelumnya tidak mengetahui kemampuan dari pemuda ini sehingga ini adalah sebuah kejutan yang luar biasa.
Mereka menyaksikan bagaimana lawan-lawan dari tirta jaya Kusuma terlontar karena tidak mampu menahan ayunan tombak dari sang pemuda.
Memang sengaja Tirta tidak menggunakan tombak ini untuk menusuk akan tetapi lebih cenderung menggunakannya seperti tongkat sehingga akan mengurangi jumlah korban nyawa.
Dia tidak ingin menghilangkan nyawa orang lain walaupun orang itu adalah para begal dan perampok.
Dan pasukan kecilnya pun telah mengikuti pergerakan Tirta Jaya Kusuma dari belakang.
Ketika kemudian dia telah menemukan Ki Jagadenta yang sedang kesulitan menghadapi Jagal Alas Kunduran.
"Biarlah kami yang menghadapi jagal gila itu Ki Rangga!" Seru Tirta Jaya Kusuma yang tiba-tiba saja telah berdiri di samping Ki Rangga Jagadenta.
Terkejut bukan main ki Rangga ketika tiba-tiba saja seorang pemuda tinggi kurus telah berdiri di sampingnya yang dia segera mengenalnya sebagai pemuda-pemuda asing yang bergabung di dalam pasukannya ini.
Sebenarnya lah ada satu kecurigaan bahwa pemuda-pemuda ini punya kemampuan yang cukup akan tetapi selalu dipendamnya kecurigaan ini dan kini pemuda ini telah berada di sampingnya untuk membantunya.
"Huh bocah gendeng!" Seru Jagal Alas Kunduran yang kemudian telah mengayunkan golok di tangannya ke arah Tirta Jaya Kusuma.
Namun tiba-tiba saja Tirta Jaya Kusuma telah mengayunkan tombaknya, bukan menusuk akan tetapi menggebuk.
Dan kecepatan ayunan ini benar-benar sangat luar biasa.
Ayunan ini bagaikan kilat dan disertai dengan aura menggidikkan yang membuat Jagal Alas kunduran benar-benar terkejut bukan main.
Terpaksa ayunan goloknya telah berubah menjadi tangkisan karena kalah cepat dengan gebukan tombak dari sang pemuda
__ADS_1