Tirta Jayakusuma: Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi

Tirta Jayakusuma: Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi
Mengawal para Utusan ke Kadipaten


__ADS_3

Ketika rombongan ini telah mulai meninggalkan padukuhan Pucak wangi, Tirta yang kebingungan pun terpaksa mengerahkan kekuatannya untuk bisa mengendalikan kuda tunggangannya ini.


Akan tetapi akibatnya sang kuda yang telah terjepit oleh kaki-kaki Tirta yang sangat kuat membuat kuda ini semakin marah.


Seringkali sang kuda harus meringkik keras dan mengangkat kakinya tinggi-tinggi ke udara dan berjingkrak jingkrak!


"Jangan dipaksa seperti itu Kakang!" Seru Pandan Arum.


"Maaf Arum, aku benar-benar belum pernah mengendarai kuda sebelumnya," kata Tirta Jaya Kusuma jujur.


Pandan Arum kemudian telah mendekatkan kudanya sejajar dengan kuda yang dikendarai oleh sang pemuda.


Kuda Tirta sendiri telah berlari cepat mendahului kuda tunggangan dari Bango putih dan keempat kuda yang ditunggangi para utusan dari Mataram.


"Tidak usah di tarik tarik sembarangan tali kekang kudanya kakang!" Seru Pandan Arum berusaha memberi petunjuk kepada pemuda ini.


Pandan Arum kemudian telah berusaha memberikan petunjuk-petunjuk cara mengendali kuda ini kepada Tirta.


Namun nampaknya masih agak sulit juga bagi Tirta untuk bisa menerima petunjuk-petunjuk dari Pandan Arum.


Hingga akhirnya dengan sigap, gadis ini telah melompat ke bagian belakang kuda yang di tunggangi Tirta dan duduk tepat di belakang sang pemuda.


Terkejut pemuda ini.


Pandan Arum kemudian telah mengambil alih kendali dari tangan Tirta jaya Kusuma dengan kedua tangannya yang melingkar di tubuh sang pemuda.


Sekilas, Pandan Arum seperti memeluk tubuh pemuda.


Bau harum tubuh gadis perawan seketika telah meracuni hidung pemuda ini.


Ada perasaan aneh di dadanya ...


Tonjolan kenyal! Tiba tiba Tirta merasa ada bukit yang menindih dan menggelitik punggung nya.


Tonjolan yang seringkali mengganggunya membuat perasaan nya tak menentu apalagi bau harum perawan yang berbeda dari harumnya parfum.


Akan tetapi semua perasaan itu ditekannya kuat-kuat.


Dan Pandan Arum nampaknya tidak ragu dan tidak malu untuk memberikan petunjuknya kepada pemuda ini.


"Jika ingin kuda berlari kencang, kakang harus menepuk pantat kuda ini keras-keras, maka kuda ini akan berlari cepat ke depan.


Jika Kakang ingin menghentikan laju kuda ini maka tariklah kedua tali kekang kuda ini secara bersamaan maka kuda akan berhenti." terang gadis ini sambil terus memegang tali kekang kuda sehingga Tirta pun merasakan gesekan gesekan pipi si gadis di dagunya.


"Jika kakang ingin membelokkan kuda ini ke kiri maka tali ke kanan sebelah kiri lah yang harus Kakang tarik dan begitu pula sebaliknya," terang Pandan Arum.

__ADS_1


Beberapa saat mereka menunggang kuda yang sama ketika kemudian rombongan di belakangnya pun telah menyusul.


Sementara tanpa disadari oleh keduanya, getar-getar perasaan mulai tumbuh di hati mereka.


Bau tubuh laki laki yang khas telah pula meracuni hidung dan hati Pandan Arum.


Tadinya dia hanya ingin membantu pemuda ini.


Akan tetapi tiba-tiba saja perasaan yang aneh telah membuat hatinya berdebar-debar tidak karuan.


Tadinya dia hanya penasaran saja dengan pemuda pendiam ini.


Pemuda yang terkesan cuek dan tidak memperdulikan dirinya.


Dan kini ketika dia merasakan kedekatan, kulit yang bersentuhan dengan kulit dadanya yang ranum bergesekan dengan punggung pemuda ini telah menimbulkan getar-getar yang tidak dapat dipahaminya.


Pemuda ini benar-benar mempunyai daya tarik yang luar biasa.


Tanpa disadari oleh Pandan Arum, dia telah terjerat oleh daya tarik kesatria lelananging Jagat, Tirta jaya Kusuma.


Untuk sesaat dia terlena dengan keadaannya, dan ketika kemudian disadari bahwa bangun putih sudah berada di sampingnya demikian juga dengan para utusan itu yang hanya berjarak beberapa jengkal saja di belakang maka pandanarum kemudian telah melompat dengan lincahnya kembali ke atas punggung kuda yang semula ditungganginya.


"Hap..!"


Gadis ini telah kembali di atas kuda dan kemudian telah menepuk pelan pantat kuda sehingga kuda ini telah kembali berjalan berjajar dengan Tirtajaya Kusuma.


"Sesaat lagi kita akan sampai di dukuh Triguno!" Seru Pandan Arum memberitahukan kepada rombongan ini.


"Berapa jauh lagi jaraknya untuk kita sampai di Kadipaten Den Ayu?" Tanya Bango Putih.


"Kalo kita memacu kuda-kuda ini maka sebelum matahari terbenam kita sudah akan memasuki regol kota Kadipaten sebelum matahari tenggelam kang Bango putih."


"Akan tetapi jika kita berjalan dengan santai maka kita akan sampai di Kadipaten ketika hari sudah menjelang malam," kata Pandan Arum.


Dan beberapa saat setelah melewati hutan dan padukuhan-padukan kecil mereka kemudian telah sampai di padukuhan yang agak besar.


"Kita akan memasuki padukuhan  Winong!"  Kata Pandan Arum.


Dan benar saja, mereka pun dapat melihat di kejauhan rumah-rumah warga yang terlihat cukup banyak.


Dan beberapa saat mereka kemudian telah sampai di regol padukuhan Winong ini.


Seperti halnya di Pucakwangi, kini mereka pun telah dihadang oleh beberapa pengawal padukuhan yang nampaknya juga telah bersiap siaga.


Beberapa pemuda kekar telah menghadang perjalanan mereka.

__ADS_1


"Berhenti!" Seru Seorang pemuda menghentikan laju kuda kuda ini.


Serempak rombongan ni putra menghentikan laju kuda-kuda mereka.


"Siapa kalian?" Tanya seorang pemuda dengan memasang wajah garang .


Kali ini Bango Putih lah yang kemudian.


Kami adalah orang-orang dari Pucakwangi. Kami sedang dalam perjalanan menuju kabupaten Pati!" Kata bang putih.


Dengan menyebutkan bahwa dia adalah orang dari puncak Wangi maka diharapkannya bahwa para pengawal pasukan ini tidak akan curiga kepada mereka.


Akan tetapi nampaknya pemuda kekar ini tidak begitu saja percaya keterangan dari Bango putih.


Dia masih bercuriga dengan rombongan orang-orang berkuda ini.


"Hmm! Turunlah kalian dari kuda-kuda kalian! Aku tidak suka kalian berbicara denganku dengan tetap berada di atas punggung punggung kuda kalian!" Kata Penjaga Regol ini.


Mendapatkan jawaban yang nampaknya sangat mencurigai mereka ini, perkataan dari para penjaga regol.


"Heh! Kami benar benar adalah orang-orang dari Kademangan pucak wangi! Kami juga adalah prajurit Kadipaten Pati!" Kata Pandan Arum berusaha untuk bersabar menghadapi para penjaga Regol dukuh Winong ini.


"Hmm, bisa saja kalian mata-mata dari Mataram! Atau mungkin kalian berasal dari Madiun dan ditugaskan untuk memata-matai wilayah kami!" Kata pengawal dukuh Winong.


"Jika kalian tidak percaya, panggilah Ki Lurah prajurit kalian kemari!" Kata Pandan Arum lagi.


"Tidak perlu kami memanggil Ki Lurah! Cukup aku yang memeriksa kalian!" Kata pemimpin para penjaga regol ini.


Sebenarnya lah si pemimpin dari para penjaga regol ini sangat tertarik dengan keberadaan gadis cantik yang ada di antara para penunggang kuda ini.


Dan dia ingin menunjukkan kekuasaannya bahwa dialah yang berkuasa di antara para pemuda yang berjaga di regol padukuhan.


Akan tetapi dia telah salah.


Gadis cantik ini adalah Putri Ki Tumenggung Sawunggaling dari Kadipaten Pati.


Seorang Tumenggung yang sangat dipercayai oleh Adipati pragolo. Salah satu dari enam Tumenggung yang sangat di andalkan oleh sang Adipati.


Dan kini naiklah darah gadis ini. Selama hidupnya dia sangat dihargai warga di daerah Pati dan  belum ada seorang pun yang berani berkata demikian sombongnya di hadapannya.


"Hmm, engkau ini siapakah berani beraninya mencurigai aku! Putri dari Tumenggung Sawunggaling!" Seru Pandan Arum yang merasa bahwa pemuda ini nampaknya sangat keterlaluan sikapnya.


"Huh, siapa percaya kalau putri Ki Tumenggung keluyuran tak karuan! Tidak mungkin putri seorang Tumenggung sampai kesasar sampai kemari dengan pengawalan orang orang lusuh  ini!" Kata Sang penjaga Regol.


"Turun kalian dari kuda-kuda kalian!" Lanjut pemuda ini lagi.

__ADS_1


"Nampaknya mulutmu itu harus ditampar, supaya engkau sadar siapa dirimu dan apa kedudukan mu disini!" Seru Pandan Arum yang telah memuncak kemarahannya.


__ADS_2