Tirta Jayakusuma: Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi

Tirta Jayakusuma: Sak Dumuk Batuk Sak Nyari Bumi
Sang Senopati Muda


__ADS_3

"Aku sudah pernah bertemu dengan pemuda itu Raden."


"Pemuda itu lah yang mengajak rombongan penari tayub itu menuju ke kota Kadipaten ini." terang Tirta Jaya Kusuma.


"Pemuda itu pula yang pernah bentrok dengan Jagal  Alas Kunduran di acara pernikahan anak Ki Demang Pucakwangi," lanjut Tirta Jaya Kusuma.


"Dari gelagatnya anak dari Tumenggung Jayaraga nampaknya sangat tertarik dengan penari tayub itu ya Ta," Kata Raden Jayeng Kusumo lagi.


"Entahlah Raden, aku tidak tahu akan tetapi nampaknya memang demikian."


"Heh.. lihatlah itu kakang Jayeng!" Seru Pandan Arum.


Ya nampaknya ada seorang pemuda lagi yang terlihat berpakaian mentereng nampaknya dia juga seorang yang mempunyai asal-usul cukup tinggi.


"Oh, pemuda itu  adalah seorang putra dari Ki Mantingan dan dia adalah salah seorang Senopati yang cukup menonjol diantara Senopati-Senopati muda di kadipaten ini," terang Raden Jayeng Kusumo yang nampaknya cukup mengenal orang-orang di lingkungan Kadipaten Pati Pesantenan.


"Dia bernama Joko pekik!," lanjut Raden Jayeng Kusumo.


Dan segera saja Joko Pekik telah menari bersama dengan Raden Rangga di depan penari tayub yang sangat cantik itu.


Kini  Raden Rangga telah mendapatkan saingan untuk mendapatkan sampur dari Sang penari tayub.


Terlihat wajah ketidaksenangan dari Raden Rangga.


Namun nampaknya dirinya pun harus lebih berhati-hati karena dia pun telah mengenal siapakah sebenarnya Joko Pekik ini.


Dan tidak hanya berhenti disitu saja, ternyata ada seorang pria lainnya yang kemudian telah bergabung bersama dengan kedua pemuda ini memperebutkan sampur dari sang penari.


"Nampaknya akan ramai Ta," kata Raden Jayeng Kusumo.


"Bagaimana kalau engkau turun juga untuk ikut menari Tirta!?" Saran Raden Jayeng Kusumo.


"Aku akan berdiri di belakangmu jika terjadi apa-apa, maka aku bisa mengatakan bahwa engkau adalah adikku!" Kata Raden Jayeng Kusumo.


"Ah, jangan Raden... Aku tidak terbiasa menari," ucap pemuda ini.


"Huh, kalian para lelaki ini bisanya hanya melihat yang bening bening saja!" Kata Pandan Arum yang nampaknya tidak suka dengan usulan dari sang kakak.


"Aku ingin melihat bagaimana reaksi mereka jika tidak terjun di arena!"

__ADS_1


"Aku yakin dengan kemampuan yang dipunyai Tirta maka dia akan mampu mengimbangi kedua pemuda itu, terutama aku ingin melihat bagaimana Raden Rangga dipermalukan di depan sekian banyak orang, supaya dia sadar bahwa banyak pemuda yang melebihi dirinya banyak pemuda yang hebat yang tidak harus memamerkan kekuatan dan kemampuannya secara berlebihan," kata Raden Jayeng Kusumo.


Ya bagi masyarakat pada zaman itu, pertunjukan tari tayub pasti akan menimbulkan pertarungan di antara para pria yang merebutkan para penari.


Walau Sang penari telah menentukan siapa yang memenangkan hatinya akan tetapi sering kali orang-orang yang punya kedudukan dan jabatan tinggi tidak menerima jika mereka tidak mendapatkan sang penari.


Dan hal itu merupakan sebuah kewajaran dalam sebuah pertunjukan tari tayub.


"Ayolah Tirta," rayu Raden Jayeng Kusumo.


"Kenapa tidak engkau sendiri saja yang terjun di arena tarian itu kakang jayeng? Kata Pandan Arum yang nampaknya benar-benar tidak suka dengan usulan kakak nya ini.


"Ah kau tau sendirilah Pandan, aku tidak bisa olah kanuragan, aku pasti akan jadi bulan bulanan mereka!' Kata Raden Jayeng Kusumo nyengir.


"Huh, ayah kan juga sudah mengajarimu untuk berlatih olah kanuragan tapi Kakang malah sering menghindar dan lebih senang belajar sebagai penabuh gamelan?" Kata Pandan Arum.


Sebenarnya lah dalam hati Raden Jayeng Kusumo telah ada sedikit kecurigaan terhadap rombongan penari tayub ini.


Sehingga dia dengan sedikit agak memaksa supaya kita mau menerjunkan dirinya ke arena para penari ini.


Dia tahu dari cerita sang adik bahwa pemuda ini mempunyai kanuragan yang cukup hebat.


Sementara itu beberapa orang yang sedang menari mengitari para penari yang lain nampaknya juga sudah mulai terpancing amarah nya ketika sebuah selendang merah  telah dikalungkan di leher seorang pria yang sedang menari bersama dengan seorang penari tayub yang berpakaian warna merah pula.


Gadis ini nampaknya sengaja menari dengan bersemangat dengan tatapan matanya yang seakan-akan menarik bagi pria-pria yang mengelilinginya untuk bisa mendapatkan dirinya.


Dia telah menanggapi semua para pria ini, sehingga ketika dia telah memberikan selendangnya dan dikalungkannya ke leher seorang pria maka pria-pria yang lainnya nampaknya terpancing dengan kemarahan.


Dua orang segera terpancing dan saling baku hantam.


Namun sikap para prajurit yang ada di tempat itu untuk menjaga jalannya pertunjukan tayub ini segera memisahkan orang-orang yang saling baku hantam ini.


Sementara itu Raden Rangga dan Senopati muda Joko Pekik, telah mulai bergesekan.


Sebenarnya lah Raden Rangga ini tahu bahwa pemuda yang ada di depannya dan merupakan saingannya untuk mendapatkan sang penari tayub adalah seorang Senopati muda yang cukup disegani di antara prajurit-prajurit di Kadipaten Pati.


Akan tetapi Raden Rangga pun merasa bahwa dirinyalah putra dari gitu manggung jayaraga yang sangat dihormati dan disegani di Kadipaten Pati.


Dan kemungkinan besar dirinya pun nantinya akan mendapatkan jabatan sebagai seorang Tumenggung di kadipaten ini.

__ADS_1


Beberapa kali tanpa sengaja terjadi benturan dua tangan yang sedang bergerak menari.


Dan ketika kemudian gerakan tarian yang lembut kemudian telah berubah menjadi kuat dan kasar maka benturan kekerasan pun tak dapat dihindarkan lagi.


Mereka masih menari, tapi menari dengan kaku karena tangan-tangan mereka telah mulai dialiri oleh tenaga yang sangat kuat.


Mereka saling Serang dengan gerakan tarian sehingga gerakan mereka terlihat aneh dan lucu!


Sorakan dari para penonton pun nampaknya telah membuat keduanya semakin gerah!


"Hmm, Raden Rangga! Jangan harap kali aku akan mengalah kepadamu."


"Jika aku biarkan engkau selama ini bukan berarti aku takut kepadamu! Aku hanya menghargai Tumenggung Jayaraga!"


"Tapi kali ini untuk gadis ini aku tidak bisa mengalah lagi!" Seru Joko Pekik sambil mempersiapkan dirinya dan berdiri dengan Kokoh dihadapan Raden Rangga.


Seringkali memang Senopati muda ini mengalah dalam perebutan seorang gadis penari tayub jika bertemu dengan Raden Rangga.


Namun nampaknya kali ini Joko Pekik sudah tidak mau mengalah lagi.


Jabatan nya yang sudah lumayan tinggi di keprajuritan Kadipaten Pati membuat Joko Pekik pun seperti anak elang yang mulai tumbuh sayapnya.


Jiwa mudanya kali ini benar-benar sudah terungkap keluar.


"Huh, jangan gila kamu Joko Pekik! Seru Raden Rangga geram.


"Aku bisa meminta Romo untuk melengserkan jabatanmu itu!" Ancam Raden Ronggo.


"Hmm, di sini tidak ada hubungannya dengan ayahmu itu Raden!"


"Jika engkau mampu marah bertarunglah secara jantan jangan mengandalkan orang tuamu," kata sang Senopati muda.


Sebenarnya Joko Pekik bukan seorang pemuda yang bodoh yang begitu saja berani melawan seorang Tumenggung.


Akan tetapi dia tahu dalam posisinya sekarang ini dia berada di bawah naungan Tumenggung Ranamanggala yang juga sangat disegani di lingkup Kadipaten Pati Pesantenan ini.


Apalagi sebentar lagi pasti akan terjadi ontran-ontran besar di Kadipaten Pati dalam hubungannya dengan Mataram.


Dan tidaklah mungkin dirinya yang merupakan seorang Senopati andalan di bawah katumenggungan Ki Ranamanggala akan mendapatkan hukuman karena berani terhadap anak seorang Tumenggung besar dan berkuasa seperti Tumenggung Jayaraga.

__ADS_1


__ADS_2