
Suara yang menggetarkan ini kemudian dibalas oleh sorak sorai dari para prajurit muda dari Kademangan Pucakwangi yang tak kalah gaharnya!
Maka di pagi yang sangat cerah ini dua pasukan kembali bertemu.
Ketika kemudian dua pasukan telah mulai saling Serang maka induk pasukan telah saling bertemu dengan induk pasukan dan sayap-sayapnya yang bagaikan sayap burung garuda telah saling hantam saling terjang.
Keduanya menggunakan gelar perang Garuda Nglayang!
Belum lama peperangan berlangsung tiba-tiba terdengar sore-sorai dari sayap-sayap yang berasal dari sayap-sayap pasukan para begal.
Ternyata mereka adalah pasukan berkuda yang masih tersisa dari para begal.
Sebagian kuda yang telah mati kini telah tergantikan oleh kuda-kuda hasil rampasan milik dari Ki Karto.
"Ternyata mereka telah merubah siasat Anakmas! Seru di Rangga jaga Denta yang bertarung di sebelah tirtaja Kusuma.
Tirta yang tidak mendapatkan lawan sepadan telah bertarung menggunakan tombak dan mengayunkannya berputar di sekitar tubuhnya sementara Ki Rangga jagadenta dengan kerisnya bertarung bagai alap alap besar menerkam lawan.
"Benar Ki Rangga! Akan tetapi jangan khawatir di sana ada Bayu dan Adnan! Mereka akan mampu menghadapi pasukan berkuda itu." kata Lowo Idjo.
"Dan di sayap kiri ada Lokajaya, pemuda itu pun pasti akan mampu menghadapi pasukan berkuda." Seru Tirta Jaya Kusuma.
"Benar anak mas semoga saja mereka mampu menahan gempuran-gempuran pasukan berkuda itu."
Dan sesaat kemudian apa yang disampaikan oleh tirtaja Kusuma memang benarlah adanya.
Sayap kanan yang kini dikomandoi oleh Bayu dan juga Adnan telah melihat kedatangan beberapa ekor kuda yang langsung menerjang ke tengah-tengah sayap yang dipimpin oleh Bayu.
"Bay! Engkau bereskanlah kuda-kuda itu aku akan menghadapi Tohpati!" Seru Adnan yang kemudian telah berdiri di depan Bayu dan berhadapan dengan pria yang bernama Tohpati yang telah dibantu dengan beberapa orang anak buahnya untuk menghadapi Bayu.
Bayu hanya tersenyum.
Memang kekuatan Bayu secara alami memang lebih kuat daripada Adnan.
Jika hanya membereskan beberapa ekor kuda ini pasti Bayu akan mampu melakukannya.
Kini Adnan pun telah berdiri di hadapan Tohpati.
__ADS_1
Berbeda dengan Bayu yang mempunyai gerakan agak lamban, kini yang dihadapi oleh Tohpati adalah Adnan yang mempunyai kecepatan dan tubuh yang ringan serta kemampuan yang hampir berimbang dengan Bayu.
Ada kalanya seseorang lebih cocok menghadapi sang lawan dan ada kalanya seseorang harus menghadapi kelemahan di tangan orang lain akan tetapi dia akan mampu berbuat lebih jika menghadapi orang lain lagi.
Dan kini setelah bertarung beberapa saat dengan Tohpati maka, mantan begal yang kini telah mengabdikan dirinya kepada seorang pembesar di Mataram pun harus merasakan bahwa Adnan bahkan lebih sulit untuk dihadapi dibandingkan dengan Bayu.
Kecepatan Adnan dan juga ajian Bayu bajra yang ada di tangannya telah membuat toh Pati berkali-kali harus menghindarkan dirinya dari sambaran-sambaran tangan kanan Adnan yang mengandung kekuatan angin ****** beliung yang disertai dengan kilatan-kilatan petir!
"Gila! Bocah edan dari mana lagi ini! Begitu banyak pemuda-pemuda sakti di antara pasukan ini!" Desis Tohpati yang kini telah terdesak.
Terpaksa dia bertarung berpindah-pindah tempat untuk menghindarkan diri dari sambaran-sambaran tombak di tangan pemuda yang menjadi lawannya ini.
Sementara itu Bayu telah mulai menghadang kuda-kuda yang mulai beringas terjun ke medan perang.
Ketika kemudian sebuah kuda telah berada tepat di hadapannya Bayu telah melakukan ukuran dengan kekuatan penuh di tangan kanannya.
Kekuatan yang bersumber dari ajian suryodahono yang merupakan ajian andalannya walaupun dalam tataran yang masih permulaan akan tetapi sangatlah ampuh dan cukup kuat untuk bisa membunuh seekor kuda sekalipun dengan sekali pukulan.
Dan ...
"Duaar..!"
Seketika seekor kuda telah meringkik keras dan kemudian jatuh menggelepar dan mati seketika.
Sementara penunggangnya pun segera melontarkan dirinya.
Dan Bayu yang melihat hal ini pun tiba-tiba telah bergerak ke samping memapak sang penunggang kuda dengan sebuah tendangan.
Walaupun tidak sangat cepat akan tetapi tendangan Bayu cukup membuat begal yang tadinya menunggangi kuda ini gelagapan karena dia telah terkejut karena kehilangan sang kuda.
Begal ini berusaha membacok ke arah Bayu yang telah melakukan tendangan.
Namun golok besar di tangan kanannya tiba-tiba telah tertangkap oleh tangan besar dari Bayu dan kemudian telah ditarik dengan keras sehingga kini dia telah terdorong ke depan
Dan..
"Syuut..!"
__ADS_1
"Desss..!"
Kaki kanan baju yang sebesar batang kelapa ini telah menghantam telak lambung dari sang begal.
Pria ini pun seketika berteriak ngeri dan kemudian jatuh beberapa tombak di belakang dan ternyata dia telah jatuh di dekat berapa orang prajurit dari Kademangan Pucakwangi.
Tanpa ampun berapa orang segera mengayunkan tubuh begal yang sudah tidak berdaya ini.
Tak ada perlawanan dan tak ada yang mampu menyelamatkan begal ini dari kematian.
Seketika tombak dan golok telat bersarang di tubuhnya.
Tubuhnya menjadi seperti daging cincang luka arang keranjang!
Bayu hanya bisa menyaksikan dengan sebuah tarikan nafas panjang.
Inilah sebuah pembalasan dendam di dalam peperangan. Kekejamannya sungguh tiada tara. Baik bagi orang-orang yang merasa benar yang merasa diinjak dan disakiti sekalipun.
Pemuda-pemuda yang tadinya adalah pemuda-pemuda yang penuh toleransi penuh welas asih kini telah berubah menjadi beringas
Pemuda-pemuda yang tadinya sangat takut dengan darah sangat takut melukai orang lain kini telah menjadi pembunuh pembunuh yang sangat menakutkan dan tanpa perikemanusiaan.
Inilah perang yang akan mengubah tiap individu menjadi manusia manusia ganas dan beringas.
Sejenak Bayu tertegun, dan ketika kemudian di samping kirinya terlihat kembali seekor kuda telah mengamuk dan menimbulkan korban di pihaknya maka dia pun kembali menghadang pergerakan dari kuda tersebut.
Tubuh Bayu yang besar dan kuat hampir sebesar seekor kuda nil telah menyibak diantara orang-orang yang tengah bertarung untuk bisa mendekati kuda yang tengah mengamuk ini.
Dan kembali sebuah pukulan telah dilayangkan ke arah kepala kuda yang sedang bergerak ke sana kemari mengikuti perintah sang penunggang.
Sebenarnya lah kuda bukanlah makhluk yang bersalah, namun ibaratnya para prajurit yang tidak mengerti apapun yang terpaksa harus mempertaruhkan nyawa mereka karena perintah atasan mau tidak mau, mereka pun seperti kerbau yang dicocok hidungnya.
Harus mengikuti perintah dari atasan maupun penunggangnya.
Baik disadari maupun tidak.
Para pengendali kebijakan yang ada di hadapan mereka maupun para pengendali yang ada di balik layar.
__ADS_1
Dan semua pertumpahan darah adalah ulah dari pemangku kebijakan yang hanya dikuasai oleh nafsu angkara, nafsu yang tidak ada habisnya, nafsu untuk menguasai dunia.....