
Bayu yang telah kehilangan lawannya kemudian telah mencari sasaran yang lain.
Ketika kemudian dilihatnya seekor kuda dengan seorang penunggang yang cukup hebat telah berputar-putar mengacaukan barisannya. Pedang di tangan kanan dan kiri menyambar-nyambar ke arah para prajurit muda yang tengah bertarung sementara tangan kirinya yang juga menggenggam pedang sesekali menarik tali kekang sang kuda.
Dengan gagah berani Bayu telah berjalan lurus menuju ke arah kuda yang tengah mengamuk tersebut dengan penunggangnya yang bersenjata pedang di tangan kanan dan kiri
Penunggang kuda ini cukup lincah, karena tanpa berpegangan pada tali kekang dia mampu bertahan di atas kuda yang sedang bergerak.
Ketika Bayu sudah berada di samping sang kuda dan bersiap untuk melakukan pukulan ternyata sang penunggang kuda pun telah bersiap pula dengan ayunan pedang yang sangat deras menuju ke arah leher Bayu.
Sigap, Bayu telah memiringkan kepalanya menghindari tebasan pedang yang sangat cepat dan menimbulkan aura mengerikan.
Bayu segera sadar pada lawannya kali ini cukup tangguh untuk dia bisa segera menyarangkan Aji Bayu bajra di kepala sang kuda.
Beberapa kali sambaran pedang dari penunggang ini telah membuat Bayu mundur beberapa jengkal.
Namun dalam satu kesempatan, Bayu telah berhasil menangkap pedang di tangan penunggang kuda dan kemudian telah menariknya sehingga dengan kekuatan yang luar biasa sang penunggang kuda pun telah terbawa oleh tarikan yang sangat kuat ini dan mau tidak mau dia telah melepaskan genggamannya dari gagang pedang.
Dan pada saat itu pula lah Bayu telah membalikan pedang .
"Dan craak!"
Sebuah ayunan pedang yang sangat cepat dan kuat telah membabat ke arah leher kuda.
Tanpa ampun..!
Kuda pun telah meringkik keras dan kuda pun telah jatuh menggelepar ketika sebuah luka yang sangat dalam telah menggores leher sang kuda yang hampir saja memotong kepala kuda.
Kejadian yang hanya beberapa kejap ini telah membuat sang penunggang kuda pun tidak mampu berbuat apapun.
Dia hanya mematung memandangi kudanya sementara tiba-tiba beberapa orang prajurit muda Pucakwangi telah datang dan mengeroyok sang penunggang kuda.
Kembali Bayu telah berhasil membunuh seekor kuda dan dia kembali mencari kuda-kuda yang lainnya yang telah merusak barisan pasukan Kademangan Pucakwangi di sayap kanan.
Sementara itu di sayap sebelah kiri dari pasukan Kademangan Pucakwangi yang dipimpin oleh Loka Jaya.
"Jangan Mundur! Hadapi para penunggang kuda itu!" Seru Lokajaya yang menjadi marah karena pemuda-pemuda yang di pimpinnya ini menjadi kacau karena terjangan beberapa ekor kuda yang menyerang ke arah mereka.
Sementara Lokajaya pun harus bertarung berhadapan dengan Tohsidono yang bertarung berloncatan untuk bisa menghindari setiap serangan dari anak muda beringas di hadapannya.
__ADS_1
Walaupun kekuatan dari Lokajaya sangatlah hebat dan nampaknya lebih unggul dan lebih kuat dibandingkan dengan Tohsidono akan tetapi mantan begal ini bukanlah seorang pemuda kemarin sore.
Dia adalah seorang mantan begal yang sangat berpengalaman dan kini telah bergabung dengan pasukan yang ada di Mataram.
Pengalamannya ini mampu menutupi kekurangannya dalam hal kekuatan Ketika melawan orang-orang tangguh seperti Loka Jaya.
"Ha ha ha.. sebentar lagi pasukanmu akan hancur anak muda!" Seru Tohsidono berusaha mengacaukan perhatian dari Lokajaya.
"Tak akan aku biarkan hal itu terjadi Tohsidono!" Seru Lokajaya.
"He he he lihat saja! Engkau hanyalah seorang bocah ingusan yang sombong! Yang akan menerima kematianmu di tanganku!" Kembali Tohsidono berusaha memanaskan hati Lokajaya.
Dan benar saja nampaknya Lokajaya pun tidak bisa menguasai dirinya sehingga dia telah mati-matian berusaha untuk bisa segera menghabisi lawannya ini.
Dan memang inilah yang dikehendaki oleh Tohsidono.
Dengan demikian perhatian dari Lokajaya hanya tertuju kepadanya dan tidak tertuju kepada para prajurit yang dipimpinnya.
Dan apa yang telah direncanakan oleh Tohsidono pun segera terjadi.
Terjangan kuda-kuda di sayap sebelah kiri ini telah membuat beberapa orang prajurit seketika meregang nyawa.
Kuda-kuda ini telah berputar-putar dan mengobrak-abrik sayap kiri dari pasukan Kademangan Pucakwangi.
Pedang-pedang mereka mengayun ke kanan dan ke kiri menimbulkan banyak korban di antara para pemuda dari Kademangan Pucakwangi.
Dan ketika Ki Rangga Jagadenta menyaksikan akan kekalutan yang terjadi di sayap kiri pasukannya maka dia pun telah berseru kepada Ki Suro dan Ki Sarno, dua orang Lurah prajurit yang baru saja diangkatnya untuk memberikan bantuan di sayap kiri.
"Suro! Sarno! Lihat apa yang terjadi di sayap kiri, nampaknya terjadi kekacauan di sana!" Seru Ki Rangga Jagadenta.
Kedua lurah prajurit ini pun segera menyibak orang-orang yang sedang bertarung dan kemudian menuju ke arah sayap kiri.
Dia segera menyaksikan bagaimana para prajurit di tempat ini ternyata telah menjadi kacau karena pergerakan dari kuda-kuda dari para begal.
Para pegal ini bertarung dengan berteriak-teriak membuat gaduh dengan umpatan umpatan kasar yang membuat para prajurit muda ini pun menjadi tergetar nyalinya.
Dengan kedatangan dua orang Lurah prajurit yang cukup berpengalaman ini maka sayap kiri dari pasukan Kademangan Pucakwangi sedikit tertolong.
Namun tetap saja untuk memperbaiki keadaan tidaklah mudah.
__ADS_1
Kedua orang Lurah prajurit ini harus bekerja mati-matian untuk menyongsong dan menahan pergerakan dari pasukan berkuda dari para begal.
Sementara itu ketika hari semakin siang, Ki Rajeg Wesi yang berdiri di atas sebuah batu besar untuk mengawasi jalannya peperangan nampaknya sudah semakin tidak sabar.
"Siapakah para pemuda itu sehingga mampu menghadapi murid-muridku?" Batin Ki Rajeg Wesi.
Sebenarnya lah orang tua ini tidak ingin terjun dalam peperangan ini.
Akan tetapi menyaksikan bagaimana murid-muridnya mengalami kesulitan di medan perang, Ki Rajeg Wesi pun menjadi tidak bisa tenang.
Orang tua ini tiba-tiba telah memutuskan untuk turun tangan sendiri.
"Peperangan ini harus segera bisa diselesaikan secepatnya untuk menghindari bantuan yang mungkin akan datang dari Kadipaten Pati," batin Ki Rajeg Wasi.
Setelah memutuskan demikian, orang tua ini pun tiba-tiba seperti melayang di atas alang-alang yang setinggi pinggang di oro-oro Ombo ini.
Dan tujuan pertamanya adalah pasukan induk lawan yang dipimpin oleh pemuda tinggi kurus bersenjatakan tombak yang digunakan seperti tongkat.
Walaupun pemuda ini tidaklah ganas akan tetapi banyak sekali para begal yang telah terjatuh dan terluka karena sambaran tombaknya ini dan kemudian tidak lagi mampu melakukan perlawanan.
Dan tanpa ragu Ki Rajeg Wesi telah menggunakan keris yang cukup besar dan panjang.
Sebuah keris pusaka yang memancarkan aura kegelapan.
Keris luk tujuh dengan pamor Naga Idjo yang selalu dipegangnya di tangan kanan untuk menyerang prajurit prajurit lawan yang ada dihadapannya.
Sekali sambaran keris telah menimbulkan suara bergemuruh dengan disertai sambaran angin yang cukup menggetarkan telah membuat beberapa orang prajurit muda dari Kademangan pucak wangi pun seketika telah terlontar dan tersibak ke sana kemari.
Bahkan beberapa diantaranya langsung meregang nyawa begitu tersambar oleh keris Naga Idjo ini.
Perbawa dari keris di tangan Ki Rajeg Wesi benar-benar membuat para prajurit Kademangan menjadi ketakutan.
Belum pernah mereka menyaksikan seorang tokoh sakti yang demikian menakutkannya.
Beberapa kali bergerak maka beberapa orang sekaligus dari para prajurit ini pun telah terlempar dan jatuh tanpa mampu bangkit kembali.
Ki Rangga Jagadenta yang sedang tidak menghadapi lawan-lawan berat segera mengenali tokoh sakti yang kini telah turun membantu para begal.
Sigap dia pun telah menghadang pergerakan dari Ki Rajeg Wesi.
__ADS_1
"Hmm, ternyata ada orang sakti yang ada di balik para begal dan perampok ini!" Seru Ki Rangga Jagadenta begitu dia telah berhadapan dengan Ki Rajeg Wesi.
"Seharusnya orang tua seperti engkau haruslah memimpin sebuah padepokan dan mengajarkan kebaikan kepada para santri bukan malah membuat keonaran di luar!" Seru Ki Rangga Jagadenta